17. SPOT LIGHT

589 26 8
                                        

Hi, Chictaa is back!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Hi, Chictaa is back!

JANGAN LUPA TEKAN BINTANG DAN COMMENT SEBANYAK-BANYAKNYA, OK!💌🫶🏻

Selamat membaca.

***

Jadilah seperti matahari, teruslah bersinar dan biarkan mereka terbakar.

Gelora.

****

Gelora sudah bersiap dengan seragam yang ia baluti jaket kulit bewarna hitam. Dengan tas ransel bewarna biru yang ia sampirkan ke bahu kirinya.

Di dalam satu hari ini mungkin ia akan merasakan tekanan emosional yang mendalam. Menghadapi segala aturan dan kekonyolan musuhnya saat ini.

"Keep smile, Gelora. Meskipun lo akan menghadapi ujian terberat dalam hidup lo hari ini," ucap Gelora menyemangati dirinya sendiri di dalam pantulan kaca di lemarinya.

Kaki jenjang milik Gelora mulai melangkah menuju keluar kamar. Mendapati Bi Sumi yang sedang membersihkan vas bunga kesayangannya diruang tamu.

"Morning Bi Sumi," sapa Gelora tersenyum lalu melenggang pergi begitu saja.

"Morning juga Non Lora. Eh Non—" panggil Bi Sumi menyusul Gelora pergi kedepan.

"Non, tunggu. Non Lora nggak sarapan dulu?" tanya Bi Sumi yang sudah berada di samping Gelora.

"Aku buru-buru, Bi. Aku bisa sarapan di sekolah nanti," balas Gelora. Lalu matanya menatap kearah motor bewarna hitam berplat MAT21. Dengan si pemilik yang sudah berada di atas motornya dengan siap.

Melihat pemandangan itu membuat perasaan Gelora tak karuan. Jujur ini adalah pertama kalinya ada laki-laki yang menjemputnya berangkat sekolah bareng di depan rumahnya.

"Itu siapa, Non? Ganteng banget," celetuk Bi Sumi tak bisa berbohong kalau pesona Api membuat mata tak berkedip.

Gelora segera menoleh. "Bi Sumi! Udah masuk sana."

Mendengar itu Bi Sumi tersenyum jail. "Siap Non! Cie berangkat bareng sama pacar ya, Non." Setelah menggoda Gelora, Bi Sumi langsung pergi kedalam dan melanjutkan pekerjaannya lagi.

Gelora menatap Api dengan kesal. Menghampiri laki-laki itu dengan pandangan tak biasa. "Api, kenapa baru sekarang lo bahas perjanjian itu ke gue? Apa jangan-jangan lo memang lagi merencanakan sesuatu untuk bikin hidup gue berantakan," todong Gelora.

Api berdecih, tersenyum miring. "Kalau memang iya. Kenapa? Lo nggak terima?"

Nyebelin. Gelora mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk menahan diri agar tidak menjambak rambut laki-laki yang dihadapannya saat ini.

GELORAPITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang