Delja tidak bisa melepaskan tatapan dari lonceng angin itu, atau mengabaikan denting lembutnya yang indah.
"Tidak usah dipelototi terus," Namar berkata sambil berkonsentrasi pada petanya. "Tidak akan kabur ke mana-mana."
Angin berembus sepoi-sepoi sehingga lonceng berbunyi tanpa henti. Delja yakin dia akan tertidur dalam posisi seperti ini. Di lautan, tak pernah dirinya mendengar suara ringan semacam itu, yang mengingatkannya pada kicau burung dan keriangan polos seorang anak kecil.
Namar menghela napas berat.
Iya, aku tahu, Delja berkata kesal walau Namar tidak bisa mendengarnya. Tetapi ketika menoleh, dilihatnya Namar masih menatap ke arah peta dengan wajah gusar. Lagi-lagi, dia menghela napas berat sambil meraih buku catatannya dan memeriksa peta sekali lagi.
"Sudah pasti di sana," Namar menggerutu. Delja buru-buru naik ke ranjang dan menahan Namar agar tidak segera menyimpan petanya, ikut penasaran dengan lokasi Jantung Biru Samudera.
"Di sini." Namar yang paham dengan gelagat Delja pun menunjuk ke satu titik yang nyaris kosong, berbeda dengan bagian peta lainnya yang penuh dengan gambar daratan.
"Samudera Nekra, atau turut dikenal sebagai Samudera Jiwa yang Mengembara." Namar berdecih. "Seharusnya aku bisa menebak sejak awal kalau di tempat seperti itulah pusaka lautan berada."
Delja meraih peta dan mengamati wilayah yang ditandai dengan arsiran pensil hitam.
"Area di sekitar sini yang harus kita jelajahi," Namar menjelaskan. "Ini akan sulit. Perairan yang harus kita lalui semakin menantang. Ditambah lagi, navigasi kapal akan sulit di tengah badai." Kegalauan makin tampak dalam air muka Namar. "Salah-salah, aku akan menggiring seisi Red Plague menuju kematian."
Delja menggeleng. Kakakku akan membantu.
"Membantu dengan apa tepatnya?" tanya Namar. "Kecuali mereka bisa menenangkan badai."
Delja tersenyum kecut. Duyung tidak bisa melakukan hal semacam itu. Tapi, pasti ada yang bisa dilakukan.
Setelah mengenyampingkan petanya, Namar mengempaskan diri ke ranjang dengan gerakan gontai. Baru kali ini Delja melihat semangat gadis itu surut.
"Padahal aku tahu ini sulit," Namar berkata lirih. "Tapi sekarang semuanya semakin terasa mustahil."
Dalam hati Delja, muncul sensasi menyesakkan dada yang tidak dipahami. Dia berandai-andai dirinya masih seekor duyung. Setidaknya Delja bisa mencoba menyembuhkan Kapten Ilona dengan nyanyiannya daripada membiarkan Namar pergi ke tempat yang begitu berbahaya.
Turut merasa lelah, Delja ikut membaringkan diri di sebelah Namar. Keduanya sama-sama memandangi langit-langit kamar dalam diam. Delja bertanya-tanya akankah keadaan menjadi lebih mudah jika mereka terus membisu dan hanya memejamkan mata, membiarkan segala sesuatu berjalan dengan sendirinya.
Keadaan tidak akan lebih mudah, suara hati Delja berkata dengan penuh kesadaran. Kau hanya punya pilihan untuk mencoba atau pasrah.
Kalau saja dulu Delja tidak ragu dan menusuk Eryk. Kalau saja dia tidak sebodoh itu dengan jatuh cinta pada seorang manusia. Kalau saja Delja tidak pergi ke permukaan. Kalau saja, kalau saja, kalau saja. Pasti hidupnya akan lebih mudah di bawah air, tidak perlu memusingkan hiruk-pikuk dunia atas.
Maka dia tidak akan bertemu Namar. Dia tidak akan tahu kalau ada seorang manusia yang mencarinya ke seluruh lautan hanya demi berterima kasih. Dia tidak akan tahu kalau dirinya pernah menyelamatkan seseorang dari bahaya. Dia tidak akan tahu bagaimana rasanya berteman dengan manusia yang sungguh mau mendengarnya, bukan cuma menganggap Delja sebagai boneka penghibur yang cuma tahu berdiam diri sambil tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Heart for A Heart
FantasyDelja mengorbankan segala sesuatu untuk pria itu. Pada akhirnya yang didapatkan hanyalah hati yang patah. [Spin-off Prekuel from Ruin and Salvation Duology] | • | Ketika Delja, sang putri duyung, jatuh cinta kepada manusia, dia mengorbankan banyak h...
