HD [16]

2.8K 96 8
                                        

Tolong tandai typo ya sengg 📌

Ramaikan komen kalian di tiap paragaf ya 🫶

Ramaikan komen kalian di tiap paragaf ya 🫶

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagian 16

Citra menatap bangunan menjulang tinggi di hadapannya dengan linglung. Dia tidak tau apa yang dilakukan sekarang benar atau tidak. Sesaat gadis itu memundurkan langkah ragu. Namun lagi-lagi ia mengingat tak ada tempat teraman selain kediaman Candra.

Hanya tempat ini ia bisa melarikan diri dari jangkauan Juan. Citra tak ingin mengambil resiko bila ia menumpang di salah satu rumah temannya dan menyaksikan Juan mengacau.

Menghela napas sejenak, gadis itu pada akhirnya menekan bel di sisi gerbang. Perlahan gerbang tinggi itu terbuka lebar untuknya. Seorang satpam langsung menghampiri Citra, penuh ramah pria paru baya itu mengantar Citra sampai ke pintu utama kediaman Candra.

Citra tidak membawa begitu banyak barang, ia hanya membawa 1 koper ukuran sedang, berisi pakaian, skincare dan alat make up. Jangan kalian tanya mengapa ia tak bawa seragam sekolah serta buku pelajaran. Ujian akhirnya sudah selesai dan ia dinyatakan lulus. Justru yang membuat Citra bingung saat ini ia harus mengambil jurusan apa untuk kuliah nanti.

Entahlah Citra merasa tak memiliki bakat dalam bidang apapun. Belum lagi mengingat nilai-nilainya selalu di bawah kkm. Bisa lulus saja sudah jadi sebuah keberuntungan. Ah sial! mendadak ia jadi mengingat sahabatnya. Citra merindukan Alaka, sahabat brengseknya itu menghilang tanpa kabar dan Citra tidak tau Alaka berada dimana sekarang. Pertemuan terakhir mereka waktu Citra mengunjungi rumah sakit, kala sahabatnya terkena luka tembak.

Lamunan gadis itu seketika buyar. Tatkala matanya menangkap sosok Ervan berjalan‐---ralat mendekatinya dengan kursi roda. Menyedihkan, tapi itu semua masih belum cukup, Citra ingin melihat cowok itu lebih menderita lagi.

"Mas Epan!" Gadis itu berlari kecil menghampiri Ervan. Sorot matanya penuh binar seakan-akan ia benar-benar menyukai cowok itu.

"Kenapa lo gak kabarin gue, kalo mau ke sini?" Citra tak menjawab pertanyaan Ervan, melainkan berjongkok dihadapan cowok itu dan mengecup singkat pipi kanan Ervan. Lalu memberi instruksi agar kepala Ervan sedikit menuduk serta mendekat kearahnya.

"Sengaja, biar jadi surprise," bisik Citra tepat di telinga cowok itu.

Ervan menganggukan kepala pelan, lalu pandangannya beralih pada koper pink yang tunangannya bawa. "Koper--- lo bawa itu untuk apa?"

Citra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Itu---anu rencana aku mau tinggal di sini sementara waktu. Boleh kan mas Epan?"

Tangan cowok itu terulur, mengusap lembut puncak kepala gadisnya. "Iya boleh, tapi lo udah minta ijin belum ke orang tua lo?"

"Udah dong, sebenernya juga aku udah bilang ke Papa David. Karena dibolehin, jadinya aku langsung ke sini deh." Citra tersenyum lebar dengan mata berkedip-kedip lucu.

Heavily DamagedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang