Bandung, Kota dengan segala keindahannya. Awalnya aku tidak percaya bahwa bandung seindah itu, Namun saat kakiku berpijak disana aku baru percaya bahwa Bandung memanglah kota dengan segala keindahannya.
"Tapi nggak sedikit juga orang yang Trauma dengan Bumi Pasundan ini." Ucap Drisana.
"Gue setuju, Contohnya Angel dia benci dengan kota yang seindah ini."
"Lebih tepatnya bukan benci kak, Belum ikhlas."
"Mengikhlaskan kepergian seseorang bukanlah hal yang mudah, Apalagi jika pergi selama-lamanya. Atau mungkin memang sudah ikhlas namun belum sepenuhnya." Lanjut Drisana
"Contoh ikhlas yang sepenuhnya itu seperti apa?." Tanya Raffi sambil memberhentikan mobilnya di pinggir jalan dan menoleh kearah Drisana sambil memutar posisi duduknya.
Saat ini mereka berdua memang sudah dekat dengan rumah Drisana hanya berjalan sedikit lagi saja mereka sampai
"Ketika kita masih mengingatnya namun tidak ada lagi air mata yang menetes, tapi suatu senyuman yang terlihat tulus. Itu menurutku ikhlas."
"Kalau memang ikhlas harusnya lupa kan San?."
"Kalau memang tidak bisa melupakan tidak apa-apa, Abadikan saja dia di dalam sebuah karya. Ikhlas tidak selalu tentang melupakan kak, Kita masih bisa menyimpannya sebagai kenangan yang bahagia kan? Buang sisi menyakitkannya dan simpan yang bahagianya."
"Yang diingat kan kenangannya bukan orangnya." Lanjutnya sambil tersenyum.
"Tapi otomatis kalau kita ingat dengan kenangannya kita juga akan mengingat orangnya, Kan?."
Drisana mengangguk dan tersenyum. "Tetapi jika suatu saat kita mengingat orangnya, itu tidak akan ada rasa sakit lagi kak. Karena kita sudah ikhlas. Kita mengingat orangnya hanya sebatas untuk mengenang."