BAB 10: HATI YANG EGOIS

1.6K 56 1
                                        

"Berapa? Tapi saya tidak punya uang sekarang. Memang boleh saya bayarnya pakai uang dari kartu ajaib Anda?" seru Dini yang tak mau kalah.

"Bayarannya bukan itu!" Rio bicara sambil berdiri dan kini dia mencuci tangannya sebelum mengangkat tubuh Dini masuk ke dalam kamar.

"Apa?" tanya Dini masih digendongan Rio.

Pria itu tidak mengizinkan Dini jalan sendiri alasannya kaki Dini baru diobati dan Rio tidak menutupnya dengan kasa. Alasannya lagi, kasa tidak tersedia di kotak P3K-nya.

Dini pasrah, tapi dia juga ingin kepastian dari Rio apa yang pria itu inginkan.

"Pak, Anda minta bayaran apa?"

Saat Rio sudah mendudukkannya di tempat tidur Dini kembali menagih karena tidak mau berhutang Budi pada Rio lebih banyak lagi.

"Kalau sudah waktunya, nanti aku memberitahumu!" seru Rio yang kembali duduk di samping Dini.

"Aaaw!" dan bukan hanya duduk. Dia juga memijat kaki Dini dan lumayan terasa sakit. Apalagi memang itu di titik yang ngilu karena kemarin jalan.

Setengah jam, Dini tidak fokus bertanya pada Rio dan hanya membiarkan tangan pria itu memijat betis, tumit dan bagian atas telapak kakinya masih sambil dia meringis kesakitan yang diabaikan oleh Rio.

Sampai lama-lama rasa sakit itu berkurang karena pijatan Rio membuat kaki Dini terasa lebih baik.

"Jangan melakukan kebodohan yang sama yang bisa menyusahkan orang lain!" seru Rio sembari mengulurkan sesuatu lagi dari saku celananya

"Obat pereda nyeri! Minumlah sehari satu, untuk sepuluh hari." Dini menurut, Rio juga mengambilkan gelas yang sudah diisi air dari pitcher di atas nakas.

"Pak, apa bayarannya?" tanya Dini yang tak ingin Rio meninggalkannya di kamar itu sebelum memberikannya jawaban. Rio sudah memakai dasinya.

"Pak, lebih baik Anda memberitahukannya sekarang!" meski Dini mengejar, Rio tak menjawabnya. Dia malah mengembalikan lengan bajunya ke posisi awal sebelum tadi melepaskan jasnya lalu Rio memakai jasnya dan menatap Dini lagi sembari mengingatkan.

"Jangan turun dari sana! Aku akan menyuruh susternya Anggia menggantikan kasa, lalu menemanimu dan membantumu jika ingin pergi kemana-mana. Ingat salep antibiotik yang ada di kamar mandi, rutin dipakai. Dua sampai empat kali oles kalau banyak kena air. Kasa minta suster untuk menggantikannya setiap kali dari kamar mandi!"

Dini masih ingin menagih Rio untuk menjawabnya tapi dia sudah keluar dari kamarnya. Menyisakan dini sendirian untuk beberapa saat sebelum suster ikut bergabung masuk ke dalam kamar dan membantunya sesuai dengan perintah Rio.

Dini tak lagi mendapatkan kesempatan untuk bertanya apa yang diinginkan oleh Rio sebagai bayarannya karena Rio tidak kembali lagi ke rumah itu sampai pertemuan mereka di rumah sakit dua hari kemudian untuk check up.

Kondisi kaki Dini lebih baik. Kakinya sudah tak se-sakit dua hari kemarin. Salep yang diberikan Rio juga ampuh. Rio juga mengirimkan sandal dengan alas yang empuk dan lembut. Dini jadi lebih nyaman. Meski setelahnya, melihat sepasang suami istri di rumah sakit itu membuat hatinya memanas tanpa alasan yang tepat.

"Sayang dengarkan, kata Teddy kita bisa memulai proses bayi tabungnya minggu depan! Aku seneng banget! Berarti kita bisa punya anak cepet ya! Lagian, Dini juga rahimnya sehat."

"Hm, iya Sayang. Aku seneng karena istriku bisa tersenyum bahagia kayak gini."

'Kenapa terasa sakit? Apa selama dua hari ini aku sudah berpikir berlebihan tentang dia yang mengobati luka kakiku? Dini, jangan mimpi terlalu jauh!'

Rio merangkul istrinya dan memberikan kecupan pada wanita itu. Meski cuma di dahi, entah kenapa Dini merasa tidak ikhlas sekali bibir itu menyentuh kulit Christa.

Dini mencoba merasionalkan pikirannya kalau pria itu bukanlah siapa-siapanya lagi. Tapi kadang memang hati tidak bisa berbohong kalau rasa yang sudah terkubur di hatinya ternyata belum mati, malah subur lagi setelah kakinya diobati Rio.

Alhasil, Rio sukses membuat hati Dini berhari-hari semakin pedih. Masih terbayang keromantisan pasangan itu dalam benaknya. Bahkan, saat meminum pil supaya dirinya tidak haid menjelang proses pembuahan, ini jadi hal terberat yang dilakukan Dini.

Rasanya ingin sekali dia egois dan tidak meminum pil itu untuk beberapa hari supaya dia bisa dapat haid. Dini ingin menggagalkan proses bayi tabung itu karena dia tidak ingin rahimnya diisi benih Rio dan istrinya.

Tapi rasa tak tega mengingat bayangan kebahagiaan di wajah Rio dan juga beban dosanya di masa lalu yang menyakiti pria itu membuatnya menelan kapsul dengan perasaan penuh kemelut.

Dini juga berusaha rileks dan menipu diri seakan dia bahagia dengan menikmati waktunya bersama Anggia, memasak, mengobrol bersama pelayan dan suster, menghabiskan waktu nonton metflix, tapi tetap saja kegalauan dan kerinduan tentang sosok Rio itu tak hilang dari benaknya.

Dini bahkan tidak berani untuk tidur di dalam kamarnya sendiri karena setiap kali dia masuk kamar mandi, teringatlah dengan wajah Rio yang sedang mengobati kakinya. Termasuk saat berada di ranjangnya, Dini juga seakan masih bisa merasakan pijatan di kakinya. Ini membuatnya gelisah.

Dini tak tahu bagaimana cara melepaskan pikirannya dari kegilaan gelora di hatinya ini.

Apakah sebesar itu cintanya pada Rio sampai tidak pernah bisa dihapuskan? Padahal sudah hampir tiga minggu tak bertemu. Kenapa Dini malah semakin tak tenang?

"Bu Dini, kata dokter Teddy disuruh ke ruangannya dan Anggia biarkan disini sama saya dulu, saya jagain."

Hingga hari di mana Anggia harus cuci darah lagi Dini akhirnya bertemu dengan Rio di ruangan Teddy tanpa pemberitahuan lebih dulu. Ini tak disengaja.

"Sabar ya Sayang. Kita kan sudah mencobanya. Nanti kita akan coba lagi."

Dan lagi-lagi dirinya harus melihat drama di mana Rio sedang merangkul istrinya dan mencoba menenangkan wanita itu.

Dini memang tidak mendengar permasalahan sebenarnya. Tapi Dini yakin proses itu pasti gagal dari cara Rio memperlakukan istrinya.

Iba? Tentu saja. Tapi Dini juga tidak tahu seberapa jahat dirinya karena jauh di relung hatinya justru dia merasa senang. Apalagi saat mendengar lanjutan ucapan Christa.

"Tapi kamu sudah dengar sendiri kan kata Teddy? Sejauh apapun kita mencoba baik itu pembuahan di dalam ataupun di luar tetap saja aku tidak mungkin bisa hamil karena kondisi sel telurku yang bermasalah. Maafkan aku, Sayang, aku cuma wanita mandul yang gak bisa kasih kamu keturunan."

Seharusnya Dini merasa kasihan. Tapi entah kenapa dia merasa riang saja hatinya meski itu hanya beberapa saat karena Dini takut sekali kalau ini artinya Rio dan Christa sudah tak lagi membutuhkannya sebagai ibu pengganti.

Lalu bagaimana dengan pengobatan putrinya?

Tangan Dini tiba-tiba saja keringat dingin. Dia takut, masa-masa tenang dan zona nyaman dengan semua kebutuhan yang tercukupi selama proses tunggu ini akan sirna.

Rio akan mengusirnya. Dini tak bisa membiarkan ini. Setidaknya dia tidak bisa membiarkan sampai dirinya bisa mendapatkan pekerjaan atau bisa menghasilkan uang.

Dini harus menunda. Tapi, apa yang bisa Dini lakukan sekarang?

Pikirannya berputar keras untuk membantu Rio dan Christa. Dini juga mengumpat hatinya yang pernah berharap kalau keduanya tidak akan berhasil dalam proses pembuahan buatan itu.

"Christa, sel telurmu bermasalah tapi bukan berarti kamu tidak bisa punya anak dari suamimu. Maksudku, mungkin kita bisa mencari donor sel telur?" Teddy mencoba menenangkan istri Rio yang menangis tak henti.

Dan di sinilah Dini akhirnya mendapatkan ide baru.

"Saya bersedia mendonorkan sel telur saya jika diperlukan, Bu Christa."

Tapi, apa Christa setuju?



Sewa Rahim MantanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang