"Mas Darsa, Maaf! Bukannya aku tidak mau menghormati Mas Darsa, tapi aku tidak bisa Mas, aku harus segera pulang. Aku gak bisa tinggalin Anggia."
"Kalau gitu biar Ma antar ya Dini. Sekalian Mas ingin bicara denganmu."
Sebetulnya ini opsi yang paling menguntungkan ketimbang jalan kaki. Tapi rasanya Dini masih berat menerima penawarannya.
Ada banyak hal yang ada di dalam benaknya yang tidak bisa dijelaskan pada Darsa. Terutama pandangan mata seseorang yang datang bersama Darsa yang menurut Dini cukup mencekam saat tadi Dini tak sengaja menatapnya.
Dini tidak mau membuat masalah dengannya selain Dini juga sudah punya perjanjian dengannya dan istrinya. Makanya dia tidak ingin Darsa ikut campur.
"Tapi janji padaku kalau kita akan bertemu, besok atau lusa, pokoknya dalam minggu ini, bagaimana?"
"Nanti kukabari ya Mas. Minta nomor telepon Mas Darsa saja. Soalnya aku tidak bawa handphone dan aku nggak hapal nomorku."
Darsa menurut. Dia tahu, Dini belum bisa cerita sekarang. Kegusarannya, membuat Darsa tak tega kalau harus menekan Dini malam itu untuk jujur. Dia yang sudah membawa Dini ke ruang kerjanya kini membuka dompetnya dan mengulurkan sesuatu setelah tadi menuliskan nomornya di sticky note.
"Pegang ini. Pakai untuk keperluanmu dan Anggia. Kalau menolak ambil, Mas gak akan mengizinkanmu pergi."
Terpaksa Dini mengambil kartu itu dan berterima kasih.
"Mas, kalau bisa jangan suruh orang untuk mengikutiku dan jangan tanyakan tentang aku pada Satrio. Aku tidak ingin dia merepotkanku dan mencariku akhirnya karena dipikir aku mengadu pada Mas Darsa."
"Hm, Mas paham. Mas menunggumu mengabari. Tapi jika kamu bohong, Mas akan mencarimu. Tak sulit untuk Mas mencari di mana keberadaanmu, ingat itu."
Dini mengangguk patuh. Meski sebetulnya dia rada menyesal karena harus meninggalkan Darsa tanpa menceritakan segala keluh kesah di dalam dirinya, tapi Dini bersyukur karena dia tak membawa Darsa pada masalah pribadinya.
Tadi, di ruangan Darsa, Dini bertanya tentang istrinya Darsa dan kesulitan pria itu. Dia merasa tak enak kalau harus membebani Darsa apalagi Dini tahu masalah rumah tangga Darsa juga tidak mudah.
Dini, menyimpan baik-baik nomor telepon Darsa di dalam tasnya juga kartu yang tadi diberikan pria itu. Hubungan Dini dan Darsa, seharusnya membuatnya merasa lebih nyaman jika menggunakan kartu itu. Tapi entah kenapa, Dini enggan. Kalau Darsa tak membayari taksi untuknya, Dini mungkin memilih jalan karena tidak pegang cash dan malas untuk memakai kartu dari Rio atau Darsa.
'Harusnya aku bawa Anggia pergi dari sini.'
Penyesalan Dini semakin besar ketika dia sampai di rumah Rio lalu menemui seseorang yang tak ingin dilihat olehnya. Hatinya mengomel karena harusnya Dini menerima tawaran Darsa tinggal di rumah pria itu dan mengakhiri semua dengan Rio.
Tapi entahlah, Dini tidak bisa. Dia juga merutuki dirinya sendiri yang malah merasa tak enak pada Rio dan Christa.
Apa yang salah dengan pikirannya? Dini tak tahu tapi kini dia harus menghadapi Rio dengan mulut pedasnya.
"Bagaimana caranya kamu mengikuti seleksi itu sedangkan kamu tidak punya KTP? Kurasa seharusnya kamu menyerahkan CV."
Dini sudah lelah, tapi dia tak bisa kabur dari pertanyaan seseorang yang kini memaksa Dini masuk ke kamar. Lagi-lagi, Dini harus putar otak demi melindungi orang yang memberikannya kesempatan agar tidak dipecat.
"Aku memaksa Titi buat memaksa sepupunya membiarkanku ikut seleksi. Aku yakin aku bisa lolos, tapi memang aku tidak berbakat. Masakanku tidak enak," seru Dini yang tersenyum masam.
Dia jadi teringat yang dikatakan Darsa saat mereka berjalan ke ruangan Darsa.
Darsa cerita awal dia bisa mencoba nasi goreng kontes dan tentang Rio yang kebetulan lewat, lalu dipanggil olehnya. Mereka berdua menikmati bersama dengan para kru. Darsa, meski kaya, memang se-akrab itu dengan kru.
Selain itu, Darsa juga menegaskan kalau setelah mereka makan ada satu kru yang datang dan mengatakan kalau si pembuat nasi goreng itu tidak menang. Justru makanan yang tidak mereka sukai yang mendapatkan tender. Darsa mewakili semua keluh kesah para kru, dia ingin bertemu dengan para juri. Dan itu alasannya juga Rio ikut dengannya karena salah satu juri itu adalah istrinya dan dia datang untuk menjemput istrinya. Darsa, sengaja menyindir di hadapan Christa bukan karena tak tahu. Hanya ingin Christa jujur saja. Darsa yakin, Dini pasti menyembunyikan sesuatu.
Tapi bukan menjawab, Dini malah mengalihkan pembicaraan mereka ke masalah pribadi Darsa berhubungan dengan istrinya Darsa dan sebab perpisahan Darsa setelah di ruangan Darsa. Pria itu terlarut, dan jadi menceritakan masalahnya, melupakan Dini yang belum menjawab pertanyaan hingga akhirnya Dini meminta izin pulang ketika Darsa mengingatkan lagi tentang kontes itu, lalu dia bertanya tentang masalah rumah tangga Dini dan semua itu tidak ada yang bisa Dini jawab.
Makanya, sekarang Dini sengaja menyindir Rio yang memiliki istri tak profesional. Dini secara tersirat menuduh Rio dan Christa berencana tidak memberikannya kesempatan.
"Apapun alasan yang diambil oleh Christa kalau sampai kamu kalah, itu semua karena Kamu tak pantas menang. Pasti kamu mencoba menyalahkannya karena tidak menang bukan? Itu yang membuatnya menghampirimu karena Christa suka tidak enakan kalau seseorang marah padanya."
Dini tidak menyangka kalau jawaban Rio malah menyudutkannya begini. Jadi makin yakin Dini kalau mereka memang bersekongkol.
Senyum sinis pun terurai di bibirnya.
"Maaf Pak Rio, kalau memang sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, Bapak bisa pergi dari sini. Saya sudah lelah dan kecapean."
"Siapa kamu bisa mengusirku?" Rio tak mau menurut. Dia justru melangkah mendekat dan lagi-lagi Dini terintimidasi.
"Mundur Pak. Saya kotor, habis seharian di dapur! Memang Bapak mau bajunya bau asap?" cicit Dini berharap Rio mau menjauh.
Tapi justru langkah kaki pria itu makin mantap menuju padanya.
"Aroma mint, citrus, dan perpaduan antara kopi dan male scent dari patchouli. Ini parfum lelaki. Darsa memelukmu?" ekor mata Rio mengintimidasi, mengunci pandangan mata Dini dengan jarinya memegang dagu Dini agar tidak memutus pandangan mata darinya.
"Pak Rio, lepaskan saya!"
"Jawab aku!" Rio makin mengencangkan kedua tangannya yang mengekang dagu Dini. Sakit, membuat Dini sulit bicara juga.
"Kalaupun dia memelukku, tak ada hubungannya dengan Anda!"
Panas, wajah Dini terasa perih dan dia pun meringis karena kepalanya juga terasa pusing saat tamparan kasar mendarat di pipinya dan ketika itu juga, tubuhnya terhempas dari tangan Rio. Untungnya, Dini terjatuh di tempat tidur. Kalau tidak, Dini juga tidak yakin kalau tulangnya tidak patah dilempar sekencang itu.
"Aku bisa saja melaporkan kekerasan yang Bapak lakukan ke pihak berwajib."
Dini mengancam, karena dia tidak mau dianggap remeh dan tidak mau dihina Rio. Matanya, membulat menatap Rio yang kini duduk di sisi ranjang tanpa rasa bersalah, padahal ujung bibir Dini sudah terluka karenanya. Asin rasa khas darah segar bisa dirasa Dini. Tapi Rio tetap menatap dingin, sorot matanya juga menggelap.
"Lakukan jika ingin mempermalukan dirimu sendiri!"
"Aku akan menjatuhkan Anda di hadapan polisi Karena sudah mem-bully-ku."
"Apa?" Rio makin sengit dan menyindirnya kembali.
"Kamu mau mengadu suamimu menamparmu karena melihatmu berpelukan dengan lelaki yang tidak ada hubungan kekerabatannya denganmu, begitu? Kamu pikir mereka akan peduli, hm?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sewa Rahim Mantan
RomanceDini Putri Lestari terpaksa membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang sulit dengan Rio Ravindra karena menawarkan diri menjadi ibu pengganti yang akan mengandung anak Rio dan istrinya Christa. Dini tak ada pilihan karena harus membiayai pengob...
