September Rain #17

17 2 0
                                        

    Mentari sudah tergelincir dari titik tengah nya, kemudian mereka memutuskan untuk menghentikan belanja kali ini. Kami pun pulang menuju rumah masing-masing dengan wajah gembira, syukurlah. Tenyata pergi bersama seperti ini tidak begitu buruk, meskipun harus ku akui ini begitu melelahkan. Para gadis ini memutuskan untuk berpisah, satu sama lain seperti enggan untuk beranjak. Namun mereka memiliki agenda masing-masing, juga diriku yang harus bekerja sore nanti. Aku sudah tidak masuk kemarin, dan akan kembali izin tidak masuk untuk kegiatan acara liburan sekolah. Semoga kang Fery tidak begitu keberatan, meskipun aku hanya kerja part time. Namun ku ingin kalau diriku bekerja dengan penuh loyalitas, agar kang fery tidak salah karena telah merekrutku untuk bekerja ditempatnya. Kang Fery sudah begitu banyak membantuku, jadi sudah seharusnya aku memberikan totalitas dalam bekerja. Selain aku yang sudah tak memiliki wali yang membiayai, aku harus tangguh dan berguna bagi orang yang telah membantu ku.

    Tujuan kami berikutnya adalah terminal angkot, dan banyak dari kami memiliki tujuan yang berbeda. Namun ada satu orang yang sepertinya akan satu arah denganku, yaitu Kinanti. Seperti tadi pagi yang pergi ke sekolah dengan menaiki angkot yang sama, sekarang kami pulang pun demikian. Tanpa banyak bicara aku dan Kinanti masuk ke angkot yang akan segera berangkat, kami duduk dengan cukup berdesakan karena sudah penuh. Suasana gerah tak tertahankan, karena sudah berjalan lama dan di terpa oleh sinar matahari, kini berada dalam kondisi saling berebut oksigen dengan para penumpang lain. Ada keringat yang mengucur cukup banyak dibalik seragamku, sungguh membuat tidak nyaman. Namun Kinanti nampak tidak terganggu dengan situasi ini, sepanjang perjalanan dia hanya menatap ke belakang memperhatikan ke arah jalanan yang di lewati oleh kami.

    Sepuluh menit berlalu dan kami turun dari angkot dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, namun seperti membalik telapak tangan. Kinanti kembali dalam wujud kepo dan serba ingin tahu nya, padahal saat berbelanja tadi dia tak terlalu banyak bertanya pada yang lain. Sungguh perubahan emosi yang tidak bisa ditebak, namun aku sedikit penasaran dengan nya. Kenapa baru sekarang aku bisa melihatnya di sekolah dan bahkan kami tinggal dalam satu gang. Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya selama satu tahun terakhir ini, gadis ini membawa sesuatu hal yang misterius dengan dirinya sendiri yang lebih misterius. Meskipun banyak pertanyaan yang bermunculan, tapi aku masih enggan untuk bertanya prihal ini. Rasanya semua energi ku sudah terkuras habis, sepertinya aku harus mencatatkan hari ini sebagai rekor hari terlelah ku bulan ini. Apalagi sore nanti aku masih harus bekerja, sisa-sisa tenaga ini harus ku manfaatkan sebaik mungkin.

    Tiga hari berlalu, dan hari liburan bersama di sekolah pun tiba. Sudah ada sepuluh bis pariwisata yang sudah terparkir di pinggir jalan. Begitu panjang dan nampak tak berujung, seperti gerbong kereta api yang saling berkaitan, dan semua sedang memanaskan mesin nya. Semua murid sudah memakai pakaian terbaiknya, tak ketinggalan dengan para guru yang mengajar. Suasana karyawisata begitu kental menyelimuti atmosfer pagi ini yang subuh tadi sempat diguyur hujan kecil, seperti halnya menghadiri sebuah festival. Begitu banyak wajah gembira yang sudah tak sabar ingin segera menikmati perjalanan ini, apalagi setelah di cer-car soal-soal ujian yang cukup menguras tenaga. Hal ini sangat dinantikan oleh semua orang, meskipun aku sebenarnya ingin berdiam diri saja di rumah. Namun kesempatan kali ini aku bisa mengikutinya, setelah tahun lalu aku tak bisa ikut karena saat itu aku sedang sakit. Lagipula aku  juga tak memiliki uang untuk biaya perjalanan dan menginapnya yang terbilang cukup mahal. Namun karena aku mendapatkan uang saku lebih karena berhasil menjadi peringkat dua kemarin, aku bisa membayar biaya perjalanannya. Meskipun sebenarnya ada salah seorang guru yang memberikan keringanan subsidi biaya perjalanan untukku, padahal guru ini terbilang guru yang baru memulai bekerja dan mengajar disekolah ini. Tapi beliau salah satu yang terus memperhatikanku, dan selalu membantuku saat sedang mengalami kesulitan. Bahkan beliau juga beberapa kali membayarkan beberapa biaya administrasi sekolahku yang tidak tercover oleh beasiswa. Seperti halnya perjalanan karyawisata sekarang, dan hal lainnya.

    Mungkin sekitar sembilan puluh persen murid disini berasal dari keluarga berada, itu nampak dari bawaan mereka yang sangat beragam. Selain memakai baju yang sedang trendi dan bisa jadi baju yang sedang mereka kenakan baru saja mereka beli baru-baru ini. Karena warna nya terlihat masih cerah dan tidak kusam sama sekali. Kemudian tas ransel yang nampak seperti carrier yang biasa dipakai oleh para pendaki gunung, nampak begitu sesak oleh barang yang dibawa mereka. Bisa saja itu adalah baju ganti dan peralatan pribadi yang mereka siapkan, karena perjalanan kali ini akan memakan waktu tiga hari dan akan menginap selama dua malam. Maka dari itu mungkin sudah sewajarnya jika mereka sampai rela membawa barang yang cukup banyak karena perjalan yang cukup lama ini. Meskipun aku tak tahu apakah barang-barang itu akan mereka pakai semuanya, karena barang yang ku bawa jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan mereka. Dan karena ini pula aku merasakan ada yang memperhatikan ku yang hanya membawa sedikit barang, meskipun aku sudah menghitung nya dengan pasti kalau barang yang ku bawa ini akan cukup untuk kegiatan liburan kali ini, apakah aku salah.

   Mungkin mereka berpikir kalau akulah si anak yang tidak asik dan tidak antusias dengan perjalan ini, meskipun begitu memang ada benarnya kalau aku kurang bersemangat dengan sesuatu yang seperti ini. Karena aku berpikir jika hal ini hanya membuang uang yang susah payah kudapatkan, maka dari itu tahun kemarin aku absen selain memang sakit ku yang kambuh, itu suatu kebenaran buruk yang meringankan bebanku saat itu. Karena kalau dipikir lagi mungkin saja uang kegiatan liburan ini bisa untuk belanja keperluan dapur selama sebulan bagiku. Namun aku tak ingin mengecewakan semua orang yang sudah mengajakku dan menginginkanku untuk ikut, apalagi sudah dibantu oleh guru-guru yang baik hati. Mereka berkata kalau aku harus menikmati masa mudaku saat di sekolah ini, malah tadinya mereka ingin membayar keseluruhan biaya perjalan ini. Namun aku tidak enak dan tidak ingin merepotkan mereka, jadinya aku bilang kalau aku mau ikut dengan syarat kalau aku juga ikut membayar setengah biayanya. Mereka menuruti nya meskipun dengan raut wajah yang tidak puas, namun mereka juga sudah senang karena aku mau untuk ikut serta kali ini.

   "Yannn... Sini .." sumber suara ini sudah mulai tak asing, teriakan dari seorang gadis yang cerewet yang sudah tiga hari tidak ku dengar. Namun meski begitu dia tidak berniat menurunkan sikap kebawelannya, karena selama tiga hari ini dia selalu mengirim pesan singkat padaku di ponsel. Mulai dari sapaan pagi dan juga malam hari, membahas tentang liburan nanti, dan juga membahas hal-hal kecil lainnya. Aku tak begitu keberatan, malah kuakui aku sedikit senang dengan perlakuannya itu. Selama ini rutinitasku sangatlah monoton, sekarang ada hal lainnya yang membagi fikiranku yang tadinya selalu melamun kemana-mana. Kalista melambaikan tangannya dari jauh dan meneriakan namaku, sontak membuat beberapa pandangan yang menusuk itu kembali mengarah padaku. Setelah kejadian waktu itu membuatku tidak terlalu kaget kali ini, rasanya sudah tidak terlalu menyakitkan dan biasa saja. Meskipun sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan apa yang mereka pikirkan padaku, namun aku merasa bahwa akhir-akhir ini intensitas sikap rese mereka cukup meningkat.

"Ayo Yan cepet, kita naik bis yang ini, keburu ditempatin." Pinta Kalista padaku.
"Emang nya kamu mau duduk dimana?"
"Pokoknya di pinggir kaca, biar bisa liat pemandangan titik."
"Kamu kan bisa sama temen cewe kamu yang lain Kal."
"Emang nya kamu gak mau duduk sama aku Yan." dia malah memasang wajah sewot sekaligus memelas.
"Bu, bukan gitu, nanti kamu malah ketularan dijauhin orang-orang." Jawabku lirih.
"Kalau gitu fix kita duduk bareng hehe." Tegas Kalista polos.
Kalista tetap ngotot agar aku duduk bersama nya didalam bis, padahal menurutku dia harusnya duduk dengan teman wanita nya yang lain. Meskipun guru tidak melarang nya kalau tempat duduk nya bisa dicampur, namun tetap saja ada rasa canggung pada diriku. Apalagi ini akan memakan waktu yang lama bahkan seharian, apakah cewe bawel ini tidak keberatan dengan gunjingan yang akan diterimanya nanti. Malah dia seolah menantang keadaan ini, keadaan dimana semua orang memusuhi tanpa sebab yang tidak jelas. Strata yang diperlihatkan oleh murid-murid disini yang menegaskan kalau pertemanan mereka bisa diukur dari kasta dan nilai kedudukan sosial nya di masyarakat. Tanpa ragu mereka memandang rendah orang yang dianggap tidak memenuhi kriteria untuk berteman dengan mereka seperti halnya diriku ini, meskipun sebenarnya tidak semua orang yang berada disini mengamini hal tersebut, namun fakta nya semua permasalahan ini membuatku sangat kerepotan dengan tingkah mereka selama ini.

September RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang