Cleaning Service

3.7K 28 2
                                        

"Enak banget sih jadi atasan? Datang sesuka hati, gak mikirin ada orang yang menunggu, coba aja karyawannya yang seperti ini?"

"Marah-marah yang ada!" Plorin tengah ngomel-ngomel sendiri sambil menunggu, karena dia merasa kesal sudah dibuat menunggu lebih dari 1 jam.

"Tahu gini, gue gak akan mau datang sesuai dengan waktu yang tertera kemarin di pesan itu, gue mending datang aja nanti pas selesai jam istirahat pertama!"

Pandangan Plorin teralihkan ke arah di mana jam tangannya berada, hingga kemudian dia menghembuskan napasnya dengan sangat kasar, bahkan dia hendak kembali ngomel, hanya saja dia mendengar suara langkah kaki.

"Mba, sekarang Mba bisa pergi untuk interview."

"Sekarang?"

"Iya Mba, sudah bisa sekarang, karena orangnya sudah datang."

Hembusan napas yang cukup kasar Plorin keluarkan, hingga kemudian dia mengangguk-anggukkan kepala sambil mendengarkan ke mana dia harus pergi sekarang, karena orang itu tidak bisa mengantarkan dirinya.

"Apakah Mba ingat?"

Plorin menganggukkan kepalanya dengan sangat santai. "Iya, terima kasih, saya ingat."

"Baik Mba, kalau begitu saya permisi."

"Iya."

Sudah tidak ada alasan untuk Plorin lama duduk di tempat ini, sehingga membuat Plorin mengambil tas-nya dan kemudian melangkahkan kaki sampai pada akhirnya dia masuk ke lift.

Kedua bola mata Plorin membelalak saat melihat ada tangan dengan jari yang cukup panjang dan juga terlihat berurat yang membuat pintu lift menjadi tidak tertutup yang tak lama dari itu sang pemilik tangan melangkahkan kakinya.

Melihat siapa yang masuk, membuat Plorin jauh lebih melotot lagi, bahkan dia memiringkan kepala sambil mengerjap-ngerjap matanya, karena merasa tidak percaya dengan orang yang dia lihat sekarang.

"Lho, Om?"

"Kok Om ada di sini?" Plorin merasa masih ingat dengan jelas kalau orang yang tengah bersama dengannya adalah orang yang waktu itu dia temui.

"Apa?"

"Kok Om masuk ke sini?" tanya Plorin tanpa sebuah rasa bersalah.

"Enteng sekali kamu memanggil saya Om?"

"Ya, terus saya harus panggil apa kalau bukan Om?" tanya balik Plorin.

Hembusan napas yang cukup kasar keluar dari mulut laki-laki pemilik nama Reynald itu, dia merasa malas untuk memperpanjang hal ini, sehingga pada akhirnya dia hanya memilih untuk diam.

"Om, kok masuk ke sini? Mau ngapain?" tanya Plorin penasaran.

"Kalau saya jawab mau mencium kamu bagaimana?"

Kedua bola mata Plorin membelalak, karena jawaban yang Reynald berikan itu jauh di luar dugaannya, apalagi saat dia melihat kalau Reynald mendekat ke arahnya dan memberikan tatapan yang begitu dalam.

"Enak aja maen cium-cium!" ketus Plorin.

"Sana ah Om! Jauh-jauh, entar kalau ada yang liat saya dekat-dekat dengan Om ribet urusannya!"

"Siapa?"

"Istri Om, nanti kalau Istri Om tahu bahwa Om dekat-dekat dengan saya, nanti saya dikatakan sebagai pelakor lagi. Gak ah, gak mau!" ucap Plorin sambil memutar bola matanya malas.

Mendengar kalimat itu membuat Reynald semakin terdiam, dia memperhatikan Plorin dari tas sampai bawah dan dia terfokuskan memperhatikan area pinggul Plorin yang terbentuk dengan begitu indah, apalagi sekarang dia tengah menggunakan rok span.

Hasrat Cinta Sang DudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang