"E-Ear … Lene." Dia menoleh setelah suara bergetar itu memenuhi telinganya, gadis dengan kacamata bulat dan rambut yang nyaris menutupi matanya melihatnya takut-takut. "I-ini … aku menyelesaikan makalah, presentasi berikutnya." Sodoran Map Snelhecter dengan tangan gemetaran diiringi suara isakan yang cukup kentara.
Earlene panik sendiri, berusaha bicara, tapi setelah dia mengambil, gadis tadi malah ngacir pergi. Dia menyamakan tiap ketikan dan pendahuluan dengan makalah lain di dalam lokernya memiliki pendahuluan dan daftar isi persis. Earlene tarik kembali tentang ucapan Earlene Edzzard ternyata pintar juga. Karena sebenarnya, gadis itu hanya bisa memerintah. Jadi dia mencari.
Tergesa-gesa sampai Kafetaria, dia refleks membanting tas selempang dan mengatur nafas saat sudah duduk pada kursi samping Halynn yang menyemburkan minuman ke arah Glen sakin kagetnya. Untung gadis itu lihai bergeser secepat kilat menghindar.
"Setahun tidak menghubungi kami dan kini kau bersikap aneh," gumam Glen. Halynn mengelap ujung bibirnya dengan sapu tangan berbingkai emas, dan segera diam menanti jawaban. "Ya." Halynn melanjutkan. "Areez dan gadis sialan itu satu kelompok berikutnya, kau diam saja?"
Earlene mendelik malas. "Lalu apa yang harus kulakukan? Berontak kepada guru, dan menghajarnya?" Halynn diam, walau dia berharap itu memang Earlene lakukan.
"Oh!" Dia menjentikkan jari. "Apakah kau berniat menyerangnya nanti saat tidak ada Areez? Tenang, aku di pihakmu, dia tidak bisa terus sembunyi di belakang punggung kekasihmu. Atau aku bisa menyuruh orang menculiknya dan menenggelamkannya dalam larutan kimia. Tanpa jejak, tanpa kecurigaan." Dia menambah decak kagum.
Earlene menatapnya takut-takut. Entah bagaimana awalnya mereka bisa berteman, sementara Halynn ini punya otak psikopat mengerikan. Dia menepuk-nepuk bahu Halynn sabar. "Aku tidak mau kau jadi terkenal dengan catatan kriminal, karena Glen … bisa menangkapmu kapan saja."
Glen mendelik tak terima, dia punya koneksi dan hubungan dengan hukum. Tapi jika menyangkut teman-temannya ini, lebih baik, "Aku akan pura-pura tak tahu."
"Glen!"
Halynn tercengang hingga kehabisan alasan mengiyakan. "Kenapa?" Glen bertanya, dan sesaat Earlene merasa gadis itu mendukung Halynn dengan segala pemikirannya. Dia meletakkan kedua tangan di masing-masing tempat di kedua bahu Halynn. "Dengar, sekarang aku tidak perduli lagi dengan siapa Areez Denvart itu berhubungan. Tidak ada urusannya—"
"Tapi kau menyukainya, bukan?"
"Aku terobsesi padanya dulu, sekarang aku sudah tercerahkan. Dulu aku gila, sekarang sudah dewasa." Glen bergumam 'ya, aku bisa melihatnya' tapi Halynn kelihatan terlalu syok hanya sekedar mengeluarkan kata. "Aku benci pengkhianat, bukankah aneh jika aku berkhianat dengan menyukai orang lain sedangkan sudah bertunangan."
Ketiganya mengalihkan atensi tepat saat terdengar grasak-grusuk dari pintu masuk Kafetaria. Satu pria yang paling mencolok dari ketiganya adalah si rambut abu-abu gelap. Earlene merasa pergerakannya saja terkunci akibat netra si pemilik yang sejak awal tidak berpindah darinya. "Tumben kali—OH! Kalian merencanakan sesuatu?"
Earlene mendelik kaget, teriakan Halynn tepat di sisi telinganya. "Merencanakan apa maksudmu?" Dia mengerutkan alis.
"Tidak biasanya Damon ada di Kafetaria ini, jadi apakah kalian memiliki janji untuk perencanaan kejutan Annalee berikutnya? Sungguh pasangan yang menguntungkan."
"Menguntungkan? Pasangan?"
Halynn menatapnya seakan dia sudah gila, tapi dia segera menetralkan raut wajah dan menepuk dahinya. "Bodoh, aku lupa kau amnesia." Dia menunjuk Damon. "Damon Arschen. Pacarmu." Earlene menjatuhkan rahang. Serakah Earlene Edzzard. Sudah bertunangan, mengejar pria lain, dan punya pacar! Apa dia punya suami juga?!
DAMON! SI MALAIKAT MAUT!
"Damon menyukai Annalee? Bukannya dia menyukai Chessy?" Dalam novel, Damon terobsesi dalam penyiksaan sadis pada Chessy, tapi alasannya masih jadi misteri.
"Entahlah," Halynn menyahut. "Dia terlalu pintar menyembunyikan perasaannya."
"Dia tidak kelihatan seperti pria baik, sekarang." Earlene bergumam tanpa sadar, Halynn jadi ingin menyemburkan tawa.
"Sembilan puluh persen pria di dunia ini sama brengseknya, El! Kau tidak bisa hidup hanya dengan kata-kata manis dan … cinta!" Halynn bergidik, sementara Glen mengendikkan bahu saat menyadari arah pandang Earlene terfokus padanya.
"Apakah ayahmu juga." Earlene tidak sadar, sungguh! Dia sering bercanda begitu dengan Peony, padahal ayah mereka sudah sama-sama menjadi ubi, dasar durhaka!
Tapi Halynn tidak terganggu, sebaliknya, dia tersenyum misterius dan mengangguk pasti. "Dan aku senang, dia mewariskan sifat itu padaku. Jangan percaya pada pria, deh. Mereka itu brengsek!" sambungnya.
Earlene tersenyum masam, dia jadi teringat pada Harka yang kalem dan baik. Bahkan pria itu bahagia saat Earlene dengan santai menguras isi kartunya. Dia jadi gatal ingin menjodohkan Halynn dan Harka, nama depan mereka saja sama, apa ini artinya …
Akhir hidupnya sudah dekat! Earlene melotot, bukan karena pemikiran tentang perjodohan Harka dan Halynn, tapi, karena tidak sengaja bertatapan dengan Damon!
Bagaimana dia terikat hubungan semacam itu dengan si malaikat maut itu, psikopat sinting! Apakah memang seharusnya dia tidak kembali, karena kalau tahu begini, lebih baik menikmati hidup jauh dari semua ini. Earlene memang ingin kembali jika masih ada kesempatan, tapi kalau tahu jalan kembalinya satu-satunya adalah ini.
Dia lebih baik bahagia sampai mati di Negara S yang, di manja Harka dan Galert.
Byurr! Prakk!
Earlene menjerit tertahan. Panas merayap dari pergelangan tangannya yang basah, dia buru-buru mengibas-ngibaskan tangan sementara orang yang menumpahkan kuah tadi terduduk dengan air mata mengalir. Sialan! Dia sengaja! Glen buru-buru mengelap kuah di tangan Earlene dengan sapu tangan lembut miliknya, sementara Halynn agak menggila, dia menampar dan menendang telak gadis tadi tanpa ampun.
"M-ma-maaf," cicitnya. Oh, Earlene segera tahu suara ini, Kafetaria mendadak sunyi dan mahasiswa berbondong-bondong maju melihat. "Jalang sialan!" hardik Halynn.
Ya! Areez datang dengan wajah sangarnya seperti ksatria berkuda putih, mendorong Halynn menjauh, menarik gadis sialannya dari lantai. Bukankah dia kelihatan seperti pacar yang baik, kecuali jika tidak ada yang tahu dia mengincar orang yang ingin posisi dalam keluarganya, sebagai istri dari kakaknya. Dengan kasar Memaki Halynn.
Sementara dia berusaha untuk menggapai Annalee dengan kemarahan yang meluap. Ayolah, kenapa kini seakan gadis tolol itu adalah korban disini. "Dia sengaja! Dasar jalang!" Halynn masih tidak menyerah, menjambak dan memakinya habis-habisan.
Plakk! Brukk!
Halynn terjatuh membentur meja sambil memegang pipinya yang panas. Glen berlari lagi mengambil gadis itu dalam jangkauan, dan Earlene, dengan sorot mata tajam. Sopankah kelakuannya itu. Dia yang awalnya mendukung hubungan Areez dan Clare yang bahagia pada akhir harus menjilat kembali ludahnya, brengsek!
Areez tak sempat marah, Earlene tiba-tiba memukul kepalanya dengan nampan perak terdekat yang bisa di capainya, menarik tangannya, memutarnya ke belakang, dia memekik kesakitan dan di tendang di lutut belakang, memaksanya berlutut begitu saja di depan Halynn. Mereka kaget setengah mati, gerakan Earlene terkesan tiba-tiba dan hampir terlalu cepat untuk diimbangi.
Annalee memekik tertahan, dia maju ingin menjambak Earlene, tapi tertahan oleh tendangan Glen. Earlene berdecih sinis, dia tidak menyangka akan melakukannya dengan sempurna kali ini, biasanya dia akan jatuh berkali-kali dalam latihan yang di ikutinya pada kehidupan sebelumnya.
Earlene mengencangkan pegangannya, berbisik di telinga Areez yang merintih kesakitan. "Minta, maaf, ke, Halynn."
Suara rendah di dominasi paksaan itu di tolak mentah-mentah. "Tidak! Akan!" Dan begitu, Earlene menekan pembuluh darah leher dan arteri karotid-nya dengan ujung jari tengah dan telunjuk, lelaki itu berteriak lebih mengerikan. Earlene tidak perduli, yang penting, "Minta, maaf, brengsek!"
"Akhh! Sial!"
———
Vote and comment
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Antagonist
Fantasy"Jangan percaya siapapun." Ingat itu sampai akhir. Base jumpingnya tidak berjalan lancar. Earlene masuk dalam novel 'Infinity Words, You' yang secara misterius muncul dalam ranselnya. Sialnya! Dia masuk dalam tokoh antagonis kedua yang hanya masuk...
