[Spin of ALAGAN : On Going]
Tentang Citra Elviora dalam misinya mengejar dan mendapatkan Ervan Candra. Serta Ervan yang kerap kali menolak kehadiran gadis itu. Lalu Juanda Gasta Elbara sosok yang diam-diam terobsesi pada kakak tirinya.
⚠️Warning⚠️
...
Fyi ada bagian yang aku hapus di bab 10, supaya nyambung sama bab ini 🙏
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bagian 11
[2 jam sebelum kecelakaan Ervan]
Di sudut lorong hotel dekat area restroom tampak seorang pemuda berdiri tegak dengan tangan bersekedap dada. Ia mengenakan kemeja marron dibalut jaz hitam, sorot mata pemuda itu tak lepas dari seorang gadis yang tengah berdiri disebelah pria yang kini berstatus sebagai tunangan-nya.
Pemuda itu menggertakkan gigitnya, kesal melihat perempuan itu diperlakukan kasar oleh tunangannya. Ah, dia jadi ingin meninju pria itu sekarang. Tangannya benar-benar sudah gatal ingin segera melayangkan tinju. Namun hal itu harus tertahan, karena janji sialan yang ia buat bersama gadisnya tadi pagi.
Ia diperbolehkan datang ke acara pertunangan ini, asal tidak membuat keributan apapun. Jika melanggar, gadis itu mengancam tidak akan mau menemuinya lagi. Persetan! hal ini benar-benar memuakkan bagi Juan.
Kalau dipikir-pikir seharusnya dia yang berada di sana. Bertunangan dengan gadisnya, bukan pria sialan itu.
Sungguh menyebalkan!
Juan menarik sudut bibirnya, kala melihat pria itu meninggalkan gadisnya seorang diri tengah-tengah pesta itu. Tanpa membuang kesempatan Juan merogoh ponselnya disaku celana, mengetik sederet pesan yang tertuju untuk gadisnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Melihat Citra berjalan ke arahnya, Juan segera bersembunyi dibalik pilar. Tangan cowok itu berganti merogoh saku jaz, mengeluarkan sapu tangan sekaligus botol kecil berisi anestesi. Tanpa menunggu lama Juan menyemprotkan cairan itu ke sapu tangannya. Hingga saat jarak keduanya sudah saling mendekat, Juan keluar dari tempat persembunyian serta membekap mulut gadis itu hingga ia hilang kesadaran.
Lagi-lagi cowok itu mengukir senyum kecil disudut bibirnya. Semua orang hanya sibuk dengan pesta itu, ditambah keadaan lorong area ini cukup sepi. Memudahkan Juan untuk melancarkan aksinya.