9 - Mari Bertemu, Lagi

988 114 35
                                        

"Aku akan ke toilet sebentar," ucap Glen.

Ini adalah kesempatan untuk bertanya, bagaimana bisa Glen tiba-tiba muncul sementara di novel dikatakan bahwa dia mati sejak awal. Earlene memegang perut sedikit, membuat skenario kalau dia tengah sakit perut, tanpa kecurigaan, kedua teman barunya langsung cepat-cepat mengiyakan.

"Glen, bagaimana bisa?"

"Apanya?" Gadis itu tengah bercermin sambil merapikan tatanan rambutnya dan mengoles liptint tipis berwarna peach.

"Apakah kamu transmigrasi, juga?"

"Transmigrasi? Perpindahan penduduk?"

"Bukan." Ada tuntutan pertanyaan lewat netra coklat terang, dia menghentikan aksi, mendongak menatap Earlene dari cermin.

"Lalu?"

"Perpindahan jiwa."

"Pfftt ... HAHA!"

"Glen!"

"Oke, oke." Dia menyapu sudut matanya yang berair, kemudian menghela nafas dan berpindah menoleh, menatapnya secara langsung. "Nenek May memberitahuku, Halynn, dan Glen, tentang kedatanganmu. Dia menceritakan semuanya dan berharap aku dan yang lain belum boleh menemui sebelum kau sendiri yang datang ke kami."

"Tunggu, maksudmu-"

"Ya, Clare hanya pura-pura. Dia itu ketua klub teater, El!" Tawa kecilnya sulit reda, dia melanjutkan, "Aku datang beberapa minggu lalu, tidak mudah meyakinkan ayahku untuk mengizinkanku kembali."

"Apa? Kenapa?"

"Kecelakaanmu. Kakekmu dan kakekku adalah teman lama, dan berita tentang kecelakaanmu sampai padaku. Mereka sampai menyangkut-pautkan kecelakaan kita dan mencurigai orang-orang penting."

"Sudah menemukannya?"

Glen menggeleng lesu. "Belum."

Fakta baru. Hubungan pertemanan mereka didukung oleh keluarga. Keluarganya dan Halynn berkaitan, mereka adalah penguasa pasar secara berkala, dan pengaruhnya sangat besar. Memberi duka kepada dua keluaga itu sama dengan mematahkan satu tangga tempat mereka berpijak sementara.

Earlene menoleh ke kiri dan kanan. Rumah sakit ramai seperti biasa. Menyempatkan diri datang kesana setelah merasa cukup menikmati hari dengan teman-temannya yang baru selesai sore. Buket dandelion segar dalam pelukannya, dan keranjang penuh buah di tangan lainnya. Dia tidak berniat menjenguk, hanya memastikan.

"Oh, maaf. Apa aku membangunkanmu?"

Earlene menutup pintu perlahan, wajah pria itu tidak separah tadi malam, tertutup perban hampir keseluruhan, lebih tepatnya. Dia mengambil kursi untuk duduk di sisi brankar dan mengupaskan apel yang baru dibelinya setelah sang pria menggeleng menjawab pertanyaannya. Dia tak banyak bicara dan Earlene, juga tidak tertarik.

"Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Memastikan kau masih hidup atau tidak."

"Kamu mengkhawatirkanku?"

"Tidak, lebih tepatnya, aku akan menyusun kata saat dijadikan saksi di kantor polisi."

"Dasar tidak berperikemanusiaan."

"Kamu pikir, aku menyelamatkanmu dengan apa?! Perikesetanan!" hardiknya.

"Tidak sopan! Aku akan melaporkan diriku kalau kau keracunan! Aku membelinya dan berbaik hati mengupaskan." Earlene menyuapkan-memaksa mulutnya terbuka untuk menerima apel yang dikupasnya.

"Kamu ... sendirian?" dia bertanya.

"Arven diluar. Aku suka berpikir ingin menyingkirkannya, tapi jika kejadian seperti kemarin terjadi lagi, aku sudah pindah alam untuk yang kedua kalinya!"

Second AntagonistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang