🚫FOLLOW TERLEBIH DAHULU SEBELUM MEMBACA! HARAP BIJAK SAAT MEMBACA CERITA INI‼️
Nama yang menyandang gelar GELORA DAN API itu memang sulit untuk didefinisikan.
Keduanya sama-sama menyalakan kobaran dendamnya masing-masing.
Bagi Gelora, Api itu cowok...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi, chictaa is back!
Wajib tinggalkan jejak sebelum membaca.
Selamat membaca.
***
Suasana koridor SMA Angkasa terasa menegangkan, saat segerombolan cowok berjalan melewati kerumunan siswa yang mulai ramai di pagi hari.
Kedatangan mereka disambut banyaknya pasang mata yang tak henti-henti memperhatikan ciptaan Tuhan yang begitu indah.
Tak lupa dengan jaket kulit yang sering mereka gunakan. Tulisan bordir yang melambangkan kesatuan yang terlampir di sisi bahu kiri mereka.
TR! Yang berartikan TREEZGAR.
Lambang itu melekat pada seluruh Anggotanya.
Lambang yang menjadi sebuah kehormatan terbesar bagi mereka.
Di dalam tatapan Api yang sangat menusuk itu, tak ada yang berani melihat mata elangnya. Bagi mereka membalas tatapan Api sama dengan mencari perkara dengannya.
Pada belokan menuju kelasnya. Langkah Api terhenti. Matanya menyorot pada kelima cewek yang berjalan kearahnya. Seketika sudut bibir cowok itu terangkat membentuk sebuah senyuman seringai.
"Eh tuh di depan ada Api sama temen-temennya," ujar April melihat Api dan kelima temannya, seperti ingin menghalangi jalan mereka untuk lewat. Begitu pandangan Gelora bertemu Api dan yang lainnya. Cewek itu langsung memutuskannya.
"Muter balik, cabut ke kelas."
Perkataan Gelora membuat Radisha mendengus. "Ish, kok balik lagi ke kelas. Samperin aja lah. Orang kita cuma mau lewat gak nyari ribut."
"Itu cuma berlaku buat lo. Bukan buat gue," ucap Gelora. "Kalau lo mau kesana, lo aja gue enggak."
"Kenapa? Lo takut sama gue?" suara itu datang dari ketua mereka, Api. Cowok itu mendekat. Dari raut wajah keduanya, mereka yang disana bisa membaca akan ada keributan lagi setelah ini. "Kalau takut sama gue bilang aja."
"Cewek modelan kayak lo emang cuma bisa banyak gaya. Yang gak ada nyalinya," ucap Api meremehkan. "Cupu!"
Perkataan Api mengundang amarah Gelora. Dan suaranya yang besar terdengar di se-penjuru koridor. Keadaan yang tadinya biasa saja berubah jadi panas.
Espen yang melihat kearah sekitar yang sudah ramai menjadikan mereka tontonan. Bisa-bisa mereka akan ribut besar kalau tidak di lerai dari sekarang. Apa lagi keduanya memang sulit untuk di pisahkan.
"Udah lah Pi. Mending cabut ke kelas bentar lagi bell masuk," belum sempat Espen menarik bahu Api. Gelora lebih dulu maju kehadapan Ketuanya itu.
"Ngomong apa lo barusan?" suara Gelora terdengar sangat marah pada cowok itu. "Udah merasa bener hidup lo?"