September Rain #13

26 2 0
                                        

Sebuah lapangan serba guna yang cukup luas dan mampu menampung semua murid disini, sebuah podium yang agak tinggi diantara tiang bendera. Ada beberapa genangan air di beberapa sudut lapang, sinar matahari belum mampu menguapkan nya. Murid yang lain sudah memenuhi lapang ini, akhirnya kami bertiga terpaksa mengisi barisan yang paling belakang. Kalista dan Kinanti menuju barisan khusus perempuan sedangkan aku menuju ke barisan lelaki, di depan podium sudah berkumpul semua guru yang mengajar disini, sampai akhirnya Pak Kepala sekolah membuka pidato nya dan menyampaikan beberapa pengumuman penting. Kurang lebih dia memberi selamat pada semua murid disini karena telah mengikuti ujian dengan baik meskipun ada beberapa siswa yang diharuskan mengikuti remedial. Kemudian beliau juga mengumumkan kalau untuk satu minggu ke depan kami akan memasuki masa liburan akhir semester, dan diakhir pidato nya dia mengumumkan para siswa yang mendapatkan nilai tiga peringkat teratas dimasing-masing tingkatan, mulai dari kelas satu hingga kelas dua. Sedangkan untuk kelas tiga masih belum dapat diumumkan karena yang mereka ikuti adalah ujian kelulusan yang masih membutuhkan waktu untuk hasil ujian nya muncul.

“Baiklah, berikutnya akan Bapak diumumkan tiga peringkat terbaik.”
“Yang dipanggil namanya langsung ke depan, untuk kelas satu….”
“Peringkat tiga, Nadinda Azalia…”
“Peringkat dua, Desty Alifa…”
“Dan peringkat satu adalah... Siti Nurul Fatimah …”

Pak kepala sekolah sudah menyebutkan nama-nama siswa terbaik dari kelas satu, dan nama-nama itu tidak asing bagiku. Mereka yang dipanggil langsung menuju podium tempat para guru berdiri, mereka telah dijadikan sosok teladan bagi murid lain dan mendapatkan sebuah bingkisan kado yang berukuran sedang. Pemandangan yang kulihat tahun lalu saat kenaikan kelas, namun sayang aku tak mampu mendapatkan nilai tiga terbaik. Saat itu aku hanya mampu mendapatkan nilai diperingkat sepuluh, dan sejak saat itu aku bertekad untuk mendapatkan nilai yang lebih baik. Selain untuk mempertahankan anggaran beasiswa agar masih bisa kudapatkan, namun ada motivasi tersendiri bagiku yaitu agar bisa menjadi lebih berguna di masa depan karena aku hidup sebatang kara. Sebuah kehidupan keras menanti ku didepan sana, maka dari itu aku harus berusaha mendapatkan ilmu sebanyak mungkin dan juga prestasi yang akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan tentunya. Ketiga orang yang dipanggil tadi sudah kembali ke barisannya masing-masing dan langsung mendapat sambutan hangat dari orang-orang didekatnya, kemudian pak kepala sekolah kini bersiap melanjutkan pengumumannya. Semuanya memberikan tepuk tangan yang meriah dan memberikan selamat pada mereka bertiga, kini raut muka kelas dua menjadi tegang, termasuk diriku sendiri. Meskipun aku sudah mengetahui hasilnya tadi di mading, namun tetap ada hal yang ku takutkan terjadi dalam bayanganku.

“Itulah ketiga murid terbaik dari kelas satu, kini saatnya murid terbaik di kelas dua.” Semua murid yang tadi bersorak dan bertepuk tangan kini terdiam. Ada berbagai aura yang memancar dari kumpulan manusia disini, selain energi positif dan gembira. Ada juga yang mengeluarkan aura kebencian dan amarah, semua bercampur aduk dalam sebuah ketegangan.
“Baiklah, peringkat tiga. Kalista Putri” Kalista langsung diberi selamat oleh orang-orang yang berada disekitarnya, sebuah sorak sorai tepuk tangan menggema lebih kencang dibandingkan tadi. Bentuk penghargaan pada sosok yang menjadi teladan dan populer disekolah ini, aura negatif tadi pun seolah sirna untuk sesaat dalam momen ini. Kalista berjalan melewati kerumunan yang ikut berbahagia untuknya, tak hentinya suara tepuk tangan dari banyak murid membuat suasana sedikit heboh. Kalista pun sampai dan menghadap kepala sekolah dan diberi bingkisan juga seperti tiga murid sebelumnya.
“Peringkat kedua, Iyan Sofian.” Keheningan yang membuat ku kikuk sendiri, hanya ada beberapa ucapan selamat dan tepuk tangan. Saking hening nya aku bisa tau suara siapa saja yang memberikanku selamat, dan tentu saja kejadian yang kubayangkan tadi akhirnya menjadi kenyataan. Kurasakan ada ratusan pasang mata yang memancarkan aura kebencian dan tidak senang dengan pengumuman ini, ada gravitasi yang menghambat kaki ku untuk melangkah ke depan. Alih-alih memberikanku tepuk tangan dan selamat, mereka melebarkan barisan dan menjaga jarak dariku, seolah ada gerobak sampah yang melewati mereka. Ada semacam dorongan dibagian belakang kepalaku, seperti ada cairan yang mendidih membuat kepalaku merasakan nyeri di tiap langkah kaki. Inikah aura membunuh.

Tanpa sadar aku sudah berada tepat didepan kepala sekolah dan tanganku menggenggam hadiah yang menjadi targetku satu tahun ini, meskipun isinya hanya berupa alat tulis dan uang yang tidak begitu besar. Namun pencapaian ini membuatku tetap mendapatkan beasiswa untuk kedepannya, dan mendapatkan insentif yang lebih besar dibanding semester kemarin. Itulah targetku yang sebenarnya, sebuah mekasnisme bertahan hidup dari seorang anak yatim piatu yang sempat gila beberapa tahun lalu. Meskipun sebenarnya pemilik yayasan yang sekaligus kepala sekolah sempat memintaku untuk tinggal dirumahnya dan menjadi salah satu bagian dari keluarganya, namun aku menolak permintaan beliau karena aku merasa berat untuk meninggalkan rumah peninggalan orang tua ku, aku tak ingin kenangan terakhir dari mereka akan terbengkalai karena tidak ada yang merawatnya kalau aku pergi dari sana.
Adalah rasa benci yang tak berdasar dan tak masuk akal, seseorang membenci dan mengutuk pencapaian seseorang yang ketimbang ketidak mampuannya nya bersaing untuk mendapatkan hasil yang mereka ingin kan.

Setelah diberi selamat oleh pak kepala sekolah dan para giri yang ada di sana. Aku menoleh ke arah barisan murid yang tengah bergumam komat kamit percis seperti kejadian tadi pagi dikoridor. Namun diantara mereka ada beberapa orang yang memberikan tepuk tangan yang cukup keras dan memiliki sorot mata yang kontras dibanding yang lain, termasuk ketiga adik kelasku yang tadi berdiri disini. Mereka seolah paham akan apa yang sedang terjadi sehingga mereka mencoba untuk mencairkan suasana sehingga aura yang dari tadi menyesakkan ini memudar dengan perlahan. Kemudian aku berjalan ke samping Kalista dan berdiri menunggu orang selanjutnya yang dipanggil, Kalista menatapku dengan sayu seolah merasa kasihan. Mungkin dia sudah mulai menyadari apa yang sedang terjadi disini, setelah apa yang terjadi tadi pagi dan juga sekarang memang tidak begitu diperlihatkan semasif ini sebelumnya, namun pengumuman di mading tadi sepertinya menjadi pemicu yang begitu berpengaruh untuk sekarang mereka memperlihatkan sifat aslinya.

“Baiklah, peringkat yang pertama untuk kelas dua adalah.”
“Kinanti Utami..” pengumuman terakhir dari pak kepala sekolah menyebutkan nama Kinanti, kemudian respon yang sangat berbeda dari sebelumnya. Semua nampak sangat hening tanpa ada satu pun selamat ataupun tatapan kebencian seperti yang terjadi terhadapku, seolah mereka tidak menghiraukan pengumuman yang penting ini. Atau bisa dibilang mereka memang tidak menyadari apa yang sedang terjadi, apa mereka sedang terhipnotis kaena tatapan mereka seperti kosong dan sangat tidak antusias sama sekali. Padahal ini merupakan murid terpintar disekolah ini dan seharusnya mereka sedikit iri pada pencapaiannya, peringkat satu adalah hal yang sangat sulit didapatkan, apalagi dengan nilai yang nyaris sempurna. Ada apa dengan orang-orang ini, apa mereka sengaja melakukan ini. Saat Kinanti berjalan menuju kesini pun tidak ada orang yang menoleh kepadanya saat dilewati, mungkin yang memperhatikan langkah demi langkah kaki nya hanya para guru dan juga Kalista. Seolah seisi sekolah ini tidak mengenal sosok Kinanti ini, dan tidak menyadari keberadaan si murid terpintar tersebut.

Kinanti tiba di hadapan pak kepala sekolah dan merima hadiahnya, kemudian dia berjalan ke arahku yang sedang keheranan. Dia melihat kearahku sambil terkaget namun juga sambil membesitkan sedikit senyumnya, dia bersikap seperti biasa saja. “Selamat yah.” Ucap Kalista pada Kinanti, dan Kinanti nampak sedikit kaget dengan ucapan selamat tersebut. Kinanti menoleh ke arahku dan nampak kebingungan, begitupun aku yang juga bingung melihat nya bersikap seperti itu. Padahal saat para guru memberikan selamat padanya dia hanya bersikap datar, namun saat Kalista mengucapkannya seperti ada hal lain pada diri Kinanti. Dia nampak terkejut dan juga bahagia disaat yang bersamaan, entah apa yang ada dibenaknya saat ini, yang jelas kedua gadis ini kini saling berbalas senyum yang begitu tulus.

Kami bertiga turun dari podium dan kembali ke barisan kami sebelumnya, dan pak kepala sekolah melanjutkan sedikit pidatonya. Kemudian diakhir pidatonya beliau mengumumkan liburan akhir semester kali ini sekolah mengadakan liburan bersama ke sebuah tempat wisata yang saat ini sedang terkenal dan ramai dibicarakan, langsung saja semua murid disini bersorak gembira menyambut pengumuman tersebut. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu antusias dengan kegiatan ini, meskipun begitu ini adalah kegiatan yang wajib diikuti oleh semua murid. Hal ini menjadi pelepas stres setelah seminggu penuh menjalani ujian, mungkin hal itu yang menjadikannya sangat dinanti oleh kebanyakan orang. Kemudian setelah pengumuman berakhir, semua dibubarkan dan kembali ke kegiatan nya masing-masing di hari bebas ini. Liburan itu sendiri akan diadakan tiga hari lagi dengan waktu dua hari, karena tempat berlibur yang cukup jauh kami akan menginap juga di sana, hal yang merepotkan lainnya bagiku

September RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang