Sino memasuki rest room dengan membawa 2 gelas jus jambu dan 2 piring pisang keju.
"Cobalah !"kata Sino lembut.
"Apa ini gratis ? Kalau ini gratis, aku akan menghabiskan semua ini."canda Cherry.
"Tentu. Aku akan senang jika kau mau menghabiskan semuanya."
Mereka menikati makanan di hadapan mereka.
"Oh iya. Ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu."Sino memulai pembicaraan.
"Soal apa ?"
"Bagaimana kau bisa mengenal Sena ?"
"Oh itu. Aku sekampus dengannya."
"Oh. Begitu. Kau kuliah jurusan akutansi ?"
Cherry mengangguk pelan.
"Kenapa kau memilih jurusan itu ?"
"Sebenarnya saat SMA aku ingin mengambil jurusan hukum. Tapi, aku bingung. Aku akan jadi apa nantinya kalau mengambil jurusan itu ? Akhirnya aku memutuskan mengambil jurusan akutansi karena aku suka aku ingin menjadi seorang akuntan seperti Ayahku."
"Kenapa harus bingung ? Banyak pekerjaan yang berasal dari fakultas hukum. Misalnya hakim, jaksa, pengacara, minimal terdakwa."
"Masih ada alasan lain. Kalau aku menjadi jaksa, 80 % kemungkinan aku akan mendapat kasus korupsi. Kasus korupsi sangat membosankan. Setelah menemukan bukti berupa transaksi di tabungan pelaku, bukan berarti kasusnya akan berakhir. Masih ada sederet proses pengadilan yang sangat panjang. Betapa membosankannya itu."
"Ngomong-ngomong soal korupsi, kau tahu cara korupsi agar tidak ketahuan."
Cherry menggeleng,"Memangnya bagaimana ?"
"Berikan kartu ATM-mu beserta nomor PIN-nya pada orang yang akan kau suap. Orang yang kau suap bisa mengambil uang semaunya dari rekenning tabunganmu. Dengan begitu kau tidak akan ketahuan."
Cherry terkikik,"Kau benar. Haruskah kucoba ?"
"Lihatkan ! Kau bisa jadi terdakwa meski kau tidak mengambil jurusan hukum."
"Kau ini ada-ada saja. Kau sendiri kuliah di mana ?"
"Korea."
"Korea ? Wow ! Kau mengambil jurusan apa ?"
"Desain."
"Kenapa kau tidak mengambil jurusan akutansi seperti adikmu ?"
"Aku tidak mau menjadi manusia setengah gila dengan mempelajari hal-hal yang tidak kumengerti."
"Oh iya. Kau tadi sudah bilang kalau kau tidak suka angka-angka yang rumit dan memusingkan."
Mereka menunda pembicaraan sejenak.Cherry sudah menghabiskan makanan dan minumannya. Ia lalu melihat suasana di sekitarnya.
"Tempat ini benar-benar menakjubkan. Aku jadi ingin tahu siapa pemiliknya."
"Aku pemiliknya. Kenapa ?"
"Kau ? Lalu kenapa kau malah di sini ? Bukankah seharusnya kau melayani pembeli ?"
"Jangan khawatir. Pegawaiku bisa menanganinya. Lagi pula sebentar lagi jam makan siang."
"Terima Kasih sudah meluangkan waktumu untuk ngobrol denganku. Tapi aku harus segera pergi. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan."
"Aku juga sangat senang hari ini. Hati-hati di jalan."
Cherry keluar dari butik dengan 5 tas belanja yang berisi pakaian. Lalu ia berjalan menuju kampus karena mobilnya masih di kampus.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Marrying Stranger
RomantizmKau dan aku Dekat namun hanya raga Selebihnya tidak Kau dan aku Kita adalah asing Kau dan aku Kita menikah
