- Bandara Nasional Negara L, Kota LA.
Earlene menarik kopernya santai. Terakhir dia berpergian dengan kelima temannya, lalu Peony dan dirinya sibuk tertawa dan Gilska yang terus merecoki mereka dengan fantasi luar biasa kota Paris, dan yang paling ingin dia kunjungi, Menara Eiffel.
Arven menawarkan diri puluhan kali untuk membawakan kopernya, tapi Earlene menolaknya mentah-mentah. Isi kopernya cuma beberapa makalah, berkas, MacBook dan Smartphone. Sedia payung sebelum hujan, berbekal dengan meminta tolong pada Arven untuk melihat pelajaran Studi Bisnis dan beberapa tambahan saat kuliah, ia yakin bisa mengejar ketertinggalannya.
Jeffran Edzzard-kakak sulungnya ini menjemput di bandara bersama sang istri, Shannan Edzzard yang sudah menjalani waktu pernikahan kurang dari tiga tahun. Sepertinya sekarang Earlene mulai terbiasa dengan adegan berpelukan sebelum bicara perkenalan. Juga kecupan bergantian di masing-masing pipinya setelah pelukan dengan Shirleen selesai, agak canggung.
Ketika bertemu Peony biasanya, mereka jarang saling sapa. Karena gadis itu akan langsung merecokinya, entah dengan film, drama, ataupun novel dan seluruh isi cerita yang baru di dapatnya dari platform media sosial. Juga tidak ada tanda-tanda selamat datang yang spesial dari teman-temannya yang lain. Kadang hanya saling sapa atau ber-high five, normal seperti umumnya.
"Kau jalang, sialan!"
"Sampah mana yang kakakku gali sampai dapat jalang kurang belaian sepertimu!"
"Menjauh dari hidupku!"
"Kau terlalu ikut campur!"
"Sore, senang bertemu kalian lagi."
Dilihat dari wajah mereka, Earlene baru ingat bahwa dia berbeda, entah apa mereka telah tahu tentang amnesianya atau belum. Shannan bahkan tidak mau bersusah payah menyembunyikan ekspresi kagetnya, dan Jeffran, yang lebih mirip patung itu masih mencoba biasa saja. Agak mustahil May tidak memberitahu mereka, bukan?
Untuk Shannan, Earlene masih mencoba mengakrabkan diri walau ingatan jahat perlahan singgah. Dia tidak ingat apapun ketika bersentuhan dengan Jeffran-atau karena memang sering begitu. Kadangkala ingatan itu muncul, atau tidak sama sekali.
Earlene tidak ikut pulang dengan mereka, dia membawa Arven untuk berkendara menuju pemakaman. Tujuannya sekarang adalah menemui orang tua si pemilik tubuh ini, seperti janjinya pada May dan Harka.
Vargoz XI2 hitam menyapa jalanan. Ini adalah jenis kendaraan mengesankan pada waktu ini. Jika dunianya dulu ada macam Lamborghini, Ferrari, sampai Buggati. Disini, Vorgaz-lah, penguasa tertinggi alat transportasi modern. Mode pintarnya bisa menandai jalan yang di lewati, Earlene yakin bahkan jika berkendara sendirian, tidak ada istilah 'tersesat' kecuali karena ...
Jaringan.
Lebih mirip maps, hanya saja ada penanda tujuan sebelumnya, petunjuk arah jalan dan, pemindai jalan aman. Benar-benar versi dunia sempurna. Apa tindak kriminal seperti pembobolan mobil masih berlaku?
Earlene tidak pernah merasa setenang ini ketika berada di jalan raya menunggu lampu lalu lintas berganti. Atau mungkin karena dia keseringan memakai sepeda atau kendaraan bermotor ketika berangkat menuju Universitas bersama Peony. Suara bising kendaraan tidak ada, ketenangan signifikan dengan pohon-pohon peneduh jalan memblokir sengatan matahari.
Dan mobil pintar ini, dia begitu menikmati untuk segera memakainya sendiri. Earlene sudah punya SIM, di masa lalu atau masa sekarang. Hanya perlu belajar berkendara, dan dia bisa pergi kemanapun, menikmati banyak tempat-tempat yang selalu ingin dia kunjungi pada kehidupan sebelumnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Second Antagonist
Fantasi"Jangan percaya siapapun." Ingat itu sampai akhir. Base jumpingnya tidak berjalan lancar. Earlene masuk dalam novel 'Infinity Words, You' yang secara misterius muncul dalam ranselnya. Sialnya! Dia masuk dalam tokoh antagonis kedua yang hanya masuk...
