Cuaca semakin membaik setelah pengumuman, aku kembali menuju kelas dan ingin segera pulang ke rumah. Namun langkahku sedikit terhambat ditengah orang-orang yang kini tengah lalu lalang, selain itu kini semua orang nampak sedang bahagia di hari yang bebas ini. Setelah berhasil melewati kesibukan orang lain aku tiba dikelas dan aku sedikit kaget bahwa sudah ada Kalista yang nampak seperti sedang menungguku. Tatapan nya seolah berkata ‘akhirnya kamu sampai juga’, selain murid lain yang tengah asik dengan pembahasan masing-masing, dia tidak sedang berbicara dengan siapapun dan hanya berdiri dekat tempat duduk ku. Hari ini belum setengahnya berjalan, namun energi ku sudah terkuras habis. Padahal ini hari bebas yang harusnya tidak memiliki effort lebih untuk melewatinya, entah kenapa hal itu tidak berlaku bagiku. “Hey Yan, sekali lagi selamat yah. Kamu keren loh.” Ucap gadis yang tengah berdiri itu sambil tersenyum. “Makasih Kal, kamu juga selamat yah.” Jawabku singkat dan sedikit ada grogi bercampur senang. Ucapan nya kali ini terasa sedikit berbeda dengan tadi pagi, kini ucapannya sangat bermakna, bukan berarti ucapannya yang pertama seperti tong kosong. Namun kali ini dia memperlihatkan mimik wajah mudita yang sangat berseri, meskipun tidak seantusias tadi pagi. Mungkin dengan semua yang sudah terjadi, dia mendapatkan sisi lain dari watak orang-orang disekitarnya. Bisa dibilang dia sedikit syok dan masih belum bisa menerima, karena mungkin yang ada dalam pikirannya selama ini adalah semua orang itu baik.
“Yan. Hari ini kamu ada sibuk apa?”
“Paling aku kerja aja sih nanti sore. Emang kenapa?”
“Itu.. anu,, sebelum kerja mau gak nganter aku, aku mau beli perlengkapan liburan nanti”
"Hah! kenapa kamu gak ngajak temen kamu yang lain aja?”
“Gabisa, kalo sama yang lain aku gak bebas.”
“Maksudnya?”
“Ihh, gitu deh pokoknya.”
“Gimana Kal, kamu geje ah.”
“Pokoknya kalo jalan sama kau mah seru Yan, kalo sama yang lain mah boring.”
Aku heran dengan perkataanya, dia tidak seperti biasanya mengucapkan kalimat yang bernada seperti itu. Sangat berbanding terbalik dengan selama ini, padahal dia dulu tanpa ragu mengajak siapapun yang ia temui untuk pergi bersamanya. Mungkin karena hal tadi juga dia menemukan dimensi baru dari sifat manusia, dan dia belum siap berdamai dengan itu semua. Makannya dia sedikit menghindar dulu dari mereka, pun orang-orang yang biasanya menempel pada Kalista kini agak memberikan jarak saat dia sedang mengajak ku bicara. Untuk pertama kalinya aku merasakan kegelisahan dari ajakan seseorang, ada sebuah rasa kasihan dan tidak tega melihat keadaan Kalista kini. Meskipun sebenarnya aku sudah begitu lelah hari ini, ingin rasanya segera merebahkan diri dan memejamkan mata begitu saja tanpa bermimpi. Sebuah pemikiran berkecamuk antara harus menolak atau menerima ajakan Kalista, senandika yang begitu panjang terjadi dan membuat kegelisahan ku semakin menjadi. Sementara itu Kalista masih menunggu sebuah jawaban dengan penuh harap, aku heran kenapa dari sekian banyak yang ia kenal dia malah mengajak ku untuk pergi bersamanya.
“Hey, kalian lagi ngomongin apa?” tiba-tiba suara itu mengagetkanku.
“Ehh, ini loh Kinan, aku mau pergi beli buat persiapan liburan.” Jawab Kalista dengan tenangnya, dia nampak ceria lagi saat berbicara dengan Kinanti, lagi pula kenapa Kinanti tiba-tiba ada dibelakang ku.
“Loh, kalian udah saling kenal?” Tanyaku heran.
“Kenal dong, aku satu kelas sama Kinanti pas kelas satu, meskipun kita jarang ngomong karena kamu Kinan, kamu jarang masuk ke kelas.”
“Oh iyah, aku lupa, maaf.”
“Ahh, dasar kamu, hihi.”
Kini mereka berbincang seperti teman lama yang dipertemukan kembali setelah sekian lama tak berjumpa, meskipun begitu aku tak melihat sebuah jarak yang begitu jauh diantara dua gadis ini. Mereka memiliki sifat yang begitu berbeda, yang satu enerjik dan ceria sedangkan yang satunya pendiam dan jutek. Namun mereka terlihat sangat akrab dan tidak terganggu dengan sifat nya masing-masing, malah bisa jadi hal itu yang menjadikan mereka sangat cocok. Namun satu hal yang pasti, mereka bisa sangat cerewet bila waktunya tiba. Namun dilain sisi melihat mereka seperti ini memberikan ketenangan padaku, karena mendapatkan pemandangan yang langka ini, dimana Kinanti yang ku kira sulit untuk berbicara pada orang lain bisa berbincang mengalir seperti ini dengan lawan bicara yang bisa dibilang bawel, namun setelah ku perhatikan ternyata Kinanti juga tak kalah bawel nya dengan Kalista. Namun tiba-tiba, “Aku ikut.” Kalimat singkat yang sangat membuat ku kaget keluar dari mulut Kinanti. “Ikut apa?” tanyaku jengkel. Mereka berdua seakan sudah menyetujui dan yakin bahwa aku akan ikut, padahal aku sendiri masih mencari alasan yang bagus untuk menolak ajakannya. “Ikut kalian belanja, aku bosan, mungkin dengan kalian bisa mengganti suasana.” Tukas Kinanti seolah dia adalah putri raja yang harus dihibur. Sekarang aku jadi berfikir bahwa inilah sosok Kinanti yang sebenarnya, sifat juteknya merupakan turunan dari sikap nya yang sebenarnya kesulitan untuk mendapatkan teman. Dengan alasan bosan padahal dia ingin pergi bersama seseorang yang bisa dipanggil teman, dengan memasang wajah datar dan polos tetapi ada sorot mata yang penuh harap. Aku begitu lemah menghadapi hal yang seperti ini.
Kinanti yang setengah berharap dan Kalista yang terus memaksa dengan wajahnya yang memelas agar aku juga ikut semakin menjadi, karena merepotkan terus mendengarkan mereka merengek seperti anak kecil akhirnya aku mengiyakan ajakan mereka. Setelah mendengar itu mereka nampak sangat kegirangan, suatu reaksi yang sudah ku tebak dari Kalista, namun aku agak sedikit kaget saat Kinanti juga bereaksi demikian, padahal dari tadi dia memaksa dengan wajah datarnya. Sebelum hari semakin siang aku menyuruh mereka agar segera pergi, karena sore aku harus bekerja, aku tak ingin membuang-buang waktu. Ah sial, pada akhirnya malah diriku yang terlihat seperti ingin pergi. Mereka mengiyakan dan langsung bersiap-siap, sedangkan Kinanti pergi ke kelas dia untuk mengambil tasnya terlebih dahulu, jadinya kami janjian untuk bertemu di gerbang sekolah. Langkahnya terlihat anggun saat pergi meninggalkan kami, dan Kalista juga terlihat memandangi cara berjalannya. “Kaya tuan putri yah Yan.” Ucap Kalista. Aku tidak bereaksi apa-apa, padahal aku sangat ingin menyangkalnya dengan sebuah candaan, namun bibirku tak mengucapkan satu katapun dan seolah mengiyakan ucapan dari gadis bawel ini. Kami bergegas menuju gerbang sekolah untuk segera pergi, namun terlihat tiga orang yang tadi naik podium, yaitu tiga anak kelas satu yang meraih tiga posisi terbaik tahun ini, sosok yang sangat tidak asing. Oh raga, kuharap kau masih bisa bertahan menghadapi mereka. Kukira kemarin adalah rekor terbanyak aku berbincang dengan manusia lainnya, ternyata aku begitu naif.
“Oyy Kak Yan, Selamat yah…” suara bising dari kejauhan yang begitu khas mengundang atensi dari banyak orang, ah aku sudah tak tahan lagi. Aku harus cepat untuk membungkam cewe bawel versi maksimal itu sebelum bertambah buruk, dia berteriak sambil melambaikan tangannya tanpa ragu. Entah setebal apa wajahnya sampai tidak memiliki rasa malu sedikitpun, karena ku rasa itu bukan sebuah bentuk dari kepercayaan diri. Dalam keramaian dia semakin menjadi, berbeda sekali ketika dia sedang berjaga di toko buku. Dia menahan setengah dari kebawelan dan suara stereo nya agar tidak mengganggu pengunjung, setidaknya dia berhasil bersikap profesional meskipun itu adalah bisnis keluarganya sendiri. Tapi sifat nya yang seperti ini kadang membuat orang-orang salah paham terhadapnya, sama halnya seperti Kalista, dia juga cukup populer meskipun masih duduk dikelas satu. Sifat low profil dan sering mengundang atensi menjadi kelebihannya, dan tak pernah satupun hari dia kehabisan energi memasang wajah lesu. Kerena itu juga kudengar banyak murid lelaki disini yang mencoba untuk mendekatinya dan mengajak nya untuk berpacaran, namun sampai saat ini dia selalu menolak semuanya. Namun kehadirannya yang selalu meneriakkan namaku didepan umum kadang membuat banyak orang mengira yang bukan-bukan, alhasil banyak murid lelaki lain yang berusaha akrab denganku hanya untuk menggali informasi tentangnya, entah itu hobi atau kegiatannya sehari-hari. Meskipun itu cukup merepotkan, namun aku juga mendapatkan sedikit keuntungan. Mereka yang datang bertanya padaku kadang juga memberikan makanan ringan, atau mentraktirku di kantin. Kadang aku juga merasa bersalah pada Nadinda, maka dari itu setiap ada orang yang memberikan makanan padaku karena bertanya tentangnya, aku membagikannya sebagian pada Nadinda.
KAMU SEDANG MEMBACA
September Rain
Historia CortaMenjalani hari-hari dengan biasa saja hingga beberapa kejadian yang terjadi di bulan September merubah dunia nya yang selama ini akrab dengan kesendirian, Iyan yang selalu kesepian dengan kondisi paru-paru nya yang spesial di pertemukan dengan seora...
