6 - Toko Milik Shannan

991 108 24
                                        


Earlene berjalan-jalan santai dalam Pusat Perbelanjaan pada malam berikutnya. Dia perlahan terbiasa dengan kemeja dilipat sampai siku dan celana panjang, rambut coklat gelap di cepol rapi. Earlene dengan bangga memuji dirinya sendiri. Persis seperti wanita karir yang tengah naik daun.

Anak rambut sebatas dagunya melambai dari sudut wajah. Bibir cerah dipoles lip mask, alis tebal yang cantik dan bulu mata lentik mempesona. Earlene sendiri akan mempertanyakan mata mereka kalau tidak menjadikannya pusat perhatian kala dalam wujud bak dewi ini. Yeah, sedikit sombong dengan tubuh baru sepertinya tak masalah.

"Arven. Belikan aku koin lagi."

"Nona, tidakkah sebaiknya anda istirahat?"

"Sepuluh menit lagi."

"Anda mengatakannya puluhan kali-"

"Sekali lagi berdebat denganku, lebih baik kamu tinggal di mobil!" Arven menunduk sekali, buru-buru pergi ke kasir untuk menukarkan koin untuk kesekian kalinya.

Earlene memandang kaca mesin capit satu setengah jam dengan harapan mendapat salah satu boneka cinnamorol di dalamnya. Arven sampai mengambilkannya kursi lain untuk duduk, dia mendapatkan boneka karakter lain, tapi menginginkan satu itu.

Arven tidak absen membujuknya untuk membeli saja di etalase lain, tapi Earlene bertingkah tidak mendengarnya. Memang benar apa yang Peony katakan, bahwa mesin capit itu Narkoba versi halal. Dia ingat saat Peony mengajak pergi setelah menghabiskan hampir dua ratus ribu.

Earlene menghela nafas lega, rencananya untuk mandapat boneka itu berhasil pada detik kedua koinnya hampir habis, lagi! Satu jam empat puluh delapan menit, dia ngeri sendiri memikirkan Arven berdiri selama itu tanpa duduk atau menegurnya.

Pusat perbelanjaan selalu menjadi ide bagus untuk menghabiskan waktu. Earlene berjalan dalam diam hampir satu jam lebih di sana. Tidak bisa dikatakan sendirian sebenarnya. Tidak peduli seberapa kasar dia mengusir Arven, pria itu mengikutinya tanpa bertanya atau minta izin. Sepertinya, memang hanya mematuhi perintah Harka secara teknis, tidak peduli penolakannya.

Padahal dia sudah menyuruh pria itu untuk mengantarkan belanjaannya dan tunggu di mobil, tapi sepertinya perintah Earlene lebih mirip angin lalu. Arven diam-diam mengikutinya dari radius beberapa meter.

"Wah, aku mengunjungi orang sibuk."

"Earlene!" Shannan berseru senang, segera menghampiri adik iparnya, mencium pipi masing-masing-dan Earlene memutuskan untuk belajar setelah dua hari di sana.

Dia sudah berada dua hari untuk adaptasi, tapi belum ada jadwal turun di Universitas, dia belum berkomunikasi dengan salah satu teman atau kenalannya. Keluarganya menutup rapat perihal kedatangannya ini.

Shannan adalah salah satu pemilik toko pakaian mewah dan ber-merk dalam pusat perbelanjaan yang di desain oleh dirinya sendiri, wanita cantik dengan desain luar biasa yang bekerja dengan brand ternama, Vaza de Val'eur, perusahaan ibunya sendiri yang akan segera berpindah jadi miliknya.

"Kamu tidak memberitahuku," Earlene memberikan wajah marah main-main. Dia memicingkan mata, "Jika tidak mencari tahu lewat Arven, aku tidak akan tahu."

Shannan menipiskan bibirnya, bersyukur atau entah bagaimana tentang ingatan Earlene. Coba saja gadis ini tahu dirinya sendirilah yang tidak ingin menginjakkan kaki di tokonya, tidak jarang membakar pakaian dan aksesoris pemberiannya.

"Lupakan." Shannan melambaikan tangan di udara dengan wajah sumringah. "Aku pikir CEO muda darimana yang mampir ke toko kecil milikku." Dia membalik-balik tubuh Earlene, memutarnya dan memuji penampilannya dari atas hingga bawah.

"Kamu membuatku malu!" balasnya kecil, tapi wajahnya lebih terkesan puas daripada malu. "Aku bosan di rumah, mall adalah tempat bagus untuk menjernihkan pikiran."

Shannan menariknya berkeliling, tidak terlalu banyak pembeli yang menanyakan dirinya, wanita cantik ini punya pegawai dan assisten yang cekatan. Meski dia sibuk dalam toko, Earlene tetap prioritasnya saat ini. Seberapa sering sih dia mengunjungi etalase Shannan, tugasnya sekarang adalah menikmati, dan Earlene tenggelam dalam baju-baju mewah membentuk deretan rapi.

"Apakah kamu menginginkan salah satu?"

"Omong kosong," sahutnya cepat, wajah antusias Shannan berubah muram, tapi pilihan kata selanjutnya membuatnya menghela nafas lega. "Aku akan ambil yang banyak dan biarkan kakak-kakak tercintaku membayarkannya untukku."

Keduanya terkekeh renyah. Shannan tidak akan meragukannya. Earlene benar-benar punya Bank berjalan dalam genggamannya tanpa sadar. Jika seluruh kekayaan mereka di total-total, Earlene akan menjadi orang kaya pertama di Negara ini, dan pemegang kekayaan termuda dalam usia ganjilnya.

"Pilih yang kamu inginkan, ayo."

"Oh, tidak, tidak. Kamu akan bangkrut kali ini, Kakak ipar." Dia terkekeh riang, tidak menampik betapa senangnya punya barang mewah yang diberikan secara gratis dalam waktu dua hari. Sekaya apapun dirinya sekarang, gratis tidak boleh di lewatkan!

"Kemana kamu setelah ini." Keduanya berhenti di kasir seusai menghabiskan dua jam lebih berkeliling, toko Shannan bisa dikatakan paling mewah dan besar, kedua.

"Pulang, mungkin. Tiga jamku sudah habis dan kakiku rasanya masih bisa dipakai untuk beberapa jam kedepan. Tapi mataku agak mengantuk dan aku menghabiskan waktu di kasur." Earlene tidak berbohong meski kenyataannya tidak mengantuk, dia ingin menyelesaikan tontonan netflixnya!

"Boleh aku menitipkan sesuatu?"

"Apa?"

"Sesuatu." Shannan memberikan senyum misterius yang agak konyol. "Dan sedikit kejutan, aku akan mengirim alamatnya."

Earlene bersenandung riang dengan wajah berseri-seri dalam perjalanan pulang, tidak juga, Shannan memintanya mengantarkan kotak hitam yang dihias pita biru gelap berkilauan. Dan wanita itu mengatakan tentang kejutan? Agak ngeri sebenarnya, Earlene bukan tipikal orang yang tidak menyukai kejutan. Hanya saja, desiran aneh dalam hatinya berkata sebaliknya.

Dia sudah bisa mengendarai mobil, setelah berlatih seharian penuh. Tidak sulit belajar berkendara, dia hanya perlu menyalakan mode belajar yang terhubung pada sistem mobil, dan gotcha! Usaha memang tidak mengkhianati hasil. Sekilas, tidak ada perbedaan dunianya yang di masa lalu dan dunia yang sekarang dirinya tempati ini.

Mata uang mereka masih sama, begitupun lagu-lagu populer dan K-drama. Tapi yang mengundang decak kesal Earlene adalah karena ketidak-adaan film thriller, misteri dan action-fantasi yang diperankan pacar beda negaranya dulu. Tidak ada Tom Cruise, Brad Pitt, Dylan O'Brien, sampai Andrew Garfield tercintanya itu di sini!

Dia mencarinya beberapa waktu lalu di internet. Entah ini untung atau buntung. Dia jadi ingin melakukan drift seperti di film Fast and Furious. Tapi sepertinya, sebelum dirinya sempat menyentuh rem tangan, mobilnya sudah terjun bebas dan menabrak pembatas jalan. Earlene tengah berkendara melintasi jembatan panjang.

Citt!

———

Vote and comment






Second AntagonistCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang