⚡BAB 22 : Permainan🌪

349 17 3
                                        

~°•×Happy Readingו°~

>>Tandai Typo!<<

𝕵𝖆𝖓𝖌𝖆𝖓 𝖑𝖚𝖕𝖆 𝖙𝖊𝖐𝖆𝖓 𝖇𝖎𝖓𝖙𝖆𝖓𝖌𝖓𝖞𝖆!!

*

*

*

*

*

*

*

Suara jeritan menggema di seluruh ruangan, berbagai permohonan tidak digubris oleh pemuda yang kini tengah tertawa kencang di sana. Rasa takut dan penyesalan hinggap di hati mereka, ah, bagaimana ini? Pemuda itu jelas tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja.

Pemuda yang tertawa kencang adalah Rio. Dia langsung menghindar ke arah samping ketika seseorang hendak menusuk perutnya, tawa yang semula kencang dan bergema itu telah digantikan dengan desisam tajam.

Langsung saja Rio mematahkan tangan yang hendak melukainya tadi hingga si pemilik tangan menjerit kesakitan. "Beraninya mau melukaiku, sudah bosan hidup, ya?"

"Kau ... dasar iblis!" seru salah seorang perempuan pada Rio.

"Terima kasih pujiannya, tapi ...." Rio berjalan mengambil sebuah gergaji mesin yang ada di sebuah meja lalu mendekati perempuan tadi.

"Aarghh!!"

Jeritan kuat berasal dari si perempuan ketika Rio tanpa belas kasihan memotong kaki kanannya hingga darah menyembur dan mengenai kemeja putih yang Rio kenakan.

"Aku tidak suka ada yang memujiku selain Nava, maaf, ya. Seharusnya kau sadar diri, jalang!" Lanjut Rio sembari menjilati darah yang ada di jarinya.

Kernyitan jijik sebagai respons dari Rio. Rasa darahnya menjijikkan, memang darah Aurel tiada duanya, pikir Rio. Dia mengambil sapu tangan yang ada di saku lalu membersihkan tangannya yang terciprat oleh darah.

Setelah bersih, Rio membuang sapu tangan tersebut kemudian berjalan ke arah meja tadi dan mengambil sebuah besi runcing. Pemuda berambut hitam itu mendekati seorang pria bertubuh buncit yang tampak ketakutan.

Besi di tangan Rio terangkat dan langsung menusuk perut si pria membuatnya menjerit tertahan, air mata mengalir deras dari kedua manik kembarnya. Ia tidak menyangka pemuda yang ia kira lemah ternyata memiliki sisi mengerikan seperti ini.

Mulutnya tidak bisa berteriak karena sudah dijahit oleh Rio menggunakan jarum besar, itu sangat sakit. Terlebih sekarang kedua tangannya tidak lagi tersambung dengan tubuh yang selalu ia banggakan, keduanya sudah dipotong oleh pemuda di depannya ini dengan keji.

Rio tersenyum puas, akhirnya gendang telinganya akan selamat dari suara jelek pria buncit itu. Suara milik pria jelek itu sangat jelek sejelek wajahnya, itulah kenapa Rio menjahitnya. Hitung-hitung juga termasuk pembalasan kecilnya karena sudah berani mengambil uang perusahaan.

Lalu Rio kengambil gergaji mesin tadi dan mengarahkannya pada leher si pria buncit, sedangkan pria buncit itu menggeleng kuat. Tidak-tidak! Ia tidak ingin mati! Ia tidak ingin mati di tangan pemuda gila ini!!

Tanpa memedulikan tatapan takut pria itu, Rio menyalakan gergajinya dan langsung memotong leher pria di depannya dengan tawa kencang. Ah, ia senang sekali. Benar-benar senang, andai saja kesayangannya melihat ini, kesenangannya pasti akan bertambah.

Transmigrasi: The ObsessionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang