Extra Chapter 3 ini berlangsung sebelum Extra Chapter 1.
Btw ini yang terakhir yaa :"
Happy reading 🩵
⋆.ೃ࿔*:𓇼⋆.ೃ࿔*:⋆
Namar menemukan Delja sedang berjongkok di bawah pohon, mengamati sesuatu di tanah dengan keseriusan tingkat tinggi.
Sejak tadi dia menunggu sambil berjalan-jalan di sekitar hutan, sekalian memeriksa keamanan di sekitar. Dia mengira Delja sedang sibuk memetik bunga, namun nyatanya keranjang gadis itu masih kosong.
Namar berjalan ke belakang Delja, ingin tahu apa yang menyedot perhatian gadis itu sedemikian dalamnya. Tapi yang Namar temukan di tanah cuma sebaris semut yang sedang membawa makanan ke sarang di bawah bebatuan. Beberapa ekor dari mereka membawa tubuh tak bernyawa dari seekor belalang sembah.
"Lihat, lihat!" Delja menarik-narik tangan Namar, mengajaknya ikut berjongkok. "Mereka sedang apa?"
"Membawa makanan."
Delja terkesiap. "Hewan hijau itu juga? Kupikir mereka akan menyelamatkannya."
"Tidak, pollita. Mereka akan mengunyahnya."
Tiba-tiba saja Delja memekik kesakitan. "Aduh! Sesuatu mencubit tanganku lagi!" Dia memeriksa lengannya, dan langsung merengek ketakutan. "Namar, aku bersumpah tanganku tidak seperti ini sebelumnya. Apa gigitan ini beracun?"
Melihat benjolan putih kemerahan di kulit Delja, dengan pelan Namar menariknya bangun. "Kau digigit nyamuk. Makanya jangan diam di satu tempat." Dilepaskannya gulungan lengan baju Delja yang sebelumnya mencapai siku agar menutupi sisa tangannya. "Akan kucarikan salep oles setelah kita kembali ke pasar. Jangan gulung lengan blusmu lagi.
"Tapi sekarang panas sekali," Delja mengeluh. Mereka menjauhi barisan semut tadi dan lanjut melaksanakan tujuan awal mereka mendatangi hutan ini.
Hari ini Kapten Ilona berulang tahun dan Delja ingin sekali membuat rangkaian bunga liar yang dipetiknya sendiri. Tapi sudah dua jam mereka di sini dan setiap beberapa menit perhatian Delja akan teralihkan, entah oleh semut di tanah, tupai di pohon, dan ilalang yang nyaris menyumbat pernapasan Delja karena dia menghirupnya terlalu kuat.
"Aku jadi berpikir," ujar Delja, "kalau ada banyak semut, apakah mereka bisa mengangkatku juga?"
"Aku tidak tahu, tapi kalau itu terjadi kurasa tandanya buruk. Memangnya kau mau dibawa ke sarang dan dimakan?"
Delja bergidik. "Tidak. Oh, lihatlah! Itu bunga yang lucu!"
Gadis itu sudah duluan menunduk di rimbunan dedaunan gelap dengan bunga kecil berwarna keunguan. Dengan ujung telunjuk, diusapnya bunga itu sambil memasang ekspresi sumringah.
"Coba lihat ini." Namar menyentuh salah satu daun, yang kemudian menguncup dan menunduk.
Delja terkesiap. "Apa yang kau lakukan?!"
"Ini putri malu. Kalau kau menyentuh daunnya, maka mereka akan menguncup. Tapi nanti daunnya akan mekar kembali."
Delja mencoba menyentuhnya sendiri, lalu segera menarik tangan ketika daun yang disentuhnya bereaksi. Langsung saja bola matanya berbinar bak menemukan harta karun. Ujung kakinya berjingkrak-jingkrak senang. "Hebatnya! Seperti sihir!"
Sesuai dugaan Namar, Delja tidak berniat pergi sampai dia menguncupkan semua putri malu yang terlihat. Hanya dengan seperti ini saja gadis itu sudah tertawa girang seperti anak kecil.
"Apa di lautan ada tumbuhan seperti ini juga?" tanya Namar.
"Tidak. Tapi, kami punya hewan yang mirip tanaman. Kau tahu anemone?"
KAMU SEDANG MEMBACA
A Heart for A Heart
FantasyDelja mengorbankan segala sesuatu untuk pria itu. Pada akhirnya yang didapatkan hanyalah hati yang patah. [Spin-off Prekuel from Ruin and Salvation Duology] | • | Ketika Delja, sang putri duyung, jatuh cinta kepada manusia, dia mengorbankan banyak h...
