Melihat siapa laki-laki yang tengah melangkahkan kaki di hadapannya, membuat Plorin dengan seketika menghentikan langkah kakinya dengan tatapan yang terus dia fokuskan memperhatikan laki-laki tersebut.
Hal yang sama juga dilakulan, karena laki-laki itu sekarang tengah fokus memperhatikan Plorin dengan tatapan yang sangat dalam sampai membuatnya menghentikan langkah kakinya.
Dalam jarak yang cukup dekat, mereka memperhatikan satu sama lain denngan sebuah rasa yang langsung mengalir dalam diri mereka, hanya saja di antara mereka belum ada yang membuka mulutnya untuk berbicara.
"Plorin?"
"Eh-hai, Niels."
Terlihat kalau laki-laki di hadapannya mengulurkan tangan ke arahnya, tapi sebuah rasa ragu muncul dengan sendirinya dalam diri Plorin, bahkan sampai membuat detak jantungnya berdebar hebat.
Saat tangannya menjabat tangan laki-laki yang pernah mengisi kehidupannya dalam beberapa tahun di masa lalu, Plorin merasakan sebuah rasa gugup yang begitu tinggi, bahkan dia langsung menarik tangannya agar tidak terus merasakan hal yang tidak enak.
"Niels, lepasin."
"Sudah lama tidak jumpa, kenapa sekalinya jumpa, kamu malah terlihat berubah?"
Di sini Plorin mematung, dia kebingungan harus bagaimana memberikan jawaban, karena dia masih mengingat jelas apa yang Sinta katakan waktu itu.
"Lama menunggu, sekalinya kamu kembali, aku pikir kamu bakalan menepati janji yang kamu ucapkan, ternyata kamu kembali untuk bertunangan."
Kali ini posisi berbalik, karena Niels terdiam kaget saat Plorin tahu hal tersebut.
"Kamu tahu dari mana masalah ini?"
Senyuman miris terukir di bibir Plorin. "Tidak perlu aku sebutkan tahu dari mana, tapi yang jelas aku sudah mengetahuinya, maka sekarang lepaskan tangan aku."
Plorin berusaha untuk menarik tangannya, karena bagaimana pun rasa sakit itu cukup Plorin rasakan.
"Apa yang kamu ketahui tidak seperti kenyataannya, kamu tidak usah marah, karena hal ini bisa kita bicarakan, bersamaan dengan hubungan kita akan bagaimana ke depannya."
"Gak! Gak ada yang perlu dibicarakan, sudah tidak ada kemungkinan lagi untuk kita punya hubungan, karena kamu sudah punya cewek yang akan menjadi tunangan kamu atau bahkan sudah menjadi tunangan kamu?"
"Sudah lah Niels, aku mau pergi sekarang, permisi!"
Saat Plorin hendak meninggalkan Niels, saat itu juga Niels menarik tangan Plorin, bahkan dia langsung memeluk Plorin dengan pelukan yang cukup erat yang membuat Plorin memejamkan matanya dengan begitu dalam.
"Jangan pergi, kita sulit untuk bertemu, sekalinya bertemu, jangan salah paham. Aku bisa menjelaskan semuanya sama kamu, tapi aku mohon ... jangan pergi, sayang."
Panggilan tersebut membuat Plorin semakin memejamkan matanya yang terasa cukup panas karena menahan air mata yang ingin turun saat itu juga, hanya saja dia masih ragu untuk menunjukkannya di hadapan Niels.
"Ya, beri aku waktu untuk menjelaskannya kalau kamu menganggap hal tersebut adalah masalah."
Sampai saat ini Plorin belum memberikan jawaban, begitu juga dengan Niels yang belum melepaskan pelukannya, bahkan dia malah mengelus-elus kepala Plorin dengan sangat lembut.
"Apakah kamu tidak merindukanku?"
Kalimat itu terasa begitu menusuk hatinya, dia berbohong jika mengatakan kalau dia tidak merindukan laki-laki yang lebih dari 2 tahun tidak berjumpa dengannya, bahkan untuk sekedar berkabar juga tidak terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hasrat Cinta Sang Duda
Roman d'amour"Ah! Kenapa Om malah nyium leher saya?!" "Panggil saya Om lagi, saya cium bibir kamu!" Kedua bola mata cokelat milik perempuan itu dengan seketika membulat, dia menatap laki-laki yang ternyata saat dia perhatikan dengan santai, wajah laki-laki itu t...
