"jadi lo ngapain nginep?" Tanya Ivy pada Capa di kamar tamu rumahnya.
Ivy duduk di kursi meja rias yang tersedia disana, sementara Capa duduk diatas kasur menyilangkan kedua kakinya.
"Mave udah tidur?" Tanya Capa.
"Hm'm"
"Itu, em.. daffin" Capa berkata dengan gelisah sambil memainkan ujung bantal.
"Daffin kenapa?"
"Dia.. gue hamil"
"HA? GILA LO?" Ivy benar benar kaget, bahkan ia sampai berdiri dan matanya yang membola.
"Cowo bajingan, udah gue bilang lagi dulu putusin, tau manusia dark flag kaya gitu masih juga lo pacarin, sekarang dia hamilin lo, gimana tu? Dia kabur apa nikahin lo besok?"
"Jingan ga besok juga sat. Dia belom tau, lo yang pertama tau, lo harusnya bersyukur tau, gue kasitau lo pertama"
"Sialan, berita begini ga bisa disyukurin kalo ga emang direncanain"
"Sebenarnya, bisa dibilang dia perkosa gue Vy, gue udah ga mau, tapi dia lagi mabuk waktu itu, terus gue dipaksa, syukurnya dia balik nyari gue bukan nyari lomte" kata Capa dengan wajah bahagia pada kalimat akhirnya.
"Sadar lu pe'a, manusia begitu masih lu belain"
"Gue, gue mau kasitau dia besok. Besok dia pulang, dua hari yang lalu dia muncak"
"Bayangin lu lahiran dia lagi di puncak"
"Terus lo happy sama kehamilan lo yang sekarang?" Tanya Ivy sambil memijat pelipisnya.
"Iya lah! Orang gue hamil sama orang yang gue cinta"
"Dia?"
"Dia apa?"
"Emang dia cinta lo?"
"IVY BAJINGAN! JANGAN GITU SAMA BUMIL!"
"Gue cuma mau lo mikirin kedepannya Capa. Kalo misal dia nolak kehamilan lo, dia minta diaborsi, lo mau?"
"Gak. Gue gaakan mau diaborsi"
"Kalo dia maksa lo, dan malah berlaku kasar ke lo karna ga mau aborsi? Bukanya gimana, lo harus siap siap aja untuk kemungkinan terburuk."
"Gue... Gue bakal putus hubungan sama dia dan ngurus anak gur sendiri. Gue ga mau bunuh manusia ga bersalah karena keegoisan satu manusia"
"Syukur deh lo belum tolol beneran. Lo kalo perlu apa apa bilang aja, gue ngantuk"
"Gue pengen yang manis manis sih"
"Sial. Ngidam lo?"
"Bisa dibilang gitu" kata Capa sambil tersenyum, meluruskan kakinya dan bersender pada kepala kasur.
Ivy langsung keluar dari kamarnya dan berjalan cepat menuju dapurnya mencari makanan manis, ia tak begitu suka makanan manis jadi ia tak pernah menyimpan makanan manis, tapi siapa tau masih ada makanan manis milik Mave.
Ivy membuka satu persatu pintu kulkasnya dan mencari makanan manis yang bisa dimakan. Tapi ia tak menemukan apapun.
Ivy berjalan ke rak snack di bawah meja ruang tamu dan mencari makanan manis, karena disana kebanyakan ada snack snack pedas dan asin.
Ivy melihat ada bungkus makanan berwarna pink yang asing di sana, langsung saja Ivy mengambilnya.
Ternyata itu sebungkus gulali berwarna pink dengan logo koala. Ivy menutup rak snack tersebut dan berjalan cepat menuju kamar tamu.
Disana Ivy disambut dengan capa yang sudah mengulurkan tangannya dengan mata berbinar.
Ivy melemparkan gulali tersebut keatas kasur, dan setelah Capa mengucapkan terimakasih, Ivy langsung keluar dan menutup pintu kamar tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mave's Limerence
Teen Fiction"Mave ga tau mau nonton apa.. Mave ga bisa mikir!" Kata Mave sambil memukuli kepalanya sendiri. "Sttt, mave.." Ivy langsung menarik pelan tangan Mave agar tidak memukuli kepalanya lagi. "Nanti sakit" kata Ivy sambil mengelus kepala Mave yang tadi ia...
