[Spin of ALAGAN : On Going]
Ketika obsesi dan kebencian berbaur menjadi satu, maka kah yang menjadi pemenangnya?
Kisah ini tentang Citra Elviora dalam ambisinya menaklukkan Ervan Candra. Sosok cowok dingin, kasar, dan hampir tak pernah tersentuh ole...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagian 10
Hari yang Citra tunggu-tunggu akhirnya tiba. Malam ini rembulan nampak menggantung sempurna di langit, cahaya keemasannya memantul dan menyusup melewati dinding kaca gedung megah tempat acara itu berlangsung. Lampu-lampu kristal berkilau di setiap sudut, menciptakan suasana elegan nyaris tak nyata.
Dengan langkah perlahan, Citra menuruni tangga marmer berwarna gading. Dress putih panjang yang dikenakan gadis itu menjuntai anggun, mengikuti setiap gerakan tubuhnya. Kain tersebut berkilau lembut, menempel sempurna di tubuh Citra, seolah diciptakan khusus untuknya malam ini. Rambut gadis itu ditata rapi dan riasan wajah sederhana, meski sederhana kecantikan Citra tetap terpancar alami.
Di samping gadis itu, Ervan berjalan dengan postur tegap. Setelan jas hitam tampak mahal dan pas di badan cowok itu, berpadu dengan kemeja putih bersih serta dasi kupu-kupu menambah kesan formal sekaligus dingin—sesuai dengan sikap pemiliknya. Wajah Ervan tetap datar, nyaris tanpa ekspresi, seakan pesta megah ini hanyalah sebuah formalitas belaka.
Tanpa sadar senyum konyol terbit di bibir Citra. Jantung gadis itu berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia masih enggan percaya. Bahwa keinginannya menjadi tunangan cowok cool itu akhirnya tercapai. Definisi kalau jodoh enggak bakal kemana.
“Lo kenapa?!” ketus Ervan tiba-tiba, melirik gadis itu sekilas dengan alis sedikit mengkerut.
Citra tersentak, senyumnya perlahan memudar. Ia menyipitkan mata lalu menggeleng kepala kecil. Tidak bisa kah cowok itu bersikap hangat, hanya untuk malam ini saja? sepertinya mustahil.
Menarik napas dalam-dalam, Citra segera mengatur ulang ekspresinya. Ia kembali memasang senyum anggun, senyum yang pantas untuk seorang calon tunangan di hadapan para tamu dan kerabat terdekat mereka. Bagaimanapun juga, malam ini adalah malam sakral.
Pesta pertunangan itu digelar di salah satu hotel bintang lima milik Candra Group. Gedung megah dengan interior modern berbalut kemewahan klasik. Langit-langit tinggi dihiasi lampu gantung kristal, sementara lantai marmer memantulkan cahaya sempurna. Di sudut ruangan, deretan meja dipenuhi aneka hidangan kelas atas. Mulai dari makanan pembuka hingga pencuci mulut, semua itu tersaji dengan tata letak yang memanjakan mata sekaligus lidah.
Acara berlangsung lancar, diiringi alunan musik lembut menenangkan. Hingga akhirnya tiba momen yang dinanti, pertukaran cincin. Jemari Citra sedikit bergetar saat cincin itu melingkar di jarinya. Sebuah simbol sederhana namun sarat akan makna, janji, harapan, dan masa depan.
Tak lama setelah prosesi selesai, Ervan berjalan menghampiri Argan (sahabatnya) disusul Citra dibelakang ikut mengekori cowok itu.
Tatapan Argan tampak begitu gelisah, dan Ervan sadar betul apa yang menjadi penyebab-nya. Lagi-lagi pasti karena gadis jalang itu, Alaka. Perempuan yang sangat dirinya benci, selain karena dia hampir membuat sahabatnya celaka. Gadis itu pula yang membuat persahabat mereka bertiga menjadi hancur!