🍀BAB 21 : Gila☀

686 44 0
                                        

~°•×Happy Readingו°~

>>Tandai Typo!<<

𝕵𝖆𝖓𝖌𝖆𝖓 𝖑𝖚𝖕𝖆 𝖙𝖊𝖐𝖆𝖓 𝖇𝖎𝖓𝖙𝖆𝖓𝖌𝖓𝖞𝖆!!

*

*

*

*

*

*

*

Perlahan mata yang awalnya tertutup itu mulai terbuka menampilkan dua manik berwarna coklat madu yang dapat membuat orang lain tenang ketika melihatnya. Aurel mengedarkan matanya ke penjuru kamar dan berhenti pada pintu kamar mandi yang tertutup, terdengar suara gemericik air di sana.

Aurel mencoba duduk meski harus menahan ringisan di bagian bawahnya, Aurel tidak akan bertanya lagi. Sudah dapat dipastikan jika Rio menambahkan obat tidur pada susunya semalam, itu sebabnya dia tertidur sangat lelap hingga tidak juga bangun ketika Rio lagi-lagi membuatnya hancur.

Kedua mata Aurel menatap luka goresan memanjang di tangannya, senyum getir terbit di bibirnya. Ah, ia sangat ceroboh. Ini sudah satu bulan sejak malam yang akan selalu menjadi mimpi buruknya itu, dan selama itu pula ia tetap bisa menjaga kewarasannya karena ada Alen yang menjadi temannya.

Sekarang ini, tidak ada yang berani mendekatinya karena dilarang keras oleh Rio, entah itu bodyguard atau bahkan pelayan yang membawakannya makanan. Makanannya akan selalu dibawakan oleh Rio.

Tapi sekarang, ia tidak akan memiliki teman lagi. Kemarin ia ketahuan melakukan panggilan suara dengan Alen hingga membuat Rio marah dan berakhir membanting ponselnya.

Lalu, bagaimana Aurel akan menjaga kewarasannya sekarang? Ia tidak memiliki teman lagi. Kenapa kehidupannya sekarang sangat mengenaskan? Apa dosanya hingga harus mendapat hukuman seperti ini? Dirinya lelah. Aurel ingin menyerah tapi tentu tidak bisa, bukan? Kehidupan di dalam perutnya ini sungguh menghambat.

"Kamu udah bangun. Ayo makan, kamu belum makan lho." Suara itu membuat Aurel menoleh, Aurel hanya mengangguk. Tidak ada gunanya ia menolak.

Rio menghampiri gadisnya dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya, Aurel memalingkan wajah ketika Rio memeluknya dari samping. Hatinya sakit melihat orang yang seharusnya menjaganya malah merusaknya. Kebencian di dalam hatinya semakin kuat setiap mengingat perlakuan Rio padanya.

Tubuh Aurel tersentak kala merasakan usapan pada luka goresan yang ada di tangannya, ia meringis kecil mencoba menahan sakit. Itu luka baru, dan masih basah, tentu saja akan terasa sakit ketika disentuh.

Pergerakan tangan yang tadinya mengelus tangan Aurel itu berhenti mendengar suara ringisan, rasa bersalah muncul di hati Rio kala mendengarnya.

"Maaf ya, Nava. Harusnya aku ga buat di bagian ini, kayaknya bagus kalo aku buatnya di punggung kamu. Boleh, 'kan?"

Meski nada yang dikeluarkan oleh Rio seperti nada bertanya, tapi Aurel tahu jika itu adalah pernyataan mutlak yang tidak bisa dibantah sama sekali. Dia memejamkan mata sembari menahan sakit ketika Rio mulai menggoreskan ujung pisau lipat pada punggungnya.

Itu dalam dan akan meninggalkan bekas.

Aurel tidak mengerti. Sejak kapan kegilaan Rio berkembang hingga tahap ini? Apakah sejak kedua orang tua mereka tiada? Ataukah sebelum kejadian kecelakaan pesawat itu? Aurel tidak tahu. Mungkin akan lebih baik jika Aurel tidak mengetahuinya.

Transmigrasi: The ObsessionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang