18 - Earlene Mengakuinya

533 83 17
                                        


"Lihat, betapa beruntungnya Automobile Vargoz R.G punya Tuan Muda Hetfard sebagai penerus." Suara tawa sekenanya memenuhi ruangan VIP satu itu, empat orang berdiri melingkari satu meja persegi.

"Saya selalu memakai kinerja maksimal."

"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Muda Hetfard." Mereka berjabat tangan, menandai persetujuan kerjasama antara dua perusahaan terkemuka di kota LA.

"Persentasi yang luar biasa, ya?" ucap Harvey—rekan bisnis sekaligus teman masa SMA-nya. Mereka bersulang, Ryden menenggak minumannya dengan wajah datar khas biasanya, pemikirannya agak rumit malam ini, dan mereka menikmati minuman lagi setelah mengantarkan klien.

"Seseorang mengerjakannya."

"Kurasa kau harus berterima kasih dengan seseorang itu. Hasil kerjanya bagus. Bukan salah satu karyawan kantormu?" Mereka bersulang lagi, Ryden menggeleng sebagai jawaban setelah menghabiskan minuman.

Keduanya terus bersulang dalam ruangan VIP satu itu. Harvey sudah di kelilingi empat jalang, dan dia kelihatan puas sekali selagi Ryden berdecih. "Check-in sana."

"Ide bagus! Mau bergabung?" Menatapnya datar, pria itu mengalihkan tatapan dari manusia penuh dosa di depannya. "Ayolah, Dude! Kurasa mereka juga punya pria—"

"Sialan, kau, Hans!" sinis Ryden. Sejak tadi dia mengancam kalau ada yang berani mendekatinya, di pastikan orang itu akan jadi pengangguran seumur hidupnya. Jadi mereka jaga jarak dari radius dua meter darinya, dan hanya mengirimkan kedipan.

Harvey tertawa sampai terbatuk-batuk. Ryden hampir tidak pernah dekat dengan satu wanita-pun. Saat sekolah, pria itu terlalu rajin belajar, kini saat meneruskan perusahaan, malah lebih fokus dengan itu.

"Aku bertanya-tanya bagaimana Elen si manisku bisa tahan denganmu." Ryden tak peduli, sebaliknya, dia malah mengajak Harvey bersulang lagi. Jika kau bosan dengannya, aku akan sangat senang—"

"Coba saja."

Harvey memicingkan mata tidak tenang, jelas sekali pria itu. "Kau mengizinkanku sekarang, apa gunanya jika pulang nanti, yang tersisa dariku hanya sebatas nama."

"Sekarang otakmu ditempatnya, ya?"

"Sial, Gave!" Harvey tidak bisa marah sekarang, aroma alkohol serta desahan manja mulai mengalun indah di telinganya seperti ritme memabukkan. "Kudengar dia sudah tidak mengejar Areez Denvart, eh?"

"Bukankah itu—ah … "

"Brengsek, Hans! Sewa kamar sana." Dia melempar kartu kredit temannya yang sejak tadi mendesah tidak karuan. Ryden berada di ruangan VIP untuk bebas dari suara-suara itu, tapi teman sialannya ini semakin lama malah semakin menjadi.

Dia masih pria normal!

Harvey check-in kamar dan dia keluar dari ruang VIP, lalu Lewis mengekorinya.

Ryden tidak berniat memakai jasnya lagi, bahkan dua kancing teratas kemejanya sudah terlepas. Memicingkan mata, tapi setelahnya memijat dahi, mungkin efek alkohol, dia mengira putri pemilik Bar adalah Earlene, karena terbiasa melihat gadis itu dengan pakaian mencolok.

"Aku gila, apa karena presentasi aku jadi terlalu memikirkannya," gumam Ryden.

"Anda bicara apa?" Itu suara Lewis.

"Bisa-bisanya aku melihat dia, disini."

"Siapa yang anda maksud, Sir?"

"Earlene—kurasa penglihatanku agak bermasalah sekarang." Lewis mengikuti arah pandang Ryden sebelumnya. Meneliti orang-orang dalam ruangan VIP empat.

Second AntagonistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang