"Lho, kamu Plorin kan?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Plorin mengalihkan pandangannya, dia memperhatikan perempuan yang sekarang tengah memperhatikan dirinya dengan tatapan yang cukup serius, dia merasa tidak asing dengan perempuan di hadapannya, tapi dia juga tidak sepenuhnya ingat pada orang itu, sehingga dia terdiam dalam beberapa saat.
"Eh ... Ara bukan sih?"
"Ya, udah lupa ya kamu sama aku?"
Plorin menggaruk-garuk kepalanya. "Hihi, udah lama kita gak ketemu, makanya gak inget. Udah hampir 7 tahun gak sih?"
"Iya, nih. Kamu sekarang apa kabar?" tanya Ara dengan nada yang terdengar begitu ringan dan juga terdengar ramah, apalagi senyuman yang terukir di bibirnya.
"Emh ... kabar baik, kamu sendiri sekarang kabarnya bagaimana?"
"Baik, sedang bahagia malah."
"Uh, bagus deh."
Mereka berbincang dengan begitu baik sampai kemudian Ara teringat akan tempat di mana mereka berada dan hal itu membuat tatapan Ara dia fokuskan pada Plorin. "Habis beli apa dari Apotek?" tanya Ara yang terdengar santai.
Pertanyaan yang baru saja Ara ucapkan membuat Plorin dengan seketika terdiam, bahkan dia dengan seketika menyembunyikan apa yang sudah dia beli, hanya saja dia merasa kebingungan harus memberikan jawaban yang seperti apa.
"Habis beli apa kamu di sini?" tanya ulang Ara yang dia pikir kalau Plorin tidak memberikan jawaban, karena Plorin tidak mendengar pertanyaannya.
"Eh ... aku tadi, eh ... habis beli itu, eh apa sih namanya?" Plorin benar-benar merasa kebingungan yang untung saja tidak sampai membuat Ara merasa curiga akan apa yang membuatnya seperti ini.
"Eh, itu siapa sih? Kok kayak kenal?" tanya Ara yang mana pandangannya terfokuskan memperhatikan seorang laki-laki di depan sampai kemudian laki-laki itu mengalihkan pandangannya dan dia melihat dengan jelas ke arah di mana Plorin berada.
Saat Plorin mengedarkan pandangan untuk melihat siapa orang yang Ara tunjuk, dia langsung membulatkan matanya, karena dia merasa cukup kenal siapa orang yang sekarang tengah menggunakan atasan kemeja yang terlihat cukup rapi, meski bagian tangannya digulung sampai ke siku.
"Plo, siapa sih? Duh, inget, tapi lupa. Gimana tuh?"
Plorin merasa ingin mengucapkan siapa orang yang dia lihat, hanya saja bibirnya terasa terikat oleh perasaan yang ada dalam hatinya, karena perasaan itu tidak bisa dia hilangkan begitu saja.
Pada akhirnya Ara dan juga Plorin hanya terfokuskan memperhatikan seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan penampilan yang cukup menarik, bahkan semakin dia melangkahkan akkinya, semakin terlihat jelas wajah yang tidak akan mungkin bisa dipungkiri kalau wajah laki-laki itu terlihat tampan.
Melihat betapa fokuskanya laki-laki itu memperhatikan Plorin membuat Plorin mengedarkan pandangannya, dia berusaha untuk tidak terus menatap laki-laki itu, karena semakin mereka saling menatap ... maka dia hanya merasakan kalau suasana dalam hatinya tidak karuan.
"Hai, bisa bertemu di sini ya?"
"Eh ... wait. Kamu siapa ya? Eh ... namanya, duh ... udah bertahun-tahun gak ketemu, namanya lupa."
Laki-laki itu terdiam sejenak yang tak lama dari itu dia menunjuk dirinya sendiri dan Ara menganggukkan kepalanya.
"Siapa sih? Kenal deh, cuma namanya mendadak lupa, siapa sih?""
"Niels."
"Nah itu! Dia mantan crush kamu kan Plo?"
Pertanyaan itu membuat Plorin yang sedang membuang pandangannya, karena menyadari kalau Niels tengah memperhatikan dirinya, menjadi merasa kaget dan dia menatap Ara beberapa saat sampai kemudian Plorin mengalihkan pandangannya pada Niels.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hasrat Cinta Sang Duda
Romance"Ah! Kenapa Om malah nyium leher saya?!" "Panggil saya Om lagi, saya cium bibir kamu!" Kedua bola mata cokelat milik perempuan itu dengan seketika membulat, dia menatap laki-laki yang ternyata saat dia perhatikan dengan santai, wajah laki-laki itu t...
