Elijah yakin anak perempuan itu akan mati.
Tubuhnya bergetar hebat ketika diangkat oleh para kru ke atas kapal. Dia tidak sempat melihat lebih jelas karena Nyonya Ilona segera membalutnya dalam selimut dan membawanya ke kamar utama. Selama beberapa hari, anak itu di dalam sana. Hanya Jeanne, Kapten Bartosz, dan nyonya yang boleh masuk untuk melihat kondisinya.
Pada hari keempat, Elijah sudah mendengar kabar soal kesadaran anak itu. Tapi berhubung kunjungan belum diperbolehkan, dia mencari informasi dari pihak lain.
"Namanya Anamaria," Jeanne berkata sambil mengaduk kuah ikan di dalam kuali. "Kapal yang dia naiki karam di tengah badai."
"Dan dia sendiri yang selamat?" selidik Elijah.
"Sungguh keajaiban, bukan?" Jeanne menghela napas. "Gadis malang. Yatim piatu di usia muda."
Elijah tidak merasakan hal serupa. Dia sendiri yatim piatu sejak lahir, dibesarkan oleh panti asuhan terbengkalai yang pengurusnya begitu pemarah. Tidak ada yang menyebutnya malang untuk itu.
Pada hari ketujuh, gadis itu akhirnya dibiarkan keluar. Dia mengenakan pakaian Elijah semasa lebih muda. Rambut panjangnya yang hitam legam diikat kuncir kuda. Tatapannya nyaris tidak berekspresi, tapi Elijah mengenali ketakutan sekaligus kegugupan yang berusaha dia sembunyikan.
"Tuan dan nyonya sekalian, ucapkan selamat datang kepada kru baru kita." Kapten Bartosz menepuk bahu si anak perempuan. "Anamaria Diaz, dari Reina de Maximillum. Pedro, kuharap kau bisa membantu Namar beradaptasi di sini. Kalian berasal dari kerajaan yang sama."
Pedro si Cemberut mengangguk patuh. Dia mengulurkan tangan, mengajak Namar ke sisinya. Baru saja sembuh dan anak itu sudah diajari soal tali-temali oleh sang kepala kelasi kapal. Semua orang kembali pada kesibukan masing-masing, tapi tak bisa dipungkiri mereka bertanya-tanya dengan asal-usul anak misterius itu.
"Kapten yakin ingin mengajaknya bergabung?" tanya Elijah, ketika mendapatkan kesempatan untuk berdiri di dekat sang atasan. "Dia kelihatan... tidak cocok di kapal."
"Bah! Tidak cocok apanya?" sergah Kapten Bartosz. "Jelas-jelas dia dikirim kepada kita oleh lautan. Sekocinya bergerak berlawanan dengan kapal kita. Kalau bukan karena kiriman dewa, bagaimana lagi dia bisa datang?"
Mungkin dia kiriman iblis, Elijah menggerutu dalam hati.
Kendati menjadi anggota termuda Red Plague, para kru tidak memberi Namar banyak toleransi. Dia dilatih memanjat tiang kapal, disuruh membersihkan geladak, bahkan diperintah mengangkat barang ke sana-sini. Anak itu masih menangis sewaktu seseorang menaikkan nada suaranya, tetapi dengan cepat dia akan berhenti dengan sendirinya lalu kembali bekerja. Terlepas dari perlakuan tegas yang gadis itu dapatkan, tetap saja ada saat tertentu ketika orang-orang melembutkan sikap mereka.
Aneh. Sungguh anak aneh.
Elijah mengabaikannya sebisa mungkin. Dia tidak mau mengurus bocah bau kencur yang kemungkinan akan merengek minta dibebaskan. Atau, begitulah dugaannya semula.
Selama sebulan, dia berhasil menghindari percakapan dengan anak perempuan itu. Elijah hanya mencuri lihat dan dengar dari sekitar, menantikan saat di mana seorang kru berkata 'Yah, kapten akan menurunkannya di kerajaan A, atau kerajaan B. Kehidupan kapal terlalu berat untuknya'. Sayangnya ucapan semacam itu tak kunjung didengar.
Sebaliknya, Elijah mendengar pujian dari Pedro, si pria paling berwajah masam dan kelihatan mustahil memberi pujian.
"Dia cepat belajar," ujar Pedro, saat makan malam. Pria itu duduk dekat Kapten Bartosz dan Nyonya Ilona untuk melapor hasil pengawasannya. "Anak itu tidak banyak mengeluh dan pendiam."
KAMU SEDANG MEMBACA
A Heart for A Heart
FantasiDelja mengorbankan segala sesuatu untuk pria itu. Pada akhirnya yang didapatkan hanyalah hati yang patah. [Spin-off Prekuel from Ruin and Salvation Duology] | • | Ketika Delja, sang putri duyung, jatuh cinta kepada manusia, dia mengorbankan banyak h...
