Panas.
Namar bisa merasakan teriknya mentari di kulit. Tapi pada saat bersamaan dia menggigil. Tubuhnya lembab dan pakaiannya lengket ke kulit. Apa pun yang ditidurinya terasa keras sehingga dia tidak ingin terlelap lebih lama. Maka Namar membuka mata.
Kayu berwarna cokelat kehitaman menjadi yang pertama dilihatnya. Dari ekor mata, cahaya menusuk tepat ke jangkauan pandang, memaksa Namar menaikkan tangan dan menghalau sinar tersebut. Tapi kejutan tidak sampai di sana. Sewaktu bangun dan mendapati dirinya dikelilingi air, ada bagian dari diri Namar yang seolah tenggelam. Dadanya bak dihimpit oleh air yang bahkan tidak disentuhnya saat ini.
Dia berada di atas sebuah sekoci seorang diri. Sejauh mata memandang, tidak ada kapal atau manusia lain yang terlihat.
Namar menggosok matanya beberapa kali. Dia mencubit lengan hingga mengaduh kesakitan. Tetap saja dirinya tidak bangun dari mimpi buruk itu. Malahan, Namar semakin disadarkan bahwa dia memang di tengah lautan seorang diri.
Bagaimana bisa?
Terjadi pemberontakan besar-besaran di benak kecilnya, tidak sudi menerima semua ini sebagai kenyataan. Tapi memori Namar membawanya pada badai dahsyat yang melanda malam itu, ditambah guncangan yang begitu hebat hingga getarannya menembus rusuk Namar. Dia ingat Papa disuruh membantu awak di geladak utama karena layar sudah terlalu sulit dikendalikan. Saat Mama dan wanita lainnya meringkuk di kamar yang mereka bagi, Namar mengambil kesempatan untuk menyelinap keluar, berniat menarik Papa kembali ke dalam.
Namar ingat jantungnya seperti jatuh ke lantai ketika gulungan ombak setinggi gunung dan kilat yang membutakan terpampang tepat di depan matanya. Sekilas dia teringat pada Sierra de Caprino, pegunungan batu di kampung halamannya yang kerap menjadi tempat perkumpulan kambing gunung liar.
Namun, ini berbeda dengan kampung halamannya yang nyaman dan tenang. Ini adalah akhir dari segalanya; selangkah menuju pengadilan terakhir Yang Maha Kuasa.
Namar bisa merasakan dirinya mundur, hingga sesuatu menghantam tubuhnya dari belakang dan menghilangkan keseimbangannya. Dengan mudah dirinya tergelincir, jatuh melalui lubang pembuangan air di tepi bawah kapal.
Walau sudah sadar apa yang terjadi, tetap saja butuh waktu untuk memproses kenyataan. Dan selama itu pula Namar masih menggosok matanya, mencubit tangannya yang sudah perih, menengok ke sekeliling demi bala bantuan yang tidak kunjung terlihat.
Lalu air mata datang dan dia tidak bisa lagi berpikir. Yang bisa dan ingin dia lakukan cuma menangis.
Tangisan itu begitu keras di tengah lautan maha luas yang senyap, ditemani irama angin dan ombak yang terlalu segan mengeraskan suara. Namar berteriak sekeras yang dia bisa, berharap dengan demikian ada yang mendengar tangisannya. Mungkin sosok-sosok di langit pun bisa mendengar dan menuntunnya ke jalan pulang.
Sekoci yang dinaiki berguncang dan Namar bungkam seketika. Tapi bukan berarti dia tidak mau lanjut menangis.
Namar ingin menangis, menjerit, dan pingsan detik itu juga.
Dua tangan kecil berselaput tipis memegangi tepian sekoci Namar. Sepasang mata kuning balas menatapnya. Kepala yang melongok itu cuma tampak setengah sehingga Namar tidak tahu apa sosok asli dari makhluk yang mirip anak perempuan itu. Tapi dia sadar tidak mungkin ada anak kecil di lautan seperti ini—yah, kecuali dirinya.
Siren merupakan pikiran pertama Namar. Makhluk itu selalu berkeliaran di lautan mana pun, menantikan saat tepat untuk mengambil nyawa mangsanya. Apakah Namar akan dimangsa oleh anak siren? Atau mungkin ini lebih buruk lagi?
Makhluk itu menaikkan sisa wajahnya dan menyandarkan dagu di tepi sekoci, seperti anak pada umumnya yang penasaran pada suatu hal. Barulah Namar bisa melihat betapa normal tampang makhluk itu. Malah, dia kelihatan cantik. Dengan mata seperti madu dalam toples yang biasanya ditaruh Mama di tepi jendela dan rambut bagaikan perairan dangkal yang jernih dengan sedikit sentuhan warna hijau muda.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Heart for A Heart
FantasyDelja mengorbankan segala sesuatu untuk pria itu. Pada akhirnya yang didapatkan hanyalah hati yang patah. [Spin-off Prekuel from Ruin and Salvation Duology] | • | Ketika Delja, sang putri duyung, jatuh cinta kepada manusia, dia mengorbankan banyak h...
