12 - Protagonis Pria

731 76 9
                                        

"Areez Denvart." Earlene melotot horor, tokoh figuran yang mencintai Clare sampai akhir kuliahnya—atau bahkan, hidupnya! Bagaimana mungkin … "Dan itu, Annalee Waynd, pacarnya." Glen berkata hati-hati.

AREEZ! PACAR?

Earlene tidak sadar bagaimana caranya dia memutar kepala untuk memandang lurus ke arah Areez di ujung sana. Halynn sampai memekik tertahan dan Glen yang berkutat dengan kertas-kertas presentasi menggelengkan kepalanya. Earlene selalu lebih antuasias dari apapun jika tentang Areez Denvart, bahkan saat dia tidak mengingatnya, dia sama penasarannya.

Putaran ingatan tentang novel yang dibaca membuat kepala Earlene agak pusing. Dia kini mengerti, alasan Clare menganggap Areez tidak lebih seperti adik baik yang mendukung hubungan mereka sebagai kakak dan adik ipar. Dia menutup mata rapat-rapat tentang keseriusan pria itu.

Itu karena, Areez punya pacar!

Oh, tuhan! Brengsek darimana lagi ini.

Tapi, tunggu.

Jika Earlene menyukai Areez, dan Areez mencintai Clare, berarti, "Maksudmu, aku pernah menyukainya? Areez Denvart itu?"

"Jika kau mengingatnya, El! Kau tidak akan bisa mengalihkan matamu darinya walau sedetik! Kau juga pernah membeli flashdisk untuk menyimpan jutaan foto Areez." Earlene menjatuhkan rahang, itu namanya bukan suka, tapi … terobsesi!

"Maksudmu, aku seorang penguntit!"

"Lebih dari itu," sambung Glen Kalem.

Fakta satu ini tidak benar, Earlene Edzzard punya tunangan, tapi terobsesi kepada pria lain! Pria mana yang tahan punya tunangan semacam itu. Dan gilanya, dia terobsesi pria yang jelas-jelas mencintai sepupunya.

"Sedang memikirkan rencana?" Earlene tersentak, Halynn meletakkan kaleng soda dingin di pipinya, dia mengambil kaleng itu dan membukanya, meneguknya rakus.

"Tidak perlu." Glen mengacuhkan tugas yang ia bawa di Kafetaria, beralih menatap Earlene serius. Halynn yang juga kelihatan sedang membersihkan seuprit debu dari cardigan berbulu langsung mengalihkan atensi pada Earlene. "Maksudku, kenapa kita tidak berbaikan dengan mereka dan hidup damai saja? Aku berhenti kali ini."

"Hahaha … " Halynn tertawa hambar, meski Glen nyaris mengeluarkan bola matanya. Gadis itu menepuk-nepuk telinga kanan kirinya bergantian. "Setelah pulang aku harus memeriksakan telingaku … "

"Yeah … " Glen melanjutkan. "Lucu sekali, bisa-bisanya aku mendengarnya."

"Nah, ayo ulangi, apa yang coba kau katakan?" Halynn memandangnya dengan senyum tipis, jelas sekali amat berharap pendengarannya kali ini benar-benar salah.

"Aku berhenti mengejarnya." Halynn menggebrak meja dengan tidak santainya, Glen menatapnya seakan dia adalah buronan rumah sakit jiwa. Earlene segera menarik Halynn duduk kembali. Yang benar saja, bahkan Areez dan teman-teman satu meja meletakkan atensi pada mereka.

Glen meletakkan telapak tangan pada dada Earlene—letak dimana hatinya berada dalam sana. "Kau menjalani transplantasi hati, tapi kenapa aku merasa … otakmu yang berbeda?" Dia menarik tangannya ngeri, apakah gadis di depannya—hantu?!

"Jangan bercanda." Earlene menimpali, mengangkat tangan kirinya di atas meja, memamerkan cincin berlian putihnya yang mengkilap. "Aku sudah bertunangan, apa aku bahkan tidak memberitahukan kalian?"

"Oh, mustahil." Halynn mengibaskan tangannya santai. "Tapi kemarin-kemarin kau hanya menganggap itu sekedar relasi dan akan membatalkannya saat usiamu legal dua puluh satu tahun. Lalu kau akan bercerita tentang khayalan masa depanmu bersama Areez dan punya anak lucu—"

Lagi-lagi Earlene menempelkan telapak tangannya mencegah Halynn bicara lebih banyak. "Aku sudah tidak menyukainya, oke? Anggap dulu aku remaja labil yang ingin semuanya sempurna dalam hidupku."

Halynn dengan tak sabaran menyingkirkan telapak tangan Earlene dari mulutnya, dan melanjutkan, "Ya ampun, apa mengganti hati bisa otomatis mengganti perasaan?"

"Aku hanya ingin melanjutkan hidup dengan tenang. Melewati masa kuliah yang damai dan mengambil masa depan cerah."

"Bagaimana kamu melanjutkan hidupmu? Kau bilang tak bisa hidup tanpa dia." Dia berdehem memikirkannya. "Dengar, aku gadis bodoh yang gila saat itu. Sekarang, lupakan masa lalu dan jemputlah masa depan." Dua temannya itu menatapnya meminta penjelasan, tapi Earlene tak ambil pusing, dia melambaikan tangan seolah itu bukanlah hal yang perlu di khawatirkan.

"Dimana Clare?" Dia mengedarkan netra ke sekeliling, tidak sulit menemukan Clare yang mencolok di antara teman-temannya, tapi kali ini, gadis cantik itu tidak ada.

"Mungkin kamu bisa mulai berhitung."

Earlene tidak mengerti sebelumnya, mulut terbuka yang mau melontarkan pertanyaan itu tertutup saat kegaduhan sampai pada telinga mereka. Rambut coklat gelap, dan tampan. Itu cuma berarti satu hal sekarang.

"Apa Clare memang segila ini?"

"Jika ku katakan kau kadang lebih gila dari ini, apa kau percaya?" Halynn bertanya.

"Tidak." Halynn tersenyum masam.

Si tampan protagonis pria!

Halynn dan Glen saling lirik saat Areez di ujung sana meninggalkan sang pacar. Dia datang seperti seorang ksatria, membantu Clare berdiri setelah adu mulut. Pria yang manis, tapi kesan brengseknya masih ada.

"Elen!" Halynn memekik, dia dan Glen segera menyusul Earlene yang lebih dulu maju ke sana. Mereka pikir dia akan seperti biasa, memaki Aaron habis-habisan, lalu meminta Halynn dan Glen mengantarkan Clare ke Ruang Kesehatan, lalu dia akan buat alasan untuk tetap bersama Areez.

Tapi sekarang tidak, gadis itu menarik Clare untuk pergi dari sana, tanpa sadar bagaimana reaksi Aaron. Dimarahi di depan umum! Hal apa lagi yang lebih memalukan dari itu. "Elen, apa yang—"

Mereka terpaksa menelan bulat-bulat tanda tanya dalam benak karena kelas pagi itu segera dimulai. Dalam kelas Sir Mile, saat membahas memahami fungsi manajerial dan fungsi operasional MSDM untuk dapat mengelola SDM dalam Organisasi bisnis maupun non bisnis—materi baru bulan itu, dan dia lanjut menyuruh salah satu dari mereka mempresentasikan hasil analisis.

Earlene dengan bangga angkat tangan dan menerangkan secara detail, dia lebih dari senang ketika mereka bertanya. Halynn tidak bisa menahan diri untuk menjatuhkan rahang. Dan Sir Mile di meja dosen mirip orang kena serangan jantung. Ketika kelas di bubarkan setelah pembagian kelompok presentasi berikutnya. Earlene menuju lokernya—yang sudah di perbaiki karena dia melaporkan memiliki masalah ingatan dan lupa kode untuk mengakses loker itu.

Beberapa makalah dan kertas bertumpuk rapi di dalamnya. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat apa itu. Ternyata makalah dan presentasi yang harusnya di kumpul beberapa bulan sebelumnya. Dan rupanya Earlene Edzzard ini cukup pintar, tapi di kelas, kenapa mereka melihatnya seolah dia adalah narapidana yang kabur.

"Duluan saja, Lynn. Aku perlu mencari lembar presentasi. Aku akan menyusul."

"Tumben sekali kau mencari?" Halynn mengerutkan alisnya tak senang sekaligus heran, kenapa gadis ini jadi mirip Glen.

"Aku mengerjakannya tidak mudah."

"Kau … mengerjakannya?" Anggukan Earlene seperti bumerang yang siap dalam hitungan detik menghantamnya. Halynn mengatur nafasnya dalam mode manual tanpa sadar, ini sungguh mengejutkan!

"Glen dan Clare pasti menunggu, duluan sana!" Earlene mengangguk meyakinkan, gadis itu memeluk tumpukan buku dan kertas yang membuat Halynn memandang aneh. "Pesan minuman dan tunggu aku."

Halynn menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Glen ada di perpustakaan dan kalau kau mencari Clare, lebih baik cari Aaron."

Earlene mengusirnya tidak sabar, akan tambah pusing jika gadis itu mengintilinya dengan ocehan yang tidak habis-habis.

———

Vote and comment


Second AntagonistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang