Pusing dan Pucat

1.4K 12 0
                                        


"Duh, kenapa ini sampai telat datang bulannya, please ... masa iya langsung jadi?" Plorin merasa begitu panik, pasalnya dia benar-benar ingat pada apa yang sudah dirinya lakukan sebelumnya, sehingga pikiran dia benar-benar tertuju pada hal itu.

"Mau beli testpack, tapi masih belum siap kalau liat hasilnya positif, terus gimana ini?"

Penuh dengan keseriusan Plorin memikirkan semuanya, dia begitu ragu dengan apa yang harus dia lakukan sampai saat dia tengah berpikir, kemudian dia teringat kalau dia harus pergi bekerja.

Pada akhirnya Plorin mengambil tas miliknya, dia melangkahkan kaki untuk pergi ke Kantor sekarang, karena memang dia sudah bersiap-siap, hanya saja saat menunggu waktu, dia menyadari kalau tanggal datang bulannya sudah terlewat cukup lama sampai sebuah pikiran negatif muncul.

Berjalan dengan santai menuju ke Kantor sampai kemudian dia duduk santai di mejanya, dia berusaha untuk menetralkan perasaan tidak enak dalam dirinya, karena dia harus bekerja.

Belum terlalu lama dia menetralkan perasaannya, kemudian ada orang yang datang dan memberikan pekerjaan untuknya, hingga pada akhirnya dia mengerjakan pekerjaannya sebiasa mungkin.

Waktu berlalu sampai kemudian Plorin melangkahkan kaki sambil membawa berkas untuk memberikan berkas yang dia bawa kepada atasannya, tapi sepanjang dia melangkahkan kaki, dia merasa kalau jalannya seperti melayang.

Plorin berusaha untuk terus melangkahkan kaki sampai dia melihat Reynald yang tengah melangkahkan kakinya, dia berusaha untuk menghindar, karena dia ingin memberikan pekerjaannya tanpa terganggu apa pun.

"Plorin," panggil Reynald yang membuat Plorin dengan seketika terdiam kaget, dia mengalihkan pandangannya dan mengubah tujuan langkah kakinya.

"Iya Pak Reynald, bagaimana?" tanya Plorin sebiasa mungkin.

Plorin memang berusaha untuk biasa saja, tapi tatapan yang Reynald berikan semakin serius, karena dia merasa kalau ada sesuatu yang berbeda dengan wajah Plorin dan dia melihat dengan jelas perbedaan tersebut.

"Kamu terlihat pucat sekali, apakah kamu sakit?" tanya Reynald dengan nada yang terdengar khawatir, bahkan Reynald sampai mendekatkan dirinya ke arah di mana Plorin berada.

"Bibir kamu pucat sekali," ucap Reynald.

"Emh ... saya tadi lupa pakai lipstick," jawab Plorin dengan cukup masuk akal.

Jawabannya memang cukup masuk akal, hanya saja jawaban yang Plorin berikan tidak cukup untuk mengelabui Reynald, karena dia melihat ada lipstick yang menempel di bibir Plorin hanya saja tidak cukup untuk membuat wajahnya terlihat segar seperti biasanya.

Sudah berada dalam jarak yang dekat, membuat Reynald kemudian menyentuh kening Plorin dan dia merasakan sendiri perbedaan suhu di kening Plorin, bahkan untuk memastikan, dia sampai memegangi keningnya sendiri.

"Suhu tubuh kamu panas, apakah kamu sakit? Kalau kamu sedang sakit, jangan bekerja. Sudah saja istirahat," ucap Reynald yang begitu jelas menunjukkan kalau dia benar-benar perhatian pada karyawan yang mempunyai hubungan spesial dengannya.

"Ah tidak Pak, saya hanya tidak enak badan sedikit." Plorin mulai gugup, karena pemikirannya kembali teringat pada kekhawatiran yang dia miliki.

"Emh ... saya permisi Pak, karena pekerjaan saya sudah ditunggu."

Awalnya Reynald ragu untuk mempersilakan, hanya saja Plorin langsung melangkahkan kaki meninggalkan dirinya dan hal itu membuat Reynald mengalihkan pandangan sampai dia memperhatikan kalau langkah kaki Plorin cukup berbeda.

Sampai di depan ruangan yang Plorin tuju, dia mengetuk-ngetuk pintu Ruangan itu terlebih dahulu. "Permisi Bu, saya mengantarkan dokumen."

"Oh, silakan masuk."

Hasrat Cinta Sang DudaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang