Earlene segera saja merasakan apa yang namanya populer, ketika tiap pasang mata menatapnya seakan dia bulan paling indah dan bersinar cerah di tengah hirup-pikuk keramaian mahasiswa. Asing dan tidak nyaman, jika biasanya dia seperti debu tak berharga, rupanya berbeda saat dia ada di Stanford. Earlene sampai mengedarkan pandangan pada inci tubuhnya sendiri.
Pakaiannya sopan, rok span yang tidak terlalu ketat berwarna hitam, sweater rajut khaki-hitam-cream dengan bagian depan belakang dimasukkan dan bagian samping di keluarkan. Dan rambut coklat gelapnya yang di kuncir, menyisakan anak rambut di sepanjang sisi kanan kiri. Tas selempang coklat bahan kulit tergantung di bahu kiri, lalu tumpukan tugas di tangan kanannya.
Heels jenis Loafers dengan tinggi empat centi yang nyaman. Oh, jangan lupakan cincin pertunangannya di jari tengah kiri, lalu jam tangan hitam brand Deir. Satu hal lain yang Earlene pelajari adalah, beberapa Brand terkenal yang tidak ada di dunianya dulu ada disini, seakan zaman lebih maju.
Dan setiap brand terkenal disini karena produksinya terbatas, atau hanya di perjual belikan dalam lelang mewah yang khusus.
Coba mengabaikan tatapan memuja penuh damba orang-orang, malah makin parah, ada yang terang-terangan memujinya dan memuat tusukan tidak nyaman di hatinya. Tidak berlangsung lama, sesaat ketika menaiki tangga, Vargoz Hetfire bermacam seri berbaris dengan deru mesin indah dari depan gerbang, berjejer di depan fakultas, semua orang menjulurkan leher mereka.
Empat pria keluar dari masing-masing tiga mobil itu. Kesan yang Earlene berikan adalah, tampan. Walau tidak setampan si pria toko bunga yang kemaren diantarkan olehnya ke Rumah Sakit. Sepertinya dalam dunia ini, seluruh penghuninya sempurna.
Yang paling depan, dengan rambut coklat acak-acakan terkesan benar-benar tampan. Tunggu, pria itu mirip dengan pria yang ada di lima ratus foto dalam lemari milik Earlene Edzzard. Tapi dia tidak mungkin datang ke sana untuk bertanya, demi tuuan! Pria itu tidak sendiri, dia punya gadis cantik lain yang turun dari mobilnya.
dia menaiki tangga dengan tenang. Earlene rasa dia hanya berputar-putar saja karena demi Tuhan! Orang-orang memperhatikan tapi tidak ada satupun yang berniat untuk menunjukkan jalan atau mungkin kelas.
"Cantik sekali, kupastikan jadi pacarku."
"Tipenya bukan sepertimu, bodoh!"
"Begini rupanya penampakkan bidadari."
"Ya ampun tubuhnya sangat ideal!"
"Pindahan atau mahasiswa transfer?"
"Wajahnya terasa familiar."
Sepertinya dia harus membiasakan diri dengan gumaman penasaran dan tatapan lekat. Yang membuat hatinya menghangat adalah gadis berambut pirang sebahu, cukup—sangat mencolok! Dengan sepatu panjang hak tinggi dan cardigan putih berbulu, kelihatan sangat mewah. Gadis itu melirik sekilas, menurunkan kacamata merah muda dan memindainya langsung.
Suara ketukan hak sepatu memelan, dia melihat dress ketat yang gadis itu pakai gemerlapan oleh glitter. Cardigan putihnya hanya menutupi atas sampai pinggang, bahkan dia tak memakainya dengan benar, hanya bagian tangan dan bahu polosnya terekspos. Sesaat menghela nafas lega, tapi rupanya gadis itu melewatinya, berjalan sembari memasang kacamata merah muda.
Baik, kini Earlene merasa harga dirinya di pertaruhkan. Ia merasa mengenal siapa itu, menurut ciri-cirinya, tapi jika memanggil dan ternyata salah sasaran, bagaimana?
Persetan dengan semuanya—
"Halynn!" Hamburan glitter glamour itu berhenti, Earlene bergegas menyusul, dia melayangkan tatapan hangat, sementara netra coklat gelap di depannya menatap aneh dan mengintimidasinya. "Huh, ya? Butuh sesuatu dariku, mahasiswa baru?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Antagonist
Fantasy"Jangan percaya siapapun." Ingat itu sampai akhir. Base jumpingnya tidak berjalan lancar. Earlene masuk dalam novel 'Infinity Words, You' yang secara misterius muncul dalam ranselnya. Sialnya! Dia masuk dalam tokoh antagonis kedua yang hanya masuk...
