HD [08]

33.7K 1K 359
                                        

Bagian 08

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagian 08

Citra berjalan lunglai menuruni tangga. Sudah 2 hari sejak sore itu Juan menghilang, tapi seperti janjinya pada Citra cowok itu tetap membelikannya permen gula-gula. Jujur Citra sedikit merasa bersalah, apa perkataannya waktu itu sangat menyakiti Juan?

"Ayo non sarapan, sudah di tunggu tuan dan nyonya." Perkataan embok Yati menyadarkan gadis itu dari lamunan.

Citra mengukir senyum tipis di bibir. "Iya mbok, ngomong-ngomong Juan gak kerumah sama sekali mbok?"

Embok Yati menggeleng lemah, melihat ekspresi anak dari majikannya itu nampak terlihat begitu murung. "Enggak non."

"Kalo nelpon atau kirim pesan mbok?"

Gelengan lemah dari embok Yati kian menambah rasa kecewa sekaligus cemas. Apa Juan semarah itu padanya?

"Non lagi berantem ya sama den Juan." Embok Yati mendekat, mengusap punggung gadis itu pelan. "Percaya deh sama embok, nanti den Juan juga pulang."

"Kayaknya aku mbok yang bikin Juan terluka. Jadi wajar kalau Juan marah." Citra berucap lirih.

"Embok tau alamat apartemennya den Juan, embok anter ke sana ya? nanti embok bantuin bujuk den Juan biar baikkan sama non Citra." Embok Yati mengulas senyum menyakinkan.

Citra memandang mbok Yati penuh haru. "Makasih ya mbok, tapi baiknya aku aja yang ke sana. Aku gak mau Juan ikutan marah sama mbok."

"Ya sudah kalau gitu, embok kasih alamatnya aja ke non."

Citra mengangguk pelan, selang dari itu embok Yati menuliskan alamat tersebut di secarik kertas. Lalu memberikannya pada sang gadis.

Memasukan kertas tersebut ke dalam tas, Citra lalu ijin pamit pada embok Yati untuk menemui kedua orang tuanya.

"Pagi Mom, Pi." Citra menyapa Sandra sekaligus Prama orang tua angkatnya, tak lupa memberikan salam pada mereka untuk pamit. "Aku langsung berangkat ya."

"Enggak sarapan dulu?" tanya Sandra lembut.

"Udah telat Mom, sarapan di kantin aja nanti."

Sandra geleng kepala. "Kebiasa deh kamu, bangun siang mulu."

"Ya gitu Mom." Citra menyengir lebar. "Udah ah Citra pamit, dadah Mom, Pi."

"Hati-hati di jalan Nak." Pesan Prama sebelum gadis itu menghilang di balik pintu. Walau mereka bukan lah orang tua kandung tapi Citra amat bersyukur. Sebab atas kebaikan sang tante serta suaminya itu telah mau mengadopsinya. Di saat Citra tak memiliki siapapun di dunia ini selepas kepergian kedua orang tuanya.

"Rencana kamu gimana mas? aman-aman aja kan." Sandra memotong roti bakar di piringnya dengan pisau kecil. Sekilas melirik ke arah suaminya tengah membaca koran.

Menaruh koran tersebut ke meja, Prama menyesap coffe panas di tangannya seraya tersenyum miring. "Aman dong sayang. Lagi keponakan kamu itu terlalu bodoh."

Heavily DamagedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang