Netra biru cemerlang terbuka perlahan, hal pertama yang di sambutnya adalah buram. Kelopaknya mengejap perlahan, bulu mata lentik bergerak mengimbangi, berusaha menetralkan pandangannya. Ada ringisan terdengar beberapa kali, denyut hebat melanda kepalanya, membuatnya refleks meraba nyeri, perban panjang melingkari daerah kepalanya sampai ke belakang.
Teriakan menggema dengan panggilan dokter secara berulang, dan ia merasakan tubuhnya di peluk bersamaan tangisan pilu menggumamkan Ellie berkali-kali dalam pendengarannya. Biru cemerlang menutup, menyesuaikan nafasnya sebelum kembali membuka mata. Pandangannya perlahan jelas. Suara mesin elektokardiograf dan selang infus yang terpasang di tangannya memperjelas posisi dirinya sekarang ini.
Perlahan tapi pasti, mendongakkan sedikit kepalanya, meneliti lebih pasti tentang ruangan serba putih tempatnya itu. Wanita di sebelahnya terisak, membingkai wajah gadis itu dengan senyum nanar. "E-Ellie, s-sayang … betapa-senangnya-aku … "
Asing.
Pelukan itu lagi. Terasa hangat, Earlene sendiri lupa kapan terakhir kali ia di peluk seseorang. Kehilangan sudah seperti nama belakangnya. Ibu dan ayah kecelakaan, kakak perempuan bunuh diri akibat hamil dari kekasih tak bertanggung jawab, kakak laki-lakinya meninggal secara misterius. Lalu jasad adiknya yang ditemukan tiga hari setelah kematian kakak laki-lakinya.
Mengenaskan. Dan sebatang kara.
Wanita itu mengecup setiap wajahnya berulang kali, kemudian menangkup kedua pipinya dengan penuh kasih. "Demi tuhan, Ellie! Terimakasih, sudah, bertahan."
Ketika dia memandang lamat-lamat wanita berumur yang masih kelihatan bugar di sampingnya, sampai dokter laki-laki muda tergesa-gesa datang untuk memeriksanya.
"Nona, kamu mengingat namamu?"
"E-Ear-lene," lirihnya, lebih seperti bisikan yang teramat minim. Bibirnya terasa kaku seolah dia lama tidak menggunakannya.
Dokter mengajak keluar wanita berumur yang menunggunya, Earlene berusaha mengingat. Sore itu dia bersama enam temannya menuju tebing, hari terakhir healing membuat mereka sepakat untuk melakukan Base Jumping dan parasut yang menjadi kunci utama sudah di periksa oleh masing-masing. Awalnya Cale, Mike, di susul Peony, Gilska, dan terakhir Earlene.
Tidak ada yang aneh hingga parasutnya mendadak macet, berteriak pada temannya dan Cale—yang paling dekat berusaha menangkapnya. Hilang fokus, pria itu tak sadar mendekati sisi tebing. Berakhir mereka menghantam hingga ledakan kecil menghantarkan sengatan berdenyut nyeri pada kepala Earlene. Dia selamat, apakah Cale—notabene penyelamatnya, selamat.
*****
Lemah.
Itulah kondisinya menjelang seminggu setelah dinyatakan sadar. Dia sempat koma kembali setelah sadar. Fakta-fakta baru yang aneh kerap kali mengganggunya.
Earlene Katarina Edzzard, yang menjadi identitasnya. Dapat Earlene simpulkan adalah bahwa, gadis itu memiliki kelainan genetik terkait fungsi hati. Dan kecelakaan yang menyebabkannya koma sekitar lima bulan memperburuknya, hingga keluarga Earlene Edzzard ini menyetujui tentang transplantasi liver. Dan entah bagaimana, dia bisa pindah mendadak dalam tubuh ini.
Earlene Edzzard diceritakan mati dalam halaman mendekati akhir Novel. Dia jadi menyesal membalik halaman-halaman dan hanya membaca inti ceritanya saja. Tahu begini, dia akan mencoba menghafalkan seluruh informasi terkait Earlene Edzzard.
Berarti … mungkinkah alasan Earlene Edzzard mati pada akhir di dalam novel adakah kecelakaan mengenaskan tersebut?
Kemungkinan paling masuk akal adalah ketika melakukan operasi, tubuh Earlene Edzzard yang seharusnya mati pasca operasi, hidup kembali, tapi dengan jiwa yang berbeda—Earlene Cellestine Fraye.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Antagonist
Fantasy"Jangan percaya siapapun." Ingat itu sampai akhir. Base jumpingnya tidak berjalan lancar. Earlene masuk dalam novel 'Infinity Words, You' yang secara misterius muncul dalam ranselnya. Sialnya! Dia masuk dalam tokoh antagonis kedua yang hanya masuk...
