HD [15]

2.8K 99 11
                                        

Tolong tandai typo ya sengg 📌

Ramaikan komen kalian di tiap paragaf ya 🫶

Ramaikan komen kalian di tiap paragaf ya 🫶

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagian 15

4 tahun lalu............

Di suatu waktu, tepatnya di sudut memori yang mencuat sebagai kenangan kelam. Juan pada saat itu berusia belasan tahun memilih untuk menutup mulut rapat-rapat serta menjatuhkan pandangannya ke sembarang arah.

Manik mata itu tak berbinar, hanya kosong dan kehampaan menguasai. Juan tidak merasakan emosi apapun. Hanya keheningan melanda jiwanya.

Untuk sejenak Juan memilih menyerah dari keadaan — tak seperti sebelumnya yang mencaci maki, berteriak lalu menyumpahi apapun dan siapapun. Untuk kali ini dia tak bereaksi, dirinya menjadi tenang seperti riak air dalam keheningan.

"Juan," panggil seseorang. Disusul dengan sapuan pelan do rambut hitamnya. "Jangan terlalu lama berdiri di sini, lagi hujan dan kamu gak bawa payung. Ayo kita ke rumah abis itu ganti baju, nanti kamu sakit." Suara itu mengudara diantara bunyi rintik hujan deras.

Disela-sela kediamannya, cowok itu mengedip. Baru dia sadari tubuhnya sudah basah kuyup, tetes air membanjiri wajah dan bajunya.

Juan menoleh, memandangi anak perempuan yang dia tebak jika umur mereka tidak terlampau jauh. Juan tak mengenalnya dan tidak merespon, hanya saja keningnya berkerut.

Rumah? Apa benar dia masih punya rumah, setelah kepergian orang-orang yang dia cintai?

"Ayo kita pulang, udah hampir sore." Anak perempuan itu tanpa izin menarik tangan Juan, hingga tubuh tinggi dan ringkih itu bergerak pelan.

"Apa sih, gak usah pegang!" Juan menepis kasar tangan anak perempuan itu. Dia kembali ke posisi semula, yaitu berdiri di antara dua makam yang masih merah dan basah. Makam baru itu mengubur dua orang yang sangat dicintai Juan.

Anak perempuan itu mengikuti sorot mata Juan, tentu saja pandangan Juan jatuh pada nisan bertuliskan Wulan binti Arafiq dan Julian bin Prama.

"Kita pulang Juan, udah mulai sepi di sini."

Cowok itu tetep kekeuh, bersikeras untuk menemani Mama dan sang kembaran. Sebenarnya dia tak mengharapkan keajaiban apapun, tidak pula berharap agar ditemani, hanya saja ... dirinya tak memiliki tenaga untuk melangkahkan kaki lebih jauh.

Separuh jiwanya ikut terkubur bersama raga sang Mama serta Julian. Juan tidak akan lagi merasakan kebahagiaan dan kehangatan di hidupnya, jikalau kedua malaikat itu pergi untuk selama-lamanya.

Heavily DamagedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang