BAB 2: GEMAS

3.2K 88 1
                                        


"Ah, ya, roda kehidupan berputar, Kak!"

"Yah, anak orang kaya dan kembang kampus yang sangat cantik dan menjadi rebutan para mahasiswa bisa menjadi dekil seperti ini. Ck, ck! Memang kehidupan itu sangat adil sehingga anak orang miskin yang tidak mampu seperti aku dan tertindas bisa bersinar seperti sekarang."

Dini tahu ucapan Rio ini menyindir dirinya.

Tapi memang Dini bisa menjawab apa? Menjelaskan semuanya dari A sampai Z, sedangkan itu semua belum tentu dipercaya oleh Rio, bukan?

"Jadi kapan tanam benihnya, Kak?"

Bukankah Rio bilang kalau pernikahan mereka untuk bisnis?

Dibuat simple saja, Dini langsung bertanya soal progres bisnis yang dimaksud.

"Kamu yakin tubuhmu bersih untuk membawa anakku? Sedangkan badanmu dekil kayak gitu?"

Kalau gak yakin, kenapa Rio repot-repot harus menikahinya?

"Iya, aku dekil, soalnya aku tadi habis hujan-hujanan dan aku banyak bekerja di luar, jadi sengatan sinar matahari tanpa perlindungan skin care membuat kulitku terbakar. Tapi rahimku sehat," seru Dini, berusaha untuk tidak menangis mendengar semua penghinaan Rio yang membuat hatinya yang tak setegar wajahnya merasa teriris-iris.

"Kapan terakhir kali pap smear dan cek kesehatan rahimmu?"

"Enggak pernah."

"Terus dari mana yakin kalau sehat?"

Dini tidak tahu. Tapi dia merasa kalau proses menstruasi yang dialaminya setiap bulan tidak pernah ada masalah. Dini ingin menjawab.

"Terus, kalau memang kamu sehat, bagaimana anakmu bisa terkena thalasemia? Kalau anakku ada di dalam rahimmu, apa nanti tidak akan terpengaruh juga dengan kondisi kesehatanmu?"

Kalau Dini punya keberanian untuk mengajak orang di hadapannya ribut maka dia ingin memakinya. Tapi kan pria itu baru menolong anaknya.

"Kalau begitu, talak aku saja. Mungkin bisa cari wanita lain yang bisa menjadi ibu pengganti untuk benih anak Kak Rio?"

"Terus apa aku harus mengeluarkan darah yang sekarang sudah masuk ke dalam tubuh anakmu?"

"Eh-"

Dini tak tahu kalau sesulit itu bicara dengan Rio sekarang. Lama sudah mereka tidak berjumpa dan benar kata orang kalau sikap seseorang pasti bisa berubah.

Lagi-lagi Rio sukses membuat Dini menunduk dan tak bisa menjawab. Entah apa mau Rio, Dini pasrah!

"Akan ada beberapa pemeriksaan dan prosesnya tidak langsung satu hari, langsung bisa tanam benih. Aku juga harus bicara dengan istriku tentang ibu pengganti yang sudah kudapatkan sambil menunggu Teddy melihat kondisi kesehatan fisikmu. Lagi pula melihat tubuhmu yang kurus kering seperti tengkorak hidup, kurasa aku harus menunggu beberapa bulan lagi karena aku tidak mau sampai anakku bermasalah dalam tubuhmu."

"Beberapa bulan? Kak, aku-"

"Dini, di sini aku yang menentukan! Kamu ikuti saja apa yang sudah kutentukan! Jangan protes! Karena alasanmu juga tidak akan kudengar."

Rio selepas bicara mengambil handphone di saku celananya dan menghubungi temannya.

Rio: Ted, Anggia, kalau sudah selesai cuci darahnya langsung bawa ke ambulans dan pindahkan ke rumah yang sudah kusiapkan! Hire beberapa perawat untuk mengasuhnya juga.

Membulat mata Dini mendengarnya, tapi dia belum sempat bicara apa pun.

"Kau ikut ambulans itu. Tinggal di rumah yang sudah kutentukan! Dan nanti aku akan menemuimu di sana membahas yang lainnya!" Rio kini melihat ke arah jam tangannya dan memang ini sudah semakin larut.

Sewa Rahim MantanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang