Tujuh hari berlalu dalam perasaan waswas. Terlepas dari pengejaran Eryk, yang kadang bertambah dekat ataupun jauh tergantung dari angin dan ombak, secara umum kondisi awak dan kapal Red Plague baik-baik saja.
Delja mencoba tidak memikirkan apa yang akan mereka temui setelah ini dan menyibukkan diri dengan tugas di dapur sekaligus belajar sedikit soal perkapalan. Dia berusaha lebih keras lagi agar tidak bolak-balik ke buritan setiap beberapa menit sekali untuk memeriksa kapal yang tengah menyusul mereka.
Di hari ke delapan, perubahan mulai terasa di wilayah lautan yang akan mereka lalui. Awan mendung serta dorongan angin yang lebih kencang membantu mempercepat gerak kapal.
Ketika ombak bertambah besar, Delja hanya diizinkan berdiri di lorong kabin karena dikhawatirkan air laut akan mulai terciprat ke sana-kemari. Para kru, termasuk Namar, disibukkan dengan tali-temali. Layar yang lebar mulai digulung supaya tiang tidak patah akibat embusan angin yang terlalu kencang.
"Storm Catcher mulai kesulitan menjangkau kita," ujar Elijah. "Mari berharap saja pangeranmu tidak duluan mati dilalap ombak."
Delja pun enggan memikirkan kemungkinan itu.
"Tapi harus kuakui, dia teguh pada pendiriannya. Seminggu lebih berlayar mengejar perempuan yang menolaknya. C'est dingue!" Elijah bertepuk tangan kecil. "Kalau aku sudah pasti mencari gadis lain."
Lalu kenapa? tanya Delja.
"Kenapa apanya?"
Eryk.
Elijah menaikkan sebelah alis. "Kenapa Eryk masih mengejarmu? Mana aku tahu."
Delja mencebikkan bibir. Harusnya kau tahu.
"Heh, kalau tidak tahu mana mungkin bisa dipaksakan?" Elijah bersandar pada dinding lorong kabin sambil mengawasi keadaan di geladak utama. "Well, sebagai seorang pria, aku tahu beberapa lelaki punya keinginan yang kuat untuk mengejar sesuatu. Entah karena dia benar-benar menginginkannya atau sekadar untuk memenuhi ego semata."
Obsesi? tanya Delja, ingin membuktikan teori Namar.
"Ya, obsesi juga masuk akal. Aku tidak tahu apakah Eryk itu mencintaimu atau tidak, yang jelas dia akan mencari segala cara mendapatkanmu, ma belle."
Walau masih menjadi misteri mengapa seseorang harus berepot-repot dengan cara seperti ini, Delja harus membiasakan diri. Dunia manusia memang seaneh itu.
"Kau sebaiknya masuk kamar saja," suruh Elijah. "Aku harus membantu para awak."
Delja mengerutkan kening dan mulut. Dengan tangannya dia membentuk nama Namar.
Elijah menghela napas. "Pangeranmu masih jauh dan Namar tidak akan bisa membunuhnya, jadi kau tidak perlu khawatir. Dan bila badai membuatmu cemas, percayalah Namar sudah terbiasa menghadapinya. Jadi, bolehkah kau masuk dulu dan biarkan aku menangani kapal?"
Walau masih ingin mengamati suasana mendung yang berlangsung, Delja tidak ingin merepotkan Elijah lebih lama. Dia mengintip ke luar, ingin memastikan Namar masih ada di tempatnya.
"SIREN!"
Teriakan itu membuat Elijah sontak menarik napas tajam. "Merde! Ambil ini!" Elijah membuka tas kecil di pinggangnya dan mengeluarkan dua benda berbentuk seperti corong kecil. "Masuk ke kamar dan sumbat ini ke telingamu. Paham?"
Delja menunjuk Elijah, tapi pemuda itu sudah lebih dulu mendorong Delja. "Aku masih punya, urus dirimu sendiri!"
Dan di tengah ucapan Elijah, nyanyian lirih itu mulai terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Heart for A Heart
FantasyDelja mengorbankan segala sesuatu untuk pria itu. Pada akhirnya yang didapatkan hanyalah hati yang patah. [Spin-off Prekuel from Ruin and Salvation Duology] | • | Ketika Delja, sang putri duyung, jatuh cinta kepada manusia, dia mengorbankan banyak h...
