HD [14]

2.7K 86 2
                                        

Bagian 14

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagian 14

Di kejauhan terlihat gadis berambut hitam tengah menenteng sebuah plastik, kaki jenjangnya melangkah tak bergairah disepanjang lorong rumah sakit. Hari ini adalah hari kelima sejak Ervan tersadar dari koma-nya. Dan Citra sudah menemani cowok itu dari pagi buta. Kalau boleh jujur sebetulnya Citra sangat malas, namun mengingat bahwa semua ini demi tujuan balas dendamnya. Sebisa mungkin Citra menyemangati dirinya sendiri.

Sekilas Citra melirik plastik yang ia bawa. Isi plastik itu hanya beberapa cemilan ringan dan jus buah yang ia beli dari kantin rumah sakit.

Benak gadis itu berkelana, tujuan awalnya sudah hampir tercapai. Namun ada satu masalah yang cukup membelitnya yaitu Juan. Citra tidak tau kapan Juan akan berhenti, dan yang paling membahayakan adalah dirinya sendiri. Citra takut jika ia semakin tertarik kearah Juan, pertahanannya akan runtuh.

Selama ini Citra sudah cukup menekan perasaannya sendiri. Agar tidak melibatkan cinta dalam menjalani misi ini, sampai balas dendam itu tercapai.

Langkah Citra mendadak terhenti, sewaktu berbelok di ujung koridor. Di sana terlihat cowok berpostur besar tengah berdiri tegak seolah menunggunya.

Sontak mata Citra melebar, ia langsung melirik ke sembarang arah dan beralih memelototi cowok itu. Meski jaraknya berkisar lima meter dari tempatnya saat ini, Citra yakin kalau Juan yang kini bersandar di dinding itu tengah tersenyum lebar.

"Hai."

"Sial, Juan!" maki Citra pelan. Dia harus segera menyingkirkan cowok itu dari sini sebelum Ervan melihatnya. Citra berlari kecil, dia sempat tak menghiraukan orang-orang berlalu lalang hingga beberapa kali menyenggol pengunjung rumah sakit. Gadis itu sesekali minta maaf, namun kembali lagi memasang wajah marah ke arah Juan.

Juan melihat pemandangan itu penuh minat. Tubuh tingginya bersandar di dinding yang bersebalahan dengan pintu ruang inap. Dibalik pintu itu ada seseorang yang sangat Citra cintai, meski itu hanya pemikiran Juan semata.

"El, jangan lari-lari."

Juan mengerling, nampak jelas wajahnya menggoda Citra. Lidahnya mendorong bagian dalam pipi, membuat pipinya menggembung kecil disusul dengan gerakan membasahi bibir. Sebuah gestur kecil namun begitu ekspresif.

Duh, menggemaskannya. Bahkan dengan wajah masam yang ditampilkan Citra saat ini membuat Juan tidak berhenti memikirkan akan mencium gadisnya itu dengan cara seperti apa. Memeluk atau langsung menindihnya saja? Juan tidak bisa berhenti membayangkan.

"Gue bilang jangan lari-lari, kalau lo jatuh gimana?" Juan langsung merengkuh Citra, tatkala gadis itu sampai di hadapannya. Tangan cowok itu bahkan melingkar posesif dipinggang sang gadis. Posisi yang pastinya akan langsung disalah pahami bagi siapapun yang melihat mereka.

Citra melemparkan tatapan tajam ke arah Juan. "Juan, kita-"

"No need to explain, I already know. Tapi ... memangnya kalau saudara tidak boleh saling sayang?"

Heavily DamagedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang