⚠️TW: Terdapat pembahasan implisit mengenai kekerasan seksual di bawah umur yang akan membuat beberapa pembaca merasa tidak nyaman⚠️
⋆.ೃ࿔*:𓇼⋆.ೃ࿔*:⋆
Mimpi itu selalu datang ketika Delja sedang lelah.
Dirinya berjalan di sebuah lorong gelap, tidak ada jalan selain menuju kamar Eryk. Di dalam sana, sang pangeran telah menanti bersama jalinan rantai yang dipamerkan pada Delja bak untaian perhiasan mewah.
"Tetap di sini."
Tahu-tahu saja Delja telah terbelenggu. Hanya ada sekotak kecil jendela menuju dunia luar, memamerkan bentangan luas lautan yang tak pernah akan digapai lagi, atau daratan yang tidak akan Delja pijak. Eryk, berdiri di sampingnya, dengan tangan mengusap kepala Delja dengan lembut. Pemuda itu kemudian berlutut di depannya, memancarkan senyum menawan yang membuat hati Delja meleleh.
Tetapi ketika bibir mereka bertemu, rasanya seperti menyesap racun. Panas. Sesak.
Delja terbangun dengan tarikan napas tajam dan sentakan pada kakinya. Betapa khawatir dirinya saat mendengar keributan jantungnya sendiri di telinga, berharap awak lain yang sedang beristirahat tidak terganggu olehnya.
Seraya menenangkan diri, diamatinya langit-langit kapal yang terus bergoyang. Tempat tidur gantungnya tidak pernah tenang, begitu sempit. Tapi ini satu-satunya jenis ranjang yang muat dalam kamar kru. Dia suka dengan ranjang gantung itu. Rasanya seperti dibuai dalam pelukan seorang ibu. Ditambah, Delja tidak perlu takut terguling jatuh ketika kapal sedang terguncang ombak.
Delja mencoba memejamkan mata lagi, berharap buaian tersebut bisa kembali meninabobokannya. Semenit, dua menit, bahkan belasan menit berlalu tanpa hasil yang memuaskan. Setiap Delja menutup mata, dia malah terus diingatkan dengan segala sesuatu yang terjadi.
Wajah Eryk memenuhi benaknya. Terakhir kali Delja bertemu pemuda itu adalah ketika dia berada di geladak dasar Red Plague, mengutuk keberadaan Delja. Setelahnya mereka tidak pernah bertatap muka lagi. Delja benci mengakui betapa dia takut menghadapi pemuda itu. Dia tidak tahan melihat mata yang dulu begitu lembut padanya kini menatapnya penuh dendam.
Dia ikut ambil bagian dalam semua perubahan itu. Berkali-kali Namar berkata bahwa itu bukan salahnya; bahwa Delja sudah berbuat benar dengan melawan. Tapi, masih saja perasaan pedih itu menjadi parasit yang menggerogoti hati dan pikirannya, menyalahkan Delja atas segala sesuatu yang dilakukan.
Bahkan meski luka tikaman Namar membuat Delja membenci Eryk, dia masih saja berpikir bahwa dirinya turut andil dalam insiden itu. Sebab semua ini sederhana saja: jika Delja tidak melawan, Eryk tidak akan bersikap demikian.
Merasa tidak bisa lagi bertahan di tengah kegelapan dan keheningan, Delja turun dari ranjang gantungnya dengan hati-hati dan keluar dari kamar.
Sambil meregangkan persendian yang pegal-pegal akibat mengurus tali dan layar kapal, Delja berjalan menuju haluan, mengamati cakrawala di bawah naungan sinar rembulan yang lembut. Arus laut sedang tenang, membuat Delja berhasrat untuk terjun dan berenang.
Setelah nyaris tiga bulan tidak berlayar—akibat proses negosiasi dengan Imperium Halina, perbaikan kapal, serta menunggu angin baik berembus—akhirnya Red Plague kembali mengarungi Lautan Erllian dengan Rosecrown sebagai perhentian berikutnya.
Pada gudang kapal, beberapa barang berharga dari pasar gelap Halina siap diantarkan ke rumah baru mereka, yakni para saudagar yang mampu mengajukan harga tertinggi ketika pelelangan dimulai. Sebagian lainnya merupakan barang dagangan yang dititipkan ke Red Plague, sebab para pedagang sekalipun lebih mempercayai keselamatan barang mereka pada kapal ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Heart for A Heart
FantasyDelja mengorbankan segala sesuatu untuk pria itu. Pada akhirnya yang didapatkan hanyalah hati yang patah. [Spin-off Prekuel from Ruin and Salvation Duology] | • | Ketika Delja, sang putri duyung, jatuh cinta kepada manusia, dia mengorbankan banyak h...
