Dini Putri Lestari terpaksa membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang sulit dengan Rio Ravindra karena menawarkan diri menjadi ibu pengganti yang akan mengandung anak Rio dan istrinya Christa. Dini tak ada pilihan karena harus membiayai pengob...
Dini langsung berdiri karena kaget. Pelayan dan suster yang tertawa jadi diam membisu.
Dini tak menghiraukan rasa tersedak di tenggorokannya dan buru-buru membuat kopi.
"Berikan air putih dulu cepat! Kau ini, ibu yang bagaimana sih? Katanya menyayangi anakmu. Tapi putrimu makan tidak diberikan air di luar sana!"
Yah, Dini lupa. Dia tidak sangka saja kalau jadi keenakan ngobrol.
"Jangan lupa antarkan kopiku!"
Setelah menyerahkan dua gelas air ke Rio, Dini kembali lagi dengan keribetannya membuat kopi. Mengambil biji kopi utuh, menggiling, dimasukkan ke mesin kopi, dan menyiapkan campuran susunya juga.
Dini sangat fokus pada kegiatannya melupakan sejenak pelayan dan suster yang memperhatikannya.
"Bu Dini pandai sekali membuat kopi seperti barista."
"Mungkin karena hobi ngopi," jawab Dini sekenanya. Dia juga tidak berniat untuk menceritakan masa lalunya kenapa membuat kopi se-ribet itu, padahal Bu Imas sendiri menyeletuk; biasanya dia memberikan Rio kopi sachet.
"Saya mau antarkan kopinya dulu." Dini tak mendebat, langsung ke belakang menghampiri Rio.
"Ini, Kak!" seru Dini mengulurkan kopinya yang dilirik Rio sejenak.
"Apa itu?"
"Piccolo latte." Barulah pria itu mengambilnya. Dini lega, untung saja dia tak menyeduh kopi sachet.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kalau bi Imas yang melakukan, mungkin tak masalah, tapi kalau Dini, sudah terbayang olehnya kemarahan Rio.
"Mama onde-ondenya sudah habis," dan suara Anggia menyadarkan Dini yang langsung menengok piring onde-ondenya.
"Berarti Anggia sudah kenyang dong. Tadi kan Mama buatnya banyak."
"Tapi tadi makannya cepetan Om Rio sama Anggia."
Seandainya rumah itu dan uang untuk membuat onde-ondenya adalah uang Dini sendiri, maka dia ingin sekali menggetok kepala Rio yang tidak mau mengalah dengan anak kecil.
"Ya sudah, nanti Mama gorengkan lagi ya. Mama masih punya kok di dapur."
Dini tidak bertanya berapa yang dimakan oleh Anggia dan berapa yang dimakan Rio karena akan membuatnya bertambah sakit hati saja nanti.
"Gorengkan sekarang! Mumpung piccolo latte-ku masih ada."
Tanpa menjawab, Dini ke dapur, buru-buru memanaskan minyak dan menggoreng lagi. Meski pelayan dan suster penasaran, melihat muka Dini ditekuk mereka tak berani bertanya.
"Bu, Pak Rio dan Anggia suka sekali makan onde-onde ya?" Akhirnya, setelah Dini menyelesaikan menggoreng, mengantarnya ke Rio dan Anggia, Titi memberanikan bertanya.