"Lho? Kenapa berkas-berkasnya malah disuruh dikasih ke saya semua?" Plorin merasa sangat heran dengan apa yang terjadi sekarang, dia benar-benar menatap wajah Irna dengan tatapan yang tidak senang.
"Sudah lah, tidak usah banyak bertanya, silakan saja kamu bawa." Irna benar-benar menjawab dengan nada yang sangat enteng.
"Hei kalian, berkas-berkas yang harus disimpan, mending sekalian saja dititip sama Plorin, biarkan dia yang menyimpannya."
"Oh, boleh?"
Irna langsung menganggukkan kepalanyaa. "Iya, silakan saja, bebas. Kalian bisa langsung menitipkannya, biar nanti kalian gak cape dan bisa langsung mengerjakan yang lainnya."
Pada akhirnya mereka benar-benar menitipkan banyak berkas yang seharusnya dirapikan dan tatapan yang Plorin berikan sama sekali tidak santai, karena bagaimana pun dia tidak suka dengan apa yang terjadi.
"Ya sudah ya, sekarang kamu simpan semuanya. Saya duluan," ucap Irna dengan sebuah senyuman yang menunjukkan sebuah rasa puas yang dia rasakan, karena dia sudah berhasil membuat Plorin susah.
Ada sebuah rasa tidak suka dalam diri Irna pada Plorin, karena dia bisa dekat dengan Reynald dalam kedekatan yang tidak biasa, sementara selama ini tidak ada yang bisa benar-benar dekat, apalagi mendapatkan perlakuan khusus dari Reynald.
"Ish! Tuh orang kenapa makin ke sini kayak makin sengaja sih mau ngerjain?" Plorin merasakan sebuah kekesalan yang sangat jelas, bahkan dia sampai mendengkus penuh dengan amarah.
"Emangnya gak berat apa bawa setumpuk dokumen dari mereka?"
Berbagai omelan keluar dari mulut Plorin sampai pada akhirnya Plorin memilih untuk membawa berkas-berkas itu, karena dia merasa kalau ngomel-ngomel di sini tidak akan membuat berkas-berkas yang menumpuk itu pindah dengan sendirinya.
"Buset! Berat banget!" Plorin merasakan sebuah kekesalan yang sangat banyak.
Dengan sebuah rasa berat, kesal, dan lainnya, Plorin melangkahkan kaki dengan pandangan yang setengah tidak jelas, karena tertutupi oleh berkas yang dia bawa dan di lain sisi ada seseorang yang tengah mengukirkan senyumannya, karena dia merasa puas dengan apa yang dia lihat sekarang.
Brukh!
"Ups, gak sengaja! Sorry, sorry."
Awalnya Plorin mengira kalau dirinya yang menabrak orang itu dan orang itu mau dengan baik meminta maaf sampai kemudian Plorin menaikkan pandangannya dan saat itu jug Plorin membulatkan matanya kala melihat siapa orang yang ada di hadapannya.
"Lah Mba? Sengaja ya?" tanya Plorin dengan pikiran yang sama sekali tidak bisa berpikiran positif, karena apa yang orang itu lakukan tidak pernah baik untuknya.
Terlihat jelas senyuman di bibir Irna yang membuat Plorin yakin kalau Irna memang sengaja mengerjai dirinya, sehingga derus napas penuh dengan emosi dalam diri Plorin semakin meningkat.
"Mba, jangan seenaknya kayak gini bisa gak sih?" Nada bicara Plorin mulai naik, karena siapa sih yang akan senang saat dia terus-terusan dikerjain oleh orang yang padahal dia sama sekali tidak tahu apa alasan di baliknya.
"Kenapa sih kok marah? Saya gak sengaja lho," sahut Irna yang masih dengan tawaan dan juga ekspresi yang menunjukkan kalau dia tidak terlihat serius dengan apa yang dia ucapkan.
"Gak sengaja apaan Mba? Gak sengaja ngejatohinnya biar saya banyak kerjaan untuk membereskannya?"
Sebuah senyuman kembali tercetak dengan jelas di bibir Irna, hingga kemudian dia berjongkok seolah ingin merapikan berkas-berkas yang berserakan, hanya saja kedua bola mata Plorin membulat saat dia melihat kalau Irna mengambil dokumen itu dengan asal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hasrat Cinta Sang Duda
Romance"Ah! Kenapa Om malah nyium leher saya?!" "Panggil saya Om lagi, saya cium bibir kamu!" Kedua bola mata cokelat milik perempuan itu dengan seketika membulat, dia menatap laki-laki yang ternyata saat dia perhatikan dengan santai, wajah laki-laki itu t...
