"Ah - itu kurasa ada salah persepsi. Onde-onde adalah makanan kesukaanku dan aku sering membagi-bagikannya kalau membawa ke kampus. Jadi kurasa ini bukan makanan favoritnya tapi dia terpengaruh olehku karena ini makanan favoritku."
Untung saja Dini sigap bisa menemukan jawaban cepat meski dalam kondisi dia masih tak menyangka kalau pria itu akan mengunjunginya hari ini.
"Mama itu temen Mama yang tolongin Anggia?"
Dan sebelum lawan bicara Dini menimpali jawaban Dini, bocah kecil yang dipanggil mamanya tadi sudah mendekat. Matanya masih memperhatikan Rio yang berdiri dengan tangan melipat di depan dadanya. Dia penasaran siapa Rio.
"Oh Iya sayang! Namanya Om Rio dan om Rio yang membayar pengobatan Anggia kemarin sama minjemin rumahnya buat kita tinggal sementara."
"Om Rio, makasih udah tolongin Anggia di rumah sakit."
Anggia sudah terbiasa diminta Dini untuk mengucapkan terima kasih setiap kali ada orang yang membantunya terutama sejak mereka dalam kondisi kesulitan setelah dibuang oleh Satrio.
Makanya refleks dia mendekat dan mengulurkan tangannya, Rio tertegun melihat sikap hormat Anggia.
"Berapa sering kau mem-briefing-nya dan mencuci otaknya untuk menarik perhatianku?"
Tapi bukan langsung menimpali Anggia malah Rio melirik pada Dini dan ingin sekali Dini memasukan cabe satu kilo ke dalam mulut lawan bicaranya tadi.
"Selama tinggal di sini supaya kami tidak cepat-cepat diusir Kak Rio."
Sudah kepalang kesal dan melihat sikap Rio yang tidak ada sopan-sopannya makanya Dini pun berusaha terlihat cuek di hadapannya dan tidak mau memasukkan kata-kata pria itu ke dalam hati meski sebetulnya cukup perih.
"Ah, begitu rupanya!"
Lalu mata Rio pun menatap bocah yang masih mengulurkan tangannya dan tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh dua orang dewasa yang saling berbisik-bisik bicara tanpa menggerakkan bibirnya tadi.
"Halo Anggia! Tidak perlu berterima kasih sama Om. Kita kan teman!" tapi meski Rio tadi ketus pada Dini, dia kini mendekat pada Putrinya Dini dan sudah memosisikan dirinya berlutut supaya tingginya sejajar dengan Anggia dan Rio mengulurkan tangannya menyambut tangan Anggia.
"Om bukannya temannya Mama kok jadi teman Anggia?"
"Jadi teman Mama dan temannya Anggia juga gak masalah. Dan ... apa Anggia mau makan onde-ondenya sharing sama Om? Karena itu juga makanan favorit Om!"
"Iya."
Bocah itu bingung tapi melihat ke meja ada sepiring onde-onde, dia pun mengangguk dan mau di ajak duduk bersama Rio di sofa yang ditunjuk pria itu.
Jelas membuat Dini tercengang.
Sejak bertemu lagi dengan Rio, pria itu tidak pernah bersikap lembut padanya dan selalu saja menyindirnya. Tapi dengan Anggia, Rio bisa bersikap lebih baik.
Meski sikap ramahnya tidak seperti dulu dan sekarang lebih didominasi oleh sikapnya yang dingin, cuma tetap terlihat hangat saat mengobrol dengan Anggia.
"Ini Om!"
"Loh, kok dibagi dua?"
Rio pikir, Anggia akan memberikan satu onde-onde untuknya dan satu dimakan sendiri oleh bocah itu.
Tapi dia justru memotong dua dan memberikan satu untuk Rio. Jelas pria itu gagal paham.
"Tadi kata Om kan sharing? Kalau sharing itu biasanya Anggia dibagi dua sama mama kan. Iya kan Ma?" Anggia menatap Dini berharap pembenaran tapi Rio malah terkekeh refleks.
"Haha, tidak salah memang kalau kata orang otak seorang anak itu mengikuti cara berpikir ibunya."
Memerah wajah Dini ketika mendengar ucapan Rio barusan.
Bukankah itu artinya sindiran kalau dirinya mewariskan kebodohannya pada Anggia?
"Kenapa tidak bicara seperti itu padaku saja tidak perlu menghi-"
"Ssst! Ini rumahku. Jangan meninggikan suaramu di hadapanku!"
Dini tak melanjutkan bicara. Dia mengetuk giginya atas bawah karena memang benar yang diucapkan Rio. Masih bagus dia dan putrinya diberikan tempat tinggal dan anaknya dicukupi biaya pengobatannya.
Tapi apakah Rio begitu tega ingin menghina putri Dini juga?
"Terima kasih Anggia. Om senang sharing sama kamu. Ini Om makan ya!"
Beruntung Anggia masih berusia lima tahun dan dia tidak pernah mempelajari jurnal tentang cara berpikir anak yang enam puluh persen mengikuti pola pikir ibunya. Anggia makan tanpa beban.
"Wah, onde-onde Om sudah habis! Boleh Om minta lagi?"
"Boleh! Mau sharing atau mau satu Om?"
"Satu yang paling besar Anggia!"
"Oke Om!"
Anak itu pun mengambilkan satu dengan tangan kanannya dan kembali menyerahkan pada Rio.
Lagi-lagi semua pemandangan yang meski tadi sempat menyebalkan kini terlihat hangat dan membuat Dini tak sanggup untuk melihatnya terlalu lama.
"Suster Ratih dan suster Titi, ayo sini, ikut cobain onde-ondenya!"
"Tidak bisa! Ini cuma ada sepiring! Kurang untukku saja! Dan aku sudah sharing dengan Anggia. Jadi tawarkan makanan yang lain pada mereka!"
Dulu seingat Dini, Rio itu bukan orang yang kurang ajar dan tidak akan pernah bicara tidak sopan seperti sekarang.
Dia juga bukan orang yang rakus dan sering juga berbagi makanan. Tapi kini sepiring yang isinya lebih dari dua puluh onde-onde pun Rio tak mau berbagi.
Sayangnya ini rumah Rio, bikin onde-ondenya juga uang Rio dan Dini mana boleh protes?
"Suster, ayo ikut saya ke dapur. Saya punya makanan yang lainnya."
"Kopi Dini! Jangan lupa, kayak biasa."
Dan seakan-akan Dini seorang pelayan, Rio kembali memesan sesuatu.
"Iya, sebentar Kak!"
Meski hatinya menggerutu tapi Dini tetap menjawab sopan karena dia tidak mau Anggia berpikir buruk tentang Rio yang sudah menyelamatkannya.
Dini meninggalkan mereka berdua di belakang dan dia berjalan dengan dua suster tadi menuju dapur.
"Onde-ondenya sudah habis tapi di sini masih ada cemilan lain, pempek. Mau kan suster?"
Pempek itu adalah olahan makanan yang dibuatnya kemarin. Dini membuat stok di kulkas dan tadi dia menggoreng, cuma belum sempat dibawa ke teras belakang.
Tadinya Dini ingin balik lagi mengambil itu setelah memanggil Anggia untuk makan cemilan onde-ondenya.
Makanya pempek itu sengaja ditiriskannya dulu di dapur.
"Bu Dini masakannya enak-enak loh!"
"Iya, Bu. Titi bener. Bu Dini ini pandai sekali memasak ya. Dari kemarin masakannya juga enak terus. Kalau bikin cemilan-cemilan kayak gini juga selalu enak! Bakat loh Bu Dini. Kenapa nggak di seriusin buat bisnis aja Bu?" seru Ratih menimpali temannya yang suka sekali dengan rasa pempek buatan Dini.
"Hehehe! Itu Ibu Imas yang buat bukan saya. Tadi saya cuma bantu-bantu doang!"
"Ah enggak kok! Emang Bu Dini pandai memasak. Kemarin-kemarin itu makanan semua buatan Bu Dini. Bukan buatan saya," tapi Imas langsung memprotes.
Dia tahu Dini ingin merendah tapi dia juga tidak bisa memasak seperti Dini. Masakan Dini berbeda dan selalu saja membuat orang yang mencicipi masakannya ingin menambah.
"Tuh kan Bu Dini. Udah buka bisnis aja Bu. Ini pasti laku loh!"
Ratih pun kembali menimpali. Mereka menikmati pempek di dapur dengan suasana yang hangat sambil sesekali mengobrol seperti ini.
Lupa lah Dini dengan perintah seseorang tadi di belakang yang menyuruhnya membawa minum.
"Pantas saja apa yang kupesan tidak sampai-sampai. Ternyata yang disuruh sedang merumpi di sini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sewa Rahim Mantan
RomanceDini Putri Lestari terpaksa membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang sulit dengan Rio Ravindra karena menawarkan diri menjadi ibu pengganti yang akan mengandung anak Rio dan istrinya Christa. Dini tak ada pilihan karena harus membiayai pengob...
