"Selamat siang."
"Selamat siang Pak."
Melihat kedatangan seorang laki-laki yang merupakan atasannya, membuat beberapa dari mereka dengan seketika fokus pada kerjaan mereka dan beberapa dari mereka panik, hanya saja paniknya bukan karena mereka melakukan kesalahan.
"Plo, bangun."
"Bangun Plo."
"Iya, bangun, tuh ada Pak Reynald datang."
"Iya Plo, duh jangan tidur napa."
Mereka memikirkan bagaimana jadinya kalau Plorin yang sedang tertidur sekarang diketahui oleh Reynald, apalagi beberapa dari mereka yang tahu bagaimana karakter Reynald.
"Udah, biarkan saja, ngapain sih?"
"Iya, heran. Nantinya juga dia yang kena marah."
Sudah bukan hal yang aneh, jika ada pihak baik, kemudian ada pihak yang tidak sejalan, begitu juga dengan sekarang dan mereka yang sengaja melarang membangunkan Plorin adalah mereka yang tidak suka pada Plorin.
Beberapa suara keributan dari mereka, membuat Reynald mengalihkan pandangannya, hingga kemudian Reynald melangkahkan kaki ke arah di mana mereka berada dan berujung dengan Reynald yang melihat jelas seorang perempuan yang tengah tertidur di meja.
Pandangan Reynald terfokuskan memperhatikan perempuan yang sebelah wajahnya tertutup oleh rambutnya, hingga kemudian dia menyingkirkan sebagian rambut itu dan dia melihat wajah yang terlihat sangat pulas berada di alam tidurnya.
"Sudah berapa lama dia tertidur?" tanya Reynald sambil mengedarkan pandangannya ke beberapa dari mereka.
"Baru tertidur Pak."
"Dia tidur sudah lama."
Jawaban yang berbeda keluar membuat Reynald mengernyit, dia menatap mereka dengan tatapan yang cukup tanda tanya, sementara mereka menjadi kebingungan dengan apa yang harus mereka lakukan.
Tidak lama dari itu, terdengar waktu istirahat sudah tiba, hanya saja mereka tidak bergegas keluar, karena merasa bingung sebab ada Reynald di Ruangan ini.
Pandangan Reynald dia alihkan memperhatikan benda penunjuk waktu. "Silakan saja kalian keluar untuk istirahat." Reynald berucap menggunakan nada bicara yang datar.
"Em, baik Pak kalau begitu."
"Kita permisi Pak."
Beberapa dari mereka langsung melangkahkan kaki keluar dan masih ada 2 orang yang memilih untuk diam dengan pandangan yang sangat mereka fokuskan ke arah di mana Reynald berada.
Merasa masih ada orang di sekitarnya, membuat Reynald mengalihkan pandangannya, dia memperhatikan 2 orang tersebut dengan tatapan yang cukup serius, sampai pada akhirnya mereka melangkahkan kaki keluar dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Kok Pak Reynald kaya beda gitu ya sama tuh karyawan baru?"
"Iya, bingung juga, emangnya ada hubungan apa mereka?"
"Nah kan, kayak ada hubungan gitu kan?"
"Ya bayangin aja, Pak Reynald yang biasanya cuek, terus sama sekali gak peduli sama karyawannya, kemudian sekarang dia kayak peduli gitu sama tuh karyawan baru?"
"Pas kejadian yang ngasih permen itu aja, dia keliatan marah banget, tapi ... pas tahu yang ngasihnya tuh orang? Gak tahu hukuman apa yang diberikan atau jangan-jangan gak dikasih hukuman apa pun, padahal dia udah marah-marah sama kita semua."
Mereka masih terus membicarakan tentang sikap Reynald yang menurut mereka berbeda pada Plorin, sementara di lain sisi Reynald tengah asyik memperhatikan wajah Plorin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hasrat Cinta Sang Duda
Romance"Ah! Kenapa Om malah nyium leher saya?!" "Panggil saya Om lagi, saya cium bibir kamu!" Kedua bola mata cokelat milik perempuan itu dengan seketika membulat, dia menatap laki-laki yang ternyata saat dia perhatikan dengan santai, wajah laki-laki itu t...
