HD [13]

5.3K 170 20
                                        

Tolong tandai typo ya sengg 📌

Ramaikan komen kalian di tiap paragaf ya 🫶

Ramaikan komen kalian di tiap paragaf ya 🫶

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagian 13

6 tahun lalu.......

Di sudut ruangan seorang gadis yang masih mengenakan seragam putih biru. Terduduk sambil memeluk kedua lutut dengan tubuh bergetar. Tatapan matanya kosong, mulutnya terkunci rapat sejak tadi. Bagai petir menyebar di siang bolong, ia mendapatkan kabar bahwa mobil yang di kendarai oleh orang tuanya mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang.

Nyawa kedua orang tuanya terenggut, mereka tewas ditempat kejadian. Sementara adiknya yang berumur 12 tahun mengalami kondisi cukup buruk serta mengenaskan, hingga kini ia masih dalam posisi koma.

Dalam sekejap gadis itu merasakan dunianya runtuh. Kehilangan sosok yang begitu berharga sekaligus sangat ia sayangi amatlah menyakitkan. Kenapa semua ini harus terjadi pada keluarganya? apa salah mereka? mengapa dunia harus sekejam ini?

Pertanyaan itu terus berputar di otaknya. Namun tak ada satupun jawaban memuaskan, dia benar-benar sendiri sekarang. Seluruh kehangatan keluarganya menghilang, lantas kemana lagi ia harus berteduh?

Akibat perebutan harta waris perang dingin terjadi di keluarga besar ayahnya, hal itu memicu mereka saling membenci satu sama lain. Selain paman Prama dan bibi Sandra tak ada lagi orang yang dekat dengan keluarganya.

"Citra, sebentar lagi akan banyak pelayat yang datang. Gantilah pakaianmu, Paman sudah meminta Bibi agar menaruh baju penghormatan di kamarmu."

Tanpa kata gadis itu beranjak menuju kamarnya. Menuruti semua hal yang dikatakan oleh sang paman, sampai tak terasa hari mulai gelap dan kedua orang tuanya telah selesai dimakamkan. Gadis itu lagi-lagi hanya duduk membisu di sudut kamarnya dekat jendela. Dalam kesunyian itu pikiran sang gadis terlempar pada masa-masa indah bersama kedua orang tuanya.

Hingga perlahan terdengar suara langkah kaki mendekat, dan pintu kamarnya terbuka. Gadis itu menolehkan kepala, di sana sang paman berdiri tegak sambil memegang sebuah dokumen di tangan kanannya.

"Ada hal yang ingin paman sampaikan, pelaku yang menyebabkan kematian orang tuamu. Pihak keluarganya meminta jalur damai."

Mendengar penuturan hal tersebut, kedua mata gadis itu sontak membulat sempurna. "Apa yang paman maksud dengan jalur damai?!"

"Citra tolong dengarkan paman sebentar." Prama berucap dengan nada rendah, mendapat anggukan samar dari ponakannya pria itu kembali melanjutkan. "Pelakunya masih dibawah umur, sekalipun dia terkena hukum pidana masa hukumannya tak akan lama, kemungkinan 2 tahun penjara. Apa menurutmu itu sepadan dengan kematian orang tuamu?"

"Enggak‐-- itu enggak adil paman!"

"Paman juga berpikir seperti itu, hukumannya terlalu ringan. Tapi Citra, jika kita menyetujui surat damai ini. Paman punya rencana lain agar kamu bisa balas dendam atas kematian kedua orang tuamu. Jika kamu setuju, paman bersedia membantumu sampai balas dendam itu berhasil. Bagaimana?"

Heavily DamagedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang