"Kenapa tidak mengangkat teleponku?" mata Rio masih mengintimidasi Dini dan dia belum mengabulkan keinginan Dini untuk membebaskan tubuhnya.
Jari tangannya, masih mengaduk-ngaduk rasa yang menyiksa dan menjadikan tubuh Dini menegang, terangsang.
"Saya tidak bawa handphone tadi."
"Sengaja?"
"Hm, saya mau serius ikutan kompetisinya. Saya sengaja tidak ingin diganggu," dusta Dini yang sebetulnya dia khawatir kalau Rio melacak keberadaannya melalui handphone dan akan tahu di mana dia berada.
Ternyata memang dunia sempit. Peluang usaha yang ingin dicoba Dini, membuat hidupnya makin pelik.
"Padahal aku menyuruhmu fokus membuat tubuhmu lebih berisi. Aku ingin kamu menjaga dan merawat tubuhmu agar aku bisa terangsang membuahimu. Tapi apa? Kamu membuang-buang waktu!" seru Rio yang masih menunjukkan ketidaksukaannya di saat tangan Dini mengepal kuat karena marah dan rasa di intinya makin menyiksa.
"Pak, bisa kita bicara tanpa Anda mengganggu tubuh saya?"
"Sayangnya tidak bisa. Semua bagian tubuhmu ini adalah milikku. Aku bebas mau menyentuh yang mana saja sesukaku. Aku sudah menikahimu."
Rio tidak salah sih. Yang salah dan bodoh itu Dini karena berani-beraninya sudah mengambil keputusan segila ini untuk menjadi Ibu pengganti. Tapi sekarang bukan waktunya dia meratapi kesalahanannya itu.
"Lagi pula sepertinya kamu menikmatinya kan? Aku bisa merasakan cairannya makin banjir," ucap Rio yang kini mengangkat jari tangannya dan menunjukkan cairan basah yang disumpah serapahi oleh Dini dalam hatinya.
"Tapi bukan hanya cairan ini saja yang menunjukkan rasa inginmu. Nah, ujung kedua bukitmu juga sudah mengeras! Mau aku mengelusnya juga?"
Sungguh itu sentuhan yang paling sulit untuk ditolak oleh Dini! Karena itu dia memilih memejamkan matanya, takut sekali menatap Rio yang sudah tersenyum seakan menghina, menunjukkan kemenangannya, dan merendahkannya.
Mana Dini bisa mengatur kondisi tubuhnya yang merespon dan sudah dipengaruhi nafsu itu? Sentuhan Rio sangat amat melenakan. Ini sulit!
"Wah, ingin menikmati setiap rasa yang kuberikan sampai memejamkan mata? Enak sekali ya?"
"Saya cuma tidak ingin melihat wajah Anda, Pak!"
"Lalu mau membayangkan Satrio yang menyentuhmu?"
Dini tidak menyangka kalau orang di hadapannya ini sangat pintar sekali membolak-balikkan kata hingga perasaan Dini carut marut dan memaksanya membuka mata lagi.
"Jika Anda ingin saya melihat Anda begini, baiklah!" seru Dini emosi.
Dia sudah pasrah. Tak pedulilah pria yang bersamanya ini ingin melakukan apa. Pokoknya Dini sekarang sudah berusaha menahan semua perasaannya dan menatap pria itu sedingin mungkin.
"Enak mana sentuhanku dengan sentuhan Satrio?"
Tapi memang orang yang bersamanya sekarang tidak tahu malu dan tidak waras. Bisa-bisanya dia terus saja menyinggung hal yang sensitif di saat tangan durjananya juga terus saja memilin dua puncak itu bergantian dan menyiksa Dini.
"Bahkan namanya saja sama seperti namaku ya? Hanya ditambahin huruf s dan huruf a di depannya."
Bisa tidak sih orang ini tidak bicara sembarang saja? Tidak tahukah dia kalau Dini sudah sengsara sekali menutupi semua perasaannya dari buaian tangannya itu.
"Hentikan!"
Tak kuat lagi menahan rasanya, Dini terpaksa memohon. Dia tidak bisa membiarkan dirinya terus-terusan teraniaya dan tersiksa dengan sentuhan yang bisa membuatnya sampai ke puncak kenikmatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sewa Rahim Mantan
RomantikDini Putri Lestari terpaksa membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang sulit dengan Rio Ravindra karena menawarkan diri menjadi ibu pengganti yang akan mengandung anak Rio dan istrinya Christa. Dini tak ada pilihan karena harus membiayai pengob...
