"Oh iya, kalau begitu aku ganti baju dulu."
"Memang kau ingin narsis di depan istriku dan membuat dia menatapmu seakan kau saingannya?"
Dini tidak berpikiran sama sekali ke situ. Dan jujur, jawaban Rio lagi-lagi menyakiti hatinya. Lagipula, Dini tak akan berpikir untuk ganti baju kalau Rio tak menyuruhnya bersiap tadi.
"Maaf, Kak. Kalau begitu, ayo," cuma Dini berusaha cuek.
Dini tahu, tidak mungkin seseorang yang memiliki ekonomi berada mau menjadi seorang ibu pengganti. Dia mulai paham. Dia tidak perlu berdandan ataupun mengganti pakaian sebelum pergi karena ini akan membuat istri Rio tersinggung jika dirinya tampil lebih rapi. Atau mungkin menuduhnya macam-macam?
"Aku menikahimu hanya untuk memastikan supaya kau tidak kabur. Jadi jangan pernah membahas masalah pernikahan kita di depan istriku." Dan setelah mereka saling berdiam diri cukup lama di dalam mobil, ketika sudah mendekati tempat yang dituju, Rio memperingatkan.
"Iya, Kak, aku mengerti." Dini memang berencana untuk tidak mengatakan apapun di hadapan istrinya Rio nanti.
"Istriku tidak tahu kalau kita sudah menikah. Jadi, jangan bahas ini."
"Ya, aku mengerti Kak."
Sampai dua kali Rio memperingatkan. Permintaan Rio juga tidak sulit dan Dini memang tidak ingin ada orang yang tahu tentang hubungannya dengan Rio.
"Dan satu lagi yang membuatku risih," seru Rio, yang kini melirik Dini dengan pandangan mata seakan jijik, sebal, benci, entah apalah. Tapi Dini yakin pandangan itu adalah cara manusia menatap musuh.
Rio bahkan tak menganggapnya teman lama.
"Jangan panggil aku Kak. Pak Rio lebih baik."
"Eh itu-"
"Eh apa? Kau tidak ingin membuat istriku salah paham dengan hubungan kita di masa lalu, kan? Lagian itu semua sudah berlalu dan tak ada yang istimewa sekarang. Perasaanku padamu juga sudah hilang sejak lama."
Perasaan Dini tak jelas. Dia malu dengan teguran Rio dan merasa perih juga. Memang dia bodoh. Seharusnya memanggil Rio dengan sebutan Pak Rio sejak awal. Rio benar, Dini bukan adiknya dan mereka sudah tidak seperti dulu.
"Baik, Pak Rio," ucap Dini sembari menahan sesak dalam dadanya. Dia sungguh berharap air matanya tak akan menetes.
"Berhentikan mobilnya sebelum halte!"
Belum hilang rasa sakit di dalam hati Dini, dia kembali mendengar perintah Rio kepada sopirnya yang membuatnya bingung.
"Turun! Kau tidak berharap istriku melihatmu satu mobil denganku, kan?"
"Eh, iya Kak- ehm, maaf, Pak Rio maksudku."
Ya, Dini tahu dia tidak boleh membuat istrinya Rio cemburu.
Cepat-cepat dia ingin keluar.
"Nanti datang saja ke resto itu. Ada papan namanya."
"Baik Pak Rio."
Tak mudah bagi Dini mengubah panggilan itu. Tapi bukankah dia harus mulai membiasakan dirinya? Lagian, Dini juga harus menunjukkan hubungannya dengan Rio secara profesional. Dia tak mengharapkan apa pun kecuali pengobatan untuk putrinya.
Tampilan Dini yang lusuh setelah berjalan dan lumayan lusuh dengan pakaian rumah seadanya hampir saja membuatnya diusir oleh pelayan resto yang tak memercayainya.
"Dini, ayo masuknya bareng."
Untung, dokter Teddy datang dan mereka bisa berbarengan masuk. Tapi sejujurnya Dini merasa minder
KAMU SEDANG MEMBACA
Sewa Rahim Mantan
Storie d'AmoreDini Putri Lestari terpaksa membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang sulit dengan Rio Ravindra karena menawarkan diri menjadi ibu pengganti yang akan mengandung anak Rio dan istrinya Christa. Dini tak ada pilihan karena harus membiayai pengob...
