Earlene mengumpat keras dalam hati, menatap bengis pada Ryden yang hampir menyemburkan tawa. Pria itu berhenti mendadak, mengakibatkan botol berisi air yang ingin dimasukkan Earlene dalam mulutnya malah berbalik menyiraminya.
Tanpa pikir panjang, dia menarik sapu tangan yang tersemat rapi pada jas Ryden, mengusap wajahnya yang basah, airnya merembes sampai pakaiannya. Earlene ingin mengumpat terang-terangan, tapi kakinya menendang-nendang kecil kaki Ryden yang ingin memundurkan mobil.
"Kenapa?"
"Kau buta atau bagaimana!" sentaknya tidak sabar. Di depan sana, seorang gadis ditarik paksa oleh dua pria tinggi. "Jadilah pria berani dan tolong gadis malang itu!"
"Berhentilah ikut campur urusan orang lain." Ryden segera menariknya masuk sebelum kakinya melangkah keluar mobil.
"Itu tindak kriminal!"
"Kamu bahkan tidak mengenalnya."
"Kau pikir aku sudah mengenalmu saat menabrakkan mobilku dan sok menjadi pahlawan untukmu!" Earlene tidak akan berani menolong gadis di depan sana, kalau saja tidak ada Ryden bersamanya.
Hei! Dia masih sayang nyawa!
Ryden menggeram tertahan. "Itu urusan mereka. Bisa saja gadis itu pencuri dan mereka ingin membawa ke kantor polisi."
"Bagaimana jika tidak!"
"Jika mereka punya pistol. Kamu akan mendapat setidaknya tiga peluru sebelum sempat berteriak." Earlene diam, itu tidak salah, tapi dia tidak akan diam saja, tidak selama dia membawa pria tinggi berotot macam Ryden. Dia masih ingat saat pria itu tertusuk dan tertembak, ekspresinya.
"Tabrak mereka."
Ryden melotot. "Itu kecelakaan disengaja."
"Di depan sana tindak kriminal!"
"Kita bisa masuk penjara."
"Tidak ada orang kaya yang masuk penjara!" Ryden setengah kagum, tapi Earlene tidak peduli, entah bagaimana dia tiba-tiba mengingat kutipan itu, kutipan dari film Don't Breathe yang pernah ditontonnya bersama Peony dan Gilska.
"Menabrak itu berlebihan—"
Brakk!
Ryden tak sempat bereaksi, dia melakukan rem mendadak ketika Earlene berdesakan menginjak pedal gas. Dia menabrak tiga pria tinggi itu terlalu keras, sampai mereka terlempar kesakitan. Ryden terlambat menariknya, mengakibatkan gadis itu lebih dulu keluar, dia mengurut pelipisnya lelah.
"Aku akan meninggalkanmu!" seru Ryden.
"Coba saja!" sengit Earlene. Pada detik selanjutnya, dia membawa gadis asing itu masuk. Earlene meringis, wajahnya lebam dan sudut bibirnya sobek. Ada darah kering dari hidungnya. "Masih berpikir tindakanku berlebihan?!" seru Earlene, melirik bengis dari kaca spion mobil.
"Ear-lene … " Ryden sudah melajukan mobilnya sementara Earlene lebih memilih duduk di belakang dengan gadis asing itu.
"Kau mengenal—HEI! Kau gadis yang waktu itu, kan?" Gadis itu mengangguk kecil. "Rumah sakit, Tuan Hetfard!"
"Kamu … memerintahku?"
"Aku minta tolong!" Pandangan Earlene berubah hangat ketika memandang gadis malang di sebelahnya. "Kau mengenalku?"
"Kita … satu … universitas … "
"Oh! Berarti kita harus berhenti bertemu seperti ini. Apa aku … mengenalmu?"
"Y-ya."
"Baik, siapa namamu? Aku melupakan beberapa hal, maaf." Gadis itu mendongak, senyum Earlene, yang awalnya sudah mengembang sempurna memudar seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Antagonist
Fantasi"Jangan percaya siapapun." Ingat itu sampai akhir. Base jumpingnya tidak berjalan lancar. Earlene masuk dalam novel 'Infinity Words, You' yang secara misterius muncul dalam ranselnya. Sialnya! Dia masuk dalam tokoh antagonis kedua yang hanya masuk...
