"Oh, Anda sebetulnya bisa sarapan di sini. Tapi sayangnya, dapur kami sedang tutup--istriku sakit. Sayang sekali, seharusnya Anda bisa mencicipi resep maut istriku! Well, untuk saat ini, saya bisa menyarankan Otto's. Sangat dekat, cuma beberapa kaki ke arah selatan. Anda bisa jalan kaki ke sana." ujar Mr. Mason, sambil merapikan topi koboinya yang agak miring.
Harris berjalan keluar dari motel ke arah selatan. Udara pagi yang berhembus serasa tak nikmat dihirupnya. Masih terngiang kejadian perihal hewan malang itu.
Tak sampai 5 menit, Harris tiba di Otto's. Tempat makan sederhana yang sangat khas Amerika, begitu kesan Harris saat melihat keseluruhan bangunannya. Bangunannya berbentuk "rumah balok"--itu istilah karangan Harris sendiri, ia bingung menyebut bentuk rumah papan kayu sederhana--dengan cat putih dan aksen hijau tua. Ada kesan lawas sekaligus segar di sana.
Dia masuk, lalu disambut oleh salah seorang pegawainya yang sedang memakai topeng ayam. Harris sedikit kaget, dan merasa konyol setelahnya. Namun dalam hati dia mengapresiasi gestur selamat datang itu.
Dia melihat menu. Terlihat variannya tak banyak, tapi sudah lebih dari cukup bila sekadar untuk sarapan. Ada beraneka macam sandwich, termasuk burrito, quesadilla, juga ayam goreng. Cepat saji, siap santap, berenergi. Harris memesan The Original Chicken Sandwich--karena ia yakin bahwa itu resep khas dari Otto's, dan ia selalu senang mencicipi resep khas dari tiap tempat makan yang ia kunjungi. Untuk minumannya, ia memesan minuman soda Jarritos.
Tidak menunggu lama, pesanannya datang. Harris menikmati makanannya dengan perlahan, tanpa buru-buru. Tidak ada yang mengejarnya. Tidak ada kewajiban yang harus diselesaikan. Yang ada hanyalah liburan panjang yang perlu dia nikmati sepuas-puasnya. Saat masih tengah-tengah makan, Harris mendengar suara yang akrab dikenalnya.
"Hei, Harris!"
"Hei, Steve! Lama tak jumpa."
Harris bertemu dengan Steve Burrell, salah seorang kawan dekatnya di sekolah. Dia datang bersama keluarganya.
"Perkenalkan, ini istriku Sasha, dan putriku Wendy."
Sasha wanita yang nampak memberi nuansa cerah. Bersama Steve, mereka berdua bak mentari ilahiah di tengah-tengah kerumunan sosial manusia. Senyum hangat bersahabat dan gestur sosial yang membuat mereka mudah diterima siapa saja. Hal itu nampaknya juga diwarisi oleh putrinya yang berusia sekitar 8 tahun--dia bersikap sopan sambil menunjukkan keramahan.
"Omong-omong, setelah sarapan sebentar di sini, kami berencana untuk hiking ringan di Kenosha Pass. Ikutlah, Harris. Makin banyak orang akan makin menyenangkan!"
"Tapi, apa itu tidak akan merepotkan?"
"Hei, kau kawan lamaku! Tentu saja tidak masalah."
Seusai sarapan, mereka pun bergegas untuk berangkat. Dengan mengendarai Ford Escort yang andal, mereka berempat menempuh perjalanan 20 mil menuju Kenosha Pass.
Setelah kira-kira 20 menit, mereka tiba di sana. Hamparan pohon aspen terbentang sejauh mata memandang, dengan sebuah jalan terbentang seolah membelah hutan tersebut.
"Kita akan jalan di sini pelan saja. Nikmati suasananya. Nikmati pemandangannya." ujar Steve yang langsung mengambil tempat sebagai pemimpin rombongan.
Setelah sekian menit berjalan, Harris merasa nyaman. Hutan aspen di sekeliling mereka memberikan nuansa sunyi yang tidak mencekam, namun menenangkan. Mungkin para prospektor di masa lalu dengan karavan-karavannya sering melewati jalan hutan ini sambil membawa emas dan perak, pikir Harris sambil membayangkan masa-masa Barat Liar.
Harris tak pernah berpikir bisa berlibur bersama kawan lamanya sekeluarga. Baginya, ini pengalaman yang cukup menyenangkan.
Cuaca cerah saat itu, tapi tiba-tiba Harris melihat sesuatu yang berbeda. Kepalanya tiba-tiba sakit, dan penglihatannya menjadi buram sehingga sekelilingnya nampak seperti berkabut.Saat menengok ke belakang, tampak sesosok makhluk bergerak dengan sangat cepat ke arah mereka. Harris merasa mengenal makhluk itu. Ia seperti makhluk bertangan empat yang ada di mimpinya waktu itu.
"Awas!" Harris memekik. Tapi tak ada respon.
"Awas!"
"Hei, ada apa, kawan?" ujar Steve sambil mengguncang bahu Harris. Harris kebingungan, meski penglihatannya normal kembali. Sasha merangkul Wendy dan menatap Harris dengan pandangan khawatir.
"Ada apa barusan?"
"Kau terjatuh, kawan. Kukira kau pingsan tadi. Syukurlah ternyata masih sadar."
"Tapi, tadi ada sesuatu yang mengejarmu?"
"Kau bicara apa, kawan? Di sini sepi, tak ada apa-apa. Semua baik."
Meski ada gangguan kecil ini, perjalanan selanjutnya berlangsung baik. Mereka tiba di tepi bukit yang cukup tinggi untuk melihat kota-kota kecil Colorado terhampar di hadapan mereka. Steve merentangkan tangannya dan menghirup napas dalam-dalam.
"Ah, ini baru namanya aroma kebebasan."
Steve mencoba melakukan hal yang sama, dan ia merasa sangat lega kemudian.
"Sebentar lagi sore, Ayah. Mungkin sebaiknya kita mulai jalan kembali?" ujar Wendy.
Mereka semua pun berjalan di rute kembali, dengan langkah yang tenang namun lekas. Mereka masuk ke kendaraan dengan perasaan puas.
"Apa kalian menginap di sini nanti?" ujar Harris spontan.
"Ya, semalam saja. Besok kami mesti berangkat ke destinasi lain. Liburan kami tak lama, jadi harus dimanfaatkan sebaiknya. Terima kasih sudah mau menemani kami berlibur, Harris."
Harris diantar kembali ke motel. Dia melambaikan tangan pada keluarga Burrell dan mengucapkan terima kasih. Klakson Ford Escort dibarengi dengan lambaian tangan mereka sekeluarga turut menyambut ucapan perpisahan Harris.
"Sampai jumpa lagi!"
Senang rasanya bila bisa berlibur beramai-ramai seperti itu, pikir Harris. Namun, kini dia sendiri lagi.
Malam belum tiba. Matahari masih malu hendak tergelincir ke ufuk barat. Harris duduk di kamar motelnya. Ia menatap keluar jendela, bertanya-tanya kira-kira akan jadi seperti bagaimana bila akhirnya malam tiba di tempat ini. ***
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent West Motel
Misterio / SuspensoHarris Steed seolah mendapatkan momen kebebasannya. Ia merebut sabatikal/cuti panjang yang sudah ia idam-idamkan (dengan cara yang masih dipertanyakan). Ia melaju sejauh mungkin dari dunia lamanya, hingga suatu ketika ia berhenti di Route 285 Colora...
