Pemakaman.
Sepi dan hening. Bulu kuduknya bergidik sejak awal, datang dalam cuaca mendung dan awal hitam bergurumul menutupi langit indah. Sebaliknya, ada sesuatu yang aneh dalam hatinya, kerinduan mendalam yang sulit dijabarkan, menyesakkan, serta tidak nyaman. Dia tak mengatakan apapun, dan bunga lily putih, dalam pelukannya.
Earlene bersimpuh dalam diam, mencabut satu-persatu bunga lily dalam ikatan rapi. Meletakkan beberapa helai masing-masing pada batu nisan bertuliskan, Hegan dan Karine Edzzard. Rumput-rumput di sekitar tumbuh subur dan terawat, batu nisan itu masih mengkilap bahkan ketika sudah bertahun-tahun tertancap diam di sana.
Sudut matanya menitikkan air mata yang langsung di sambut oleh jemari lentiknya. Dia tidak suka perasaan ini, emosional tapi terkesan aneh. Seakan familiar sekaligus asing. Mungkin familiar karena tubuh Earlene Edzzard, dan asing karena jiwa miliknya. Earlene tidak tahu apa yang salah, air matanya tidak berhenti bahkan jika dia sudah mengusapnya berkali-kali.
Semburan rasa sakit menyesakkan mulai memenuhi perasaannya. Ekspresinya tidak lagi datar, tapi aneh dan terkesan sedih yang mendalam. Seolah inilah yang dia tunggu, dan perlu perjuangan serta waktu lama untuk berada di sana. Jadi di sinilah dia sekarang, menangis tanpa sebab pasti dengan tatapan sendu pada dua batu nisan mengkilap, sepertinya di poles setiap hari.
Earlene larut dalam diam, dia tidak punya hal untuk dibicarakan, tepatnya, belum ada. Arven mengantar gadis tadi setelah cekcok tak terhindarkan. Pengawal pribadi yang merangkap jadi sopirnya benar-benar memprioritaskannya lebih dari segalanya untuk saat ini. Entah ancaman macam apa yang Harka dan Galert berikan padanya.
"Nona muda berkunjung ke Pemakaman."
" .... "
"Sendirian, Tuan. Saya tidak melihat ada yang menjaga, tak ada orang lain di sini."
" .... "
"Baik, Tuan."
Tuan di seberang sana lebih dulu menutup sambungannya. Dia memasukkan kembali benda pipih itu dalam saku celana. Earlene di depan sana merinding tiba-tiba, merasa di perhatikan. Apakah para hantu di dekat sini merasakan kehadirannya? Mengendus arom ketakutan yang kentara pada dirinya?
Empat puluh menit lebih, Earlene tidak terlalu memperhatikan. Saat berbalik, tahu-tahu Arven sudah berdiri tegak di sana dengan kacamata hitam dan wajah datar. Earlene memutar bola matanya, agak curiga pria ini menurunkan gadis tadi di pertengahan jalan secara tidak sopan.
"Kamu sudah mengantarkannya?"
"Tentu, Nona."
"Sampai di depan rumahnya?"
"Tidak, maafkan saya, Nona. Hanya bisa sampai depan gerbang Mansionnya. Saya pantas di hukum." Tidak ada emosi dalam nada bicara Arven, hanya datar dan serius, apakah pria ini sebenarnya berniat untuk melucu, tapi tidak punya selera humor?
"Lupakan," sambung Earlene. Pantas saja gadis itu memiliki wajah cantik yang tidak nyata. Dia adalah putri keluarga kaya, harusnya kulit putihnya dan wajah mulus itu sudah membuktikannya sejak awal.
Earlene memantapkan langkah. Dia sudah berada di depan Mansion mewah keluarga Edzzard. Mansion besar yang tidak kalah mewah dari Mansion di Kota SN milik kakeknya. Earlene menekankan pada dirinya bahwa yang perlu di lakukannya hanya menikmati hidup mewah bak putri.
Menaiki lift sampai lantai tiga, dirinya benar-benar di manjakan pemandangan luar biasa. Satu maid ikut, menunjukkan kamarnya. Hati kecilnya menjerit senang.
Ruangan kamarnya benar-benar di luar nalar kali ini. Warna kalem-rosegold. Earlene bersumpah bisa melihat kamar itu berkilauan. Rosegold di padukan pink pastel, pengganti warna putih. Di atas Hedboard atau lebih tepatnya, di dinding, kerang-kerang indah rosegold bercampur putih bermandikan cahaya keemasan dari lampu-lampu, direkatkan di dalamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Antagonist
Fantasy"Jangan percaya siapapun." Ingat itu sampai akhir. Base jumpingnya tidak berjalan lancar. Earlene masuk dalam novel 'Infinity Words, You' yang secara misterius muncul dalam ranselnya. Sialnya! Dia masuk dalam tokoh antagonis kedua yang hanya masuk...
