Bahasa cinta, bahasa kasih, bahasa yang digunakan seseorang untuk menunjukkan afeksi dan kasih sayangnya terhadap orang lain. Masih terngiang tentang ayahnya, Harris tak bisa memahami apa sebetulnya bahasa cinta yang dimiliki ayahnya itu. Dia selalu berkata bahwa dia menyayangi Harris, tapi dia selalu menekan, memaksa, dan mengajari Harris dengan keras hingga sampai pada tindakan fisik.
Harris tidak pernah tahu, atau tidak pernah ingat, siapa ibunya. Konon ibunya telah meninggalkan rumah sejak Harris masih sangat kecil. Mungkin ada hubungannya dengan sikap ayahnya. Harris tidak pernah tahu seperti apa kasih sayang ataupun bahasa cinta dari seorang ibu.
Harris merasa sudah saatnya ia mencoba mengekspresikan bahasa cintanya sendiri. Apakah itu berupa pelayanan, sentuhan fisik, kata-kata afirmasi, ia tidak begitu paham soal itu secara teoritis. Namun, ia yakin bahwa ia seperti apapun ekspresi bahasa cinta yang ia berikan, itu tidak akan kurang tulus sebagaimana orang-orang mengungkapkan afeksi mereka. Untuk itu, kepada siapa bahasa itu akan diekspresikannya, ia hanya memikirkan satu orang yakni gadis pramusaji yang ia lihat di Otto's.
Dia segera berjalan ke Otto's. Saat itu, dia hanya ingin segelas cokelat panas dan sedikit makan. Beberapa quesadilla sudah cukup baginya. Sekilas dia melirik, gadis pramusaji itu masih ada di gilir kerja saat itu.
Waktu terasa lama saat ia menunggu.
Akhirnya, pesanan Harris datang. Seperti suatu kebetulan, yang membawa pesanannya adalah gadis pramusaji yang ditunggunya.
"Hai. Bagaimana kabarmu?""Oh, baik. Bagaimana denganmu?" "Baik. Aku sedang berlibur di sini. Rasanya menyenangkan, bisa lepas dari rutinitas sejenak.""Baguslah. Moga-moga kau menyukai kota kecil ini. Maaf, tapi aku harus segera ke meja lain.""Oh, tunggu. Bisa kita bertemu lagi setelah ini? Aku menginap di Silent West Motel, kamar nomor 2. Kuharap kita bisa bertemu lagi. Oh, dan bahkan aku belum tahu namamu."Sang pramusaji tersenyum tipis."Namaku Maria. Dan namamu?""Aku Harris. Harris Steed."
Harris tersenyum agak canggung, sedangkan senyum sang pramusaji tak ada yang bisa mengartikannya. Cokelat panas dan quesadilla telah tersaji, dan hari masih terasa amat panjang.***
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent West Motel
Mystery / ThrillerHarris Steed seolah mendapatkan momen kebebasannya. Ia merebut sabatikal/cuti panjang yang sudah ia idam-idamkan (dengan cara yang masih dipertanyakan). Ia melaju sejauh mungkin dari dunia lamanya, hingga suatu ketika ia berhenti di Route 285 Colora...
