Seorang perempuan yang tengah dicari oleh temannya sekarang tengah menari mengikuti alunan musik yang begitu menggelegar, pikiran buruk dan juga sedih yang ada secara perlahan sirna, tapi bukan hanya pikiran sedihnya saja yang sirna, melainkan kesadarannya juga sudah mulai sirna.
Di sebuah meja ada seorang pria yang tengah menikmati minuman dengan pandangan yang terus dia fokuskan memperhatikan perempuan yang jelas dia kenali, hanya saja dia belum ada keinginan untuk menghampirinya, sehingga dia lebih memilih untuk memperhatikan saja.
Awalnya hanya ingin memperhatikan saja sampai dia melihat dengan jelas ada beberapa pria yang mendekati perempuan itu dan menurutnya cara mereka mendekati perempuan itu tidak biasa sampai dia dibuat terkejut kala melihat pergerakan mereka.
"Eh Bro, mau ke mana?"
Melihat temannya pergi membuat satu meja dengan seketika ikut bangkit, mereka melangkahkan kaki dengan cepat untuk menyeimbangkan langkah kaki temannya.
"Jangan bawa dia!" larang pria pemilik nama Reynald dengan penuh ketegasan yang membuat mereka dengan seketika mengalihkan pandangannya.
Tiga orang yang sudah membawa Plorin dari tempat tadi dan hendak dibawa ke kamar menjadi mengalihkan pandangannya, mereka memperhatikan Reynald dengan tatapan yang begitu serius.
"Tidak usah ikut campur, dia milik kita!"
Senyuman miring terukir di bibir Reynald. "Dia perempuan saya," aku Reynald yang membuat mereka sama sekali tidak percaya.
"Jangan ngasal! Sudahlah, pergi sana!"
"Iya, sana pergi!"
"Bro, tuh cewek yang waktu itu kita temui di Club kan?"
"Iya, masih inget sama wajahnya."
"Tidak usah banyak bicara, dia memang perempuan saya, karena saya kenal dengannya." Reynald masih berbicara dengan santai, sehingga membuat mereka berpikir penuh dengan keseriusan.
"Jangan bohong, bukti kalau memang mengenal dia dan dia milik kamu apa?"
Mendapatkan pertanyaan itu membuat Reynald mengukirkan senyuman, hingga kemudian dia membuka handphone-nya lalu menunjukkan sebuah foto yang membuat mereka semua membelalak dengan rasa tidak percaya yang begitu tinggi.
"Ja-jadi? Kalian memang saling kenal?"
Reynald menganggukkan kepalanya.
"Em, maaf kalau seperti itu."
"Iya, kita tidak melakukan hal apa pun lagi pada dia."
"Iya, percayalah, kita tidak melakukan hal apa pun lagi."
Saat itu juga mereka mengarahkan Plorin pada Reynald yang membuat teman-teman Reynald terdiam, pasalnya mereka kebingungan kenapa mereka bisa langsung ketakutan, padahal sedari tadi Reynald tidak memberikan ancaman apa pun.
"Kenapa mereka langsung keliatan takut, memangnya ada apa?"
Tidak memberikan sebuah jawaban, Reynald hanya mengukirkan senyumannya, karena memang orang yang punya wibawa besar seperti Reynald tidak perlau menjelaskan siapa dirinya dan tidak perlu memberikan banyak ancaman untuk membuat orang seperti mereka takut.
"Pesankan satu kamar," ucap Reynald sambil memperhatikan teman-temannya.
"Oke, baik."
Setelah itu mereka melangkahkan kaki ke arah yang berbeda, hingga kemudian di saat tengah santai melangkahkan kakinya, Reynald bertemu dengan seseorang.
"E-eh! Mau dibawa ke mana Plorin?!"
Reynald sedikit kaget mendapatkan pertanyaan itu.
"Mau dibawa ke mana dia? Mau macam-macam ya sama Plorin?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Hasrat Cinta Sang Duda
Romance"Ah! Kenapa Om malah nyium leher saya?!" "Panggil saya Om lagi, saya cium bibir kamu!" Kedua bola mata cokelat milik perempuan itu dengan seketika membulat, dia menatap laki-laki yang ternyata saat dia perhatikan dengan santai, wajah laki-laki itu t...
