Dua hari berlalu kini Aksa dan keluarga kecilnya pergi berlibur ke Paris seperti yang sudah di rencankan. Sebenarnya Aksa akan membatalkan karena ada masalah ini tapi Irene coba meyakinkan kalau berita yang beredar itu tidak benar.
Karena kejadian itu Aksa menjadi lebih perhatian dan dekat dengan Yeji anak angkatnya, di banding dengan Kirana yang anak kandungnya. Kirana tidak menyangka hal ini akan terjadi kepadanya.
Meskipun ada mamanya tapi Kirana tetap merasa kesal dan ia menjadi sedikit tertutup.
"Kenapa sih sayang mukanya di tekuk gitu" tanya Irene
"eh- gapapa ko ma, Ana cuma lagi cape aja" sebenarnya Irene tau penyebab Kirana seperti ini.
"Pah, gandeng ni satu lagi anaknya mama mau beli barang dulu, kalian duluan aja ke apart takutnya mama lama" Irene beralasan.
Dengan senyum yang mengembanag Kirana pun sedikit berlari menuju ke Aksa dan Yeji yang lumayan jauh di depan. Saat Kirana ingin menggenggam tangan Aksa, Aksa tiba tiba memasukan tangannya ke dalam saku celana dan melanjutkan mengobrol dengan Yeji.
"Kamu mau hadiah apa lagi sayang, hm? Papa pasti belikan untuk kamu karena udah bikin papa bangga" tanya Aksa kepada Yeji.
"Gausah pah liburan ini aja udah lebih dari cukup kok buat aku, lagian kan emang udah seharusnya aku buat belajar dengan baik, bikin orang tua bangga dan Yeji juga jujur karena selalu papa ingetin" jawab Yeji
"Aduh makasi ya sayang udah dengerin dan selalu inget perintah papa, kalo ada apa apa bilang sama papa ya" ujar Aksa sembari mencium puncuk kepala Yeji.
Kirana yang keberadaannya tidak di anggap mendengar percakapan tadi sedang menahan sesaknya, Irene yang mengikuti mereka diam diam ingin menghampiri tapi ia urungkan karena jika ia menghampiri Kirana itu akan membuat pertahanan Kirana untuk tidak menangis runtuh.
Sepuluh menit berlalu mereka sampai di apartemen dan di susul oleh Irene.
"Akhirnya nyampe juga ya pah" ujar Yeji
"Yaudah gih istirahat udah malem jangan lupa bersih bersih ya sayang!" Perintah Aksa.
Mereka pun masuk ke kamar yang tersedia di apart itu. Aksa dengan Irene tentunya dan Kirana dengan Yeji.
Pukul 21.00 Aksa, Irene, dan Yeji sudah tertidur sementara Kirana memutuskan keluar dan ingin mencari udara segar karena pikirannya yang mumat, masing masing mereka memiliki kartu akses masuk jadi tidak susah untuk keluar masuk apart
Kirana berjalan di malam hari dan berhenti untuk duduk di kursi yang tersedia di sebuah tempat yang tidak terlalu ramai dengan pemandangan menara Eiffel. Pertahanan yang ia tahan sedari tadi akhirnya runtuh ia menangis dan menunduk agar tidak ada orang yang melihatnya.
Tiba- tiba ada seorang pria yang memberi sebuah kain kecil kepada Kirana. Pria itu pun menyamakan tingginya dengan Kirana agar bisa lebih nyaman.
Kirana mendongkak dan langsung menghapus sisa jejak air matanya. Pria itu pun membantu menghapus air mata yang jatuh di pipi Kirana
"sorry?" ujar Kirana bingung.
"U okay? I saw you crying here alone" ujar pria itu sembari kembali menyodorkan kain yang belum di ambil oleh Kirana.
"Thank you"
"My pleasure, may i sit beside you?" ujar pria itu Kirana mengangguk dan sedikit bergeser.
"You okey? why are you crying alone here, would you like to share a story with me?" tanya pria itu.
"Hmm i'm okey, thanks"
KAMU SEDANG MEMBACA
KIRANA [JENRINA]
Kısa Hikayelagi pengen nangis aja, jadi iseng bikin cerita angst hehe Tolong yakinkan aku untuk tidak menangis disaat situasi sesulit apapun "Please jangan tinggalin gw Jai" Kirana fyi foto fotonya aku ambil dari pinterest dan ada beberapa yang aku edit lagi...
![KIRANA [JENRINA]](https://img.wattpad.com/cover/345820218-64-k447031.jpg)